HSBC, bank terbesar kedua di Eropa, sedang menjadi sorotan tajam. Melalui data Islamic Global Equity Index Fund yang merupakan dana investasi syariah terbesar di Inggris dengan total kelolaan aset melebihi $8 miliar (sekitar Rp125 triliun), bank ini diketahui menyalurkan dana investor Muslim ke sejumlah perusahaan raksasa yang menyokong operasi militer Israel.
Laporan ini pertama kali diangkat oleh Middle East Eye dan Hyphen, sebelum akhirnya dianalisis lebih mendalam oleh Al Jazeera. Sepanjang paruh pertama tahun 2026, dana syariah HSBC tersebut mencatatkan pembelian saham senilai lebih dari $130 juta (sekitar Rp2 triliun) di lima perusahaan teknologi dan pertahanan global.
Langkah ini memicu kritik keras dari para akademisi dan investor. Pasalnya, produk investasi tersebut dipasarkan sebagai portofolio etis yang bersih dari industri terlarang, termasuk perdagangan senjata.
Analisis terhadap portofolio HSBC Islamic Global Equity Index Fund menunjukkan bahwa dana investor dialokasikan ke sektor teknologi, intelijen, dan manufaktur persenjataan. Berikut rincian lima perusahaan yang menerima suntikan dana tersebut:
Perusahaan analitik data dan kecerdasan buatan (AI) asal Amerika Serikat ini menjalin kemitraan strategis dengan Kementerian Pertahanan Israel sejak Januari 2024 untuk mendukung misi militer. Laporan PBB pada Juni 2025 menyebutkan adanya indikasi kuat bahwa teknologi pemolisian prediktif dan sistem AI milik Palantir (seperti Lavender, Gospel, dan Where’s Daddy?) digunakan untuk memproses data dan menetapkan target serangan di Gaza. Perangkat lunak Palantir juga dikaitkan dengan kekeliruan penargetan serangan udara terhadap sebuah sekolah di Minab, Iran, pada 28 Februari yang menewaskan lebih dari 150 orang.
Sebagai produsen senjata terbesar kedua di dunia, konglomerat pertahanan AS ini membawahi Raytheon. Raytheon bekerja sama dengan perusahaan BUMN Israel, Rafael Advanced Defense Systems, untuk memproduksi rudal pencegat Tamir pada sistem Iron Dome serta mengembangkan sistem pertahanan rudal David’s Sling. Perusahaan ini juga memproduksi rudal Tomahawk, Patriot, dan komponen untuk jet tempur F-series.
Produsen semikonduktor asal AS ini membuat komponen elektronik yang digunakan pada amunisi berpanduan presisi dan sistem pengawasan. Menurut laporan media investigasi Irlandia The Ditch pada Juli 2025, anak perusahaan Analog Devices di Irlandia rutin mengirimkan komponen elektronik ke Elbit Systems, produsen senjata swasta terbesar di Israel.
Perusahaan ini merancang sensor dan perangkat pemandu target senjata. Investigasi Al Jazeera menemukan bahwa unit pemandu buatan Honeywell teridentifikasi pada sisa-sisa rudal yang menghancurkan Sekolah al-Sardi milik PBB di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, pada Juni 2024, serangan yang menewaskan sedikitnya 40 warga sipil.
Satu-satunya perusahaan asal Inggris dalam daftar ini memproduksi mesin dan sistem pendorong untuk kendaraan tempur. Melalui anak perusahaannya di Jerman (MTU Aero Engines) dan Rolls-Royce Solutions America, perusahaan ini memegang kontrak penyediaan unit mesin untuk tank Merkava serta kendaraan lapis baja Namer dan Eitan milik militer Israel.
Bagaimana perusahaan penyedia teknologi intelijen dan komponen persenjataan perang bisa lolos dari saringan investasi syariah?
HSBC mengeklaim bahwa pengelolaan dana ini diawasi oleh komite Syariah independen yang diisi oleh ulama internasional. Aturan dasarnya adalah memastikan portofolio investasi bebas dari perusahaan yang memiliki porsi pendapatan signifikan dari sektor terlarang, termasuk industri senjata. Namun, para pakar keuangan Islam menilai ada kelemahan mendasar pada metode penyaringan (screening) yang umum digunakan di industri saat ini.
Prosedur penyaringan standar biasanya hanya memeriksa kategori bisnis utama (primary business sector) dan rasio keuangan perusahaan. Metode ini tidak menelusuri rantai pasokan (supply chain) hingga penggunaan akhir (end-use) dari produk yang dihasilkan.
Muhammed Ebrahim, Profesor Keuangan di Durham University Business School, menjelaskan bahwa keterbatasan sistematis ini menimbulkan persoalan etika:
“Perusahaan yang terdaftar di kategori ‘teknologi’ atau ‘industri’ bisa saja lolos pemeriksaan bisnis biasa, padahal produk mereka akhirnya dipasang pada sistem senjata membahayakan. Prosedur penyaringan saat ini umumnya tidak menelusuri rantai pasokan untuk mengetahui apakah komponen yang dibuat berkontribusi pada jatuhnya korban sipil.”
Ebrahim menegaskan bahwa pemenuhan kriteria teknis (technical compliance) tidak otomatis mencerminkan kepatuhan etis (ethical fidelity). Penyaringan yang bersifat mekanis sering kali mengabaikan tujuan utama hukum Islam (Maqasid al-Shariah), terutama prinsip perlindungan jiwa (hifz al-nafs) dan penegakan keadilan (‘adl).
Sementara itu, Wahyu Jatmiko, dosen Keuangan Islam di Southampton Business School, menyoroti perbedaan standar antar-indeks pasar modal. Sebagai gambaran, Indeks Pasar Islam Dow Jones secara tegas mengeluarkan perusahaan pertahanan dari portofolio mereka, sedangkan standar Indeks Syariah S&P tidak langsung memblokir sektor tersebut.
“Terdapat ketidaksesuaian yang nyata antara batasan etis yang dijanjikan dengan realitas investasi di lapangan. Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh industri keuangan Islam. Label ‘Syariah’ membawa tanggung jawab moral dan ekspektasi etis yang jauh lebih tinggi daripada sekadar memenuhi kriteria formal,” ujar Wahyu Jatmiko.
Sebagian besar nasabah yang menempatkan dana di HSBC Islamic Global Equity Index Fund adalah investor individu dan peserta skema pensiun halal. Para investor ini memilih produk syariah dengan harapan modal mereka tidak digunakan untuk mendanai aktivitas yang merugikan masyarakat atau melanggar nilai-nilai kemanusiaan.
Menanggapi kritik yang berkembang, juru bicara HSBC menyatakan bahwa pihak manajemen sedang melakukan evaluasi:
“Kami memahami betapa pentingnya bagi dana seperti ini untuk mencerminkan nilai-nilai para investornya. Kami menanggapi setiap kekhawatiran klien secara serius dan akan meninjau masalah ini secara saksama bersama penasihat ahli independen untuk memastikan pendekatan kami tetap memenuhi harapan investor.”
Kasus ini menjadi peringatan penting bagi industri keuangan syariah global. Transparansi tata kelola, penelusuran rantai pasokan, serta penyelarasan antara aturan teknis dan tujuan etis menjadi hal mutlak untuk menjaga kepercayaan nasabah dalam pengelolaan dana investasi.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Yashraj Sharma, “How HSBC’s Islamic fund invested millions in Israeli war-linked firms”, Al Jazeera, October 19, 2026. https://www.aljazeera.com/news/2026/10/19/how-hsbcs-sharia-fund-invested-millions-in-israeli-war-linked-firms
Imran Mulla, “HSBC ‘sharia‑compliant’ fund spent over $100m on five Israeli military‑linked firms”, MEE, October 14, 2026. https://www.middleeasteye.net/news/hsbc-sharia-compliant-fund-spent-over-100m-on-five-israeli-military-linked-firms
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!