Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza memasuki babak yang makin mengkhawatirkan menjelang tibanya musim dingin keempat sejak perang meluas. Dewan Pengungsi Norwegia (Norwegian Refugee Council/NRC) mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi sekitar 1,65 juta warga Palestina. Mereka terancam harus bertahan hidup di bawah naungan tenda-tenda lapuk yang compang-camping serta sisa-sisa bangunan rusak akibat perang. Tanpa perlindungan tempat tinggal yang layak, jutaan pengungsi ini bakal langsung terpapar cuaca dingin ekstrem dan curah hujan tinggi.
Penderitaan yang melanda wilayah pesisir ini bukan sekadar dampak dari cuaca buruk, melainkan hasil langsung dari kebijakan pembatasan yang disengaja. Sekretaris Jenderal NRC, Jan Egeland, menegaskan bahwa krisis tempat tinggal di Gaza saat ini merupakan bentuk krisis kemanusiaan buatan manusia (man-made crisis).
Menurut Egeland, sangat tidak masuk akal mengharapkan warga terus bertahan di dalam tenda-tenda bobrok yang memang tidak pernah dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrem. Bantuan darurat harus segera disalurkan tanpa hambatan birokrasi maupun militer:
“Warga Palestina di Gaza tidak dapat diharapkan untuk menghabiskan musim dingin lagi di tenda-tenda yang robek dan bobrok yang tidak pernah dirancang untuk menahan kondisi seperti itu. Krisis ini bukanlah bencana alam yang tak terhindarkan, melainkan krisis kemanusiaan buatan manusia.”
Oleh karena itu, NRC mendesak kemudahan akses masuknya bantuan kemanusiaan serta pembukaan seluruh pintu perbatasan. Lembaga ini juga menyerukan kepada para donor internasional untuk segera mengucurkan dana guna merespons kebutuhan tempat tinggal yang kian mendesak.
Gambaran penderitaan musim dingin di Gaza bukanlah hal baru, melainkan tragedi berulang dari tahun-tahun sebelumnya yang terus terakumulasi. Ketika suhu malam hari merosot hingga di bawah 10°C (50°F), keluarga-keluarga pengungsi harus menghadapi kenyataan pahit tanpa adanya kebutuhan dasar untuk menjaga tubuh tetap hangat atau sehat.
Keparahan situasi ini menempatkan Wilayah Palestina yang Diduduki (oPt) di peringkat kedua dalam Daftar Pantauan Darurat (Emergency Watchlist) Komite Penyelamatan Internasional (International Rescue Committee/IRC), yang menggarisbawahi kondisi krisis berkepanjangan:
Faktor utama yang memperlambat penanganan krisis ini adalah ketatnya pembatasan akses masuk barang oleh otoritas Israel di pintu penyeberangan Kerem Shalom. Berdasarkan laporan kantor berita Palestina, Safa, otoritas terkait hanya mengizinkan sekitar 15 truk per minggu untuk membawa material tempat tinggal dari Yordania ke Jalur Gaza.
Material vital—seperti tenda, terpal plastik, dan alat perbaikan rumah—dikategorikan secara ketat sebagai barang “dwiguna” (dual-use items). Dampaknya, pengiriman material ini hanya diizinkan melintas satu hari dalam seminggu. Kebijakan ini memicu kemacetan logistik yang parah:
Akibat ketiadaan bahan bangunan ini, sekitar 65% populasi Gaza terpaksa menggantungkan hidup di tenda-tenda sementara yang perlu diganti secara berkala karena cepat rusak diterpa cuaca.
Sektor keuangan dan ketersediaan logistik bantuan internasional juga berada pada titik yang sangat kritis. Berdasarkan data NRC, diperkirakan ada sekitar 294.000 keluarga berisiko tinggi yang membutuhkan bantuan tempat tinggal darurat untuk menghadapi musim dingin kali ini. Untuk memenuhi respons tempat tinggal minimum tersebut, dibutuhkan total anggaran sebesar $283 juta.
Sayangnya, dukungan finansial dari komunitas internasional masih jauh dari kata mencukupi. Dari total anggaran yang dibutuhkan, para donor baru menyalurkan sekitar $96,2 juta atau hanya mencakup 34% dari keseluruhan target. Kesenjangan ini menciptakan defisit pendanaan yang sangat besar, yaitu mencapai $186,6 juta. Keterbatasan dana dan ketatnya jalur pasokan ini membuat stok material yang ada di lapangan saat ini hanya sanggup memberikan bantuan kepada sekitar 52.000 keluarga, menyisakan ratusan ribu keluarga lainnya tanpa perlindungan dasar.
Ancaman musim dingin di Gaza tidak berhenti pada suhu dingin, tetapi juga ancaman bencana banjir. Sekitar 950.000 pengungsi saat ini tinggal di lokasi pengungsian yang tergolong berisiko banjir tingkat sedang hingga tinggi.
Upaya memitigasi risiko banjir ini menemui jalan buntu akibat berbagai keterbatasan teknis dan wilayah:
Di tengah situasi yang serba terbatas, berbagai lembaga kemanusiaan terus berupaya mengintervensi krisis di lapangan. Nusantara Palestina Center (NPC) melalui Unit Palestina Care tengah mempersiapkan program bantuan Musim Dingin mendatang diantaranya Paket Shelter/Tenda Pengungsian, Paket Pakaian dan Selimut Hangat, Paket Hot Meals, Air Bersih, sembako dan gandum dan sebagainya untuk mendukung penduduk Gaza menghadapi krisis musim dingin yang akan datang.
Namun, tanpa adanya gencatan senjata yang berkelanjutan, pembukaan akses bantuan secara penuh, serta komitmen finansial yang nyata dari komunitas internasional, musim dingin keempat ini dipastikan akan menjadi ujian ketahanan hidup paling kelam bagi warga Jalur Gaza.

Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
International Committee of the Red Cross, “Gaza: Severe winter conditions compound humanitarian crisis for displaced Palestinians”, ICRC, January 19, 2026. https://www.icrc.org/en/article/gaza-severe-winter-conditions-compound-humanitarian-crisis-displaced-palestinians
Norwegian Refugee Council, Gaza: Israeli restrictions mean entry of winter shelter materials will take over seven months, NRC, October 5, 2026. https://www.nrc.no/news/2026/gaza-israeli-restrictions-mean-entry-of-winter-shelter-materials-will-take-over-seven-months
International Resque Committee, “What does winter in Gaza look like?”, IRC, December 20, 2024. https://www.rescue.org/article/what-does-winter-gaza-look