Jika Palestina Merdeka: Kemenangan atau Kiamat?

Sumber: Foto oleh Susan Fried, dikutip dari artikel “U.S. Imperialist Foreign Policy Undermines Domestic Civil Liberties”, Real Change, 23 April 2025.

Entah sejak kapan ketakutan akan kiamat mulai mengiringi wacana kemerdekaan Palestina. Banyak cuitan masyarakat yang menunjukkan kebimbangan antara meneruskan perjuangan kemerdekaan Palestina atau memilih berhenti saja karena khawatir akan terjadi kiamat. Anggapan ini kemungkinan besar datang dari sebuah hadits mengenai tanda menjelang kiamat yang salah satunya adalah dibebaskannya Baitul Maqdis yang kini terletak di tanah Palestina. Hadits tersebut berbunyi:

Dari ‘Auf bin Malik R.A. ia berkata, “Aku bertemu Nabi Muhammad SAW, saat terjadi perang Tabuk ketika sedang berada di tenda terbuat dari kulit yang disamak. Nabi bersabda, ‘Hitunglah enam perkara yang akan muncul menjelang Kiamat. Kematianku, dibebaskannya Baitul Maqdis, kematian masal yang menimpa kalian bagaikan penyakit yang menyerang kambing sehingga mati, melimpahnya harta kekayaan hingga seseorang diberi seratus dinar namun tetap murka, muncul fitnah sehingga tidak ada satupun rumah orang Arab melainkan akan dimasukinya, dan perjanjian antara kalian dengan Bani Al-Ashfar, lalu mereka mengkhianati perjanjian kemudian mereka datang membawa 80 panji, setiap panji membawahi 12.000 tentara.” (HR Bukhari).

Lantas adakah korelasi hadits tersebut dengan kiamat jika Palestina merdeka pada masa kini?

Palestina Pernah Merdeka dalam Sejarah

Peristiwa Sejarah Islam di Bulan Rajab, UAH: Mulai dari Isra Miraj hingga Pembebasan Al Aqsa oleh Salahuddin Al Ayyubi | Halaman 4
Ilustrasi pembebasan Palestina. Sumber: TvOneNews

Berdasarkan catatan sejarah, sebelum orang Yahudi datang ke Kota Yerusalem dan membangun kehidupan, tanah Palestina telah lebih dulu ditinggali suku Kanaan dari bangsa Arab selama 6.000 tahun. Wilayah ini dibangun sejak 2.100 tahun sebelum diutusnya Nabi Ibrahim dan 2.700 tahun sebelum diutusnya Nabi Musa yang ajaran Tauratnya dijadikan sumber keagamaan Yahudi. Orang-orang Yahudi Bani Israel baru datang ke tanah Palestina sejak masa Nabi Ya’qub.[1]

Tanah Palestina memang sering diperebutkan oleh banyak kekuasaan karena di sana terdapat bangunan suci bagi beberapa agama, yakni Islam, Yahudi, dan Kristen. Sejak 63 SM – 636 M, tanah Palestina dikuasai oleh Kerajaan Romawi sampai terjadinya Perang Yarmuk (636 M) antara pasukan Muslim dengan tentara Romawi Timur yang kemudian dimenangkan oleh pasukan Muslim. Inilah awal ekspansi kekhalifahan Islam ke luar Semenanjung Arab, terutama Yerusalem yang menjadi tujuan terpenting.[2] Penaklukan Yerusalem diawali dengan permintaan gencatan senjata damai dari penduduk kota, yang dipimpin oleh Patriark Sophronius, kepada Umar bin Khattab, setelah pasukan Muslim mengepung kota tersebut selama enam bulan sejak 636 M. Umar bin Khattab pun datang ke Yerusalem untuk membuka kunci gerbang bagi umat Islam dengan menerapkan prinsip toleransi. Selama periode inilah Yerusalem berada di bawah kekuasaan umat Islam.

Lalu meletuslah Perang Salib pertama pada 1095 M yang menjadikan Yerusalem berhasil ditaklukkan oleh Tentara Salib pada 1099 M. Tentara Salib memasuki Kota Yerusalem lalu membantai banyak orang Yahudi dan Islam. Pada masa ini, Yerusalem berada di bawah kekuasaan Tentara Salib. Seorang tokoh yang menyatukan wilayah-wilayah Muslim di bawah kekuasaannya pun muncul. Ia juga seseorang yang bertempur dengan Tentara Salib dan memenangkan Pertempuran Hattin pada 1187. Ia adalah Salahuddin Al Ayyubi, pendiri Dinasti Ayyubiyah. Bersama pasukan Muslim, ia menaklukkan banyak wilayah milik Tentara Salib, termasuk Yerusalem yang berhasil direbut kembali pada 1187 setelah melakukan pengepungan yang membuat pasukan Kristen menyerahkan kota tersebut.[3]

Kekhawatiran yang Melemahkan Perjuangan

Jika umat Islam mengingat sejarah perjalanan pembebasan Palestina di atas, maka berarti Palestina telah berhasil dibebaskan oleh umat Islam selama dua kali. Lalu, jika dikorelasikan dengan hadits sebelumnya mengenai tanda kiamat, itu artinya bukankah kiamat seharusnya sudah terjadi sejak pembebasan Baitul Maqdis saat itu? Namun, menafsirkan hadits pun tidaklah semudah kita cukup membaca secara literal saja.

Ini 5 Rahasia Palestina yang Sudah Tertulis dalam Al-Quran
Sumebr: Khazanah Riau

Ingat kembali dengan Q.S. Al-A’raf ayat 187 yang mana Allah telah menegaskan dengan firman-Nya, bahwa pengetahuan tentang kiamat hanya ada pada Allah.[4] Nabi Muhammad saja tidak mengetahui kapan terjadinya peristiwa besar tersebut, melainkan hanya diberitahukan tanda-tanda yang akan mengiringinya. Tanda-tanda yang disebutkan pun bahkan telah terjadi semasa Nabi Muhammad hidup yang terus berlanjut hingga sekarang. Namun, tidak ada yang dapat memastikan apakah pembebasan Baitul Maqdis di Palestina untuk saat ini adalah puncak tanda terjadinya hari kiamat. Sebab, dalam kurun historis pun sudah beberapa kali dibebaskan, tetapi apa yang dikhawatirkan pun tidak terjadi. Entah pada pembebasan keberapa yang akan mengiringi terjadinya kiamat, tetapi yang pasti adalah hanya Allah yang mengetahui ketetapan waktunya.

Kekhawatiran ini amat disayangkan jika menjadi alasan lemahnya kita dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Meski ketetapan hari kiamat adalah kewajiban yang harus diyakini setiap hamba-Nya, sungguh tidak etis rasanya jika kita sengaja tidak berjuang dan membiarkan penduduk Palestina terus nelangsa dalam dekapan kedzaliman Zionis, hanya karena takut kiamat.

Setelah Donasi, Mari Cintai Palestina dengan Ilmu!

Masalah yang menghinggapi kita hari ini adalah “Mengapa Palestina tidak kian merdeka? Saya bingung harus bagaimana lagi karena merasa upaya saya sia-sia”. Pertama, kita mestinya tidak bersikap tergesa-gesa dalam menghakimi Allah yang belum juga membebaskan tanah yang diberkati ini, meski kita melihat kondisi Palestina yang kian hari makin menggoreskan luka. Kedua, jangan sampai kita membatasi tindakan, karena berpikir bahwa hanya dengan berdonasi maka permasalahan pelik di Palestina terutama di Gaza akan kunjung selesai. Ternyata, ada yang lebih penting serta menjadi muara dari apapun tindakan kita, yakni ilmu.

Sudah saatnya kita mulai mencintai Palestina dengan ilmu. Ketika kita memahami akar permasalahan yang terjadi di sana, maka apapun bentuk tipu daya Zionis hari ini yang berupaya mengubah wacana keburukan Israel di mata publik, tidak akan membuat kita goyah. Sederhananya, agar energi dan strategi kita terarah, kita perlu memahami terlebih dahulu mengenai konsep circles of concern, influence, dan control. Korelasi konsep ini dengan perjuangan Palestina terinspirasi dari salah satu konten yang diunggah oleh @gen.saladin di Instagram, yang menekankan pentingnya berfokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan agar langkah kita dalam mendukung perjuangan Palestina menjadi lebih terarah dan berkelanjutan.

Pertama, circle of concern, yang berarti kita memahami bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa kita kendalikan dan berada di luar lingkup kendali kita. Situasi penjajahan dan peperangan merupakan salah satunya.[5] Termasuk dalam hal ini adalah keputusan Allah dalam membebaskan tanah Palestina dari cengkeraman Zionis. Itu bukanlah kendali kita. Namun, karena bukan kendali kita, tidak berarti kita bersikap acuh tak acuh. Memahami circle of concern membantu kita untuk tidak larut dalam keputusasaan, dan justru memusatkan energi pada hal-hal nyata yang bisa kita lakukan.

Kedua, circle of Influence, yang berarti kita dapat mengerjakan hal-hal yang bisa dikendalikan agar memberikan pengaruh terhadap sesuatu[6], meski hasilnya berada di luar kendali kita. Dalam konteks perjuangan Palestina, tindakan ini penting dilakukan agar upaya kita lebih terstruktur dengan dibekali strategi. Meski tidak tahu bagaimana hasilnya, kita tetap dapat melakukan hal-hal yang dapat memberikan pengaruh. Contohnya, dengan membuat postingan atau podcast yang dapat meningkatkan awareness publik terkait isu Palestina, menyelenggarakan aksi dan webinar demi mendukung kemerdekaan Palestina, bahkan sekedar menyampaikan informasi mengenai kondisi Gaza terkini kepada keluarga pun dapat membantu untuk membentuk opini mereka terkait Palestina. Dengan begitu, dukungan kita tidak lagi bersifat impulsif atau berbasis emosi sesaat, melainkan lahir dari kesadaran dan strategi jangka panjang.

Ketiga, yakni circle of control yang artinya kita dapat merespons dan mengendalikan sesuatu yang memang bisa dikendalikan dengan mencoba mengendalikan perilaku, pikiran, emosi, penilaian, dan interpretasi. Dalam konteks perjuangan Palestina, masing-masing individu dari diri kita dapat melakukan aksi boikot terhadap produk yang terafiliasi dan mendukung zionisme, selalu berusaha memverifikasi berita seputar Palestina agar tidak terjebak hoax dan projek Hasbara Israel, konsisten meningkatkan literasi tentang Palestina baik itu dengan mengikuti diskusi ataupun membaca buku, mendidik orang-orang di sekitar kita, serta membangun konsistensi dalam menyuarakan Palestina, sehingga kepedulian kita bukan hanya ketika trending saja.

Dengan demikian, jangan sampai kita membatasi diri untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina karena alasan takut terjadinya kiamat. Sesungguhnya, pengetahuan akan kiamat hanya pada Allah dan kapan pun dapat terjadi atas seizin-Nya. Entah pada pembebasan Baitul Maqdis keberapa, tetapi perlu diingat tanda-tanda kiamat juga ada banyak, bahkan sejak Nabi Muhammad serta periode kekhalifahan pun tanda-tandanya telah ada. Oleh karena itu, saatnya kita berfokus pada apa yang bisa kita lakukan dan kontribusikan untuk mempersiapkan kemerdekaan Palestina. Sebab, tanpa perjuangan kita pun sebenarnya Palestina akan kembali dimerdekakan atas izin-Nya. Maka, pertanyaannya adalah apakah kita termasuk salah satu dari pejuang tersebut?

Akhir kata, sudah saatnya kita naik level dalam perjuangan Palestina!

Penulis: Nadea Salsabila Putri (Mahasiswi Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah)

 

Sumber:

[1] Ali Mohtarom, “Kajian Hadis: Historiografi Yahudi – Israel Dan Muslim – Palestina,” Jurnal Mu’allim 4, no. 2 (2022): 342.

[2] Fawzy Al-Ghadiry, Sejarah Palestina (Temanggung: Desa Pustaka Indonesia, 2020), 44.

[3] Jehan Alfarra, “Remembering Saladin’s Liberation of Jerusalem,” Middle East Monitor, Oktober 2, 2020, https://www.middleeastmonitor.com/20201002-remembering-saladins-liberation-of-jerusalem/.

[4] Ilham Ibrahim, “Jika Palestina Merdeka, Benarkah Kiamat Semakin Dekat?,” Muhammadiyah, Oktober 20, 2023, https://muhammadiyah.or.id/2023/10/jika-palestina-merdeka-benarkah-kiamat-semakin-dekat/.

[5] Anna Katharina Schaffner, “Understanding the Circles of Control, Influence & Concern,” Positive Psychology, last modified Juni 1, 2023, https://positivepsychology.com/circles-of-influence/#:~:text=The%20circle%20of%20concern%20includes,69).

[6] Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People: Powerful Lessons in Personal Change (New York: Free Press, 1989), 83.

You might also like