Gaza, NPC – Jumlah truk komersial yang memasuki Jalur Gaza meloncat turun sebesar 53,5% pada bulan Oktober dibandingkan September. Penurunan tajam ini secara signifikan mengurangi arus barang ke pasar lokal.
Kondisi tersebut bertepatan dengan menyusutnya pasokan makanan dan barang konsumsi, kelangkaan yang terus berlarut, serta kenaikan harga barang pascapenutupan jalur penyeberangan untuk lalu lintas komersial selama lebih dari seminggu.
Statistik yang dirilis oleh Otoritas Penyeberangan dan Perbatasan menunjukkan bahwa hanya 1.758 truk komersial yang memasuki Jalur Gaza pada bulan Oktober, turun 2.023 truk dibandingkan September yang mencapai 3.781 truk. Total seluruh truk yang masuk—termasuk pengiriman komersial, bantuan kemanusiaan, dan bahan bakar—juga menyusut dari 5.265 menjadi 3.836 truk. Ini menandai penurunan sebesar 27,1% atau berkurang sebanyak 1.429 truk.
Sebaliknya, jumlah truk bantuan justru meningkat 45,9%, dari 1.244 truk pada September menjadi 1.815 truk pada Oktober. Pengiriman bahan bakar juga naik 9,6%, dari 240 menjadi 263 truk. Namun, peningkatan ini tetap tidak mampu mengimbangi penurunan tajam pada sektor komersial, yang selama ini menjadi sumber utama barang pasokan dan keragaman produk di pasar lokal.
Penurunan Pasokan Makanan dan Barang Pokok
Berdasarkan kategori barang, jumlah truk yang membawa pasokan bahan makanan turun 32,3% (berkurang 1.113 truk), dari 3.450 pada September menjadi 2.337 pada Oktober.
Truk yang mengangkut barang konsumsi dan perlengkapan rumah tangga juga merosot 37,2%, dari 1.273 menjadi 799 truk. Sementara itu, armada pengangkut peralatan dan pasokan medis mengalami penurunan 26,9%, dari 104 menjadi 76 truk.
Di sisi lain, truk yang membawa tenda tempat berlindung serta pasokan bantuan naik dari 139 menjadi 330 truk. Namun, pengangkutan pakan ternak dan benih anjlok 40%, dari 45 menjadi 27 truk. Truk pembawa atap seng bergelombang berkurang dari lima menjadi empat, dan statistik bulan Oktober mencatat tidak ada satu pun truk khusus yang ditugaskan mengangkut air bersih, padahal terdapat sembilan truk pada bulan September.
Angka-angka ini mencerminkan kian melebarnya jurang kelangkaan barang komersial di Jalur Gaza, terlepas dari meningkatnya arus truk bantuan. Dampak penurunan ini tidak hanya terbatas pada berkurangnya volume barang masuk, tetapi juga memangkas variasi produk di pasaran serta melumpuhkan kemampuan pedagang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Lonjakan Harga dan Tekanan Ekonomi
Perkembangan ini memperparah kondisi pasar lokal yang masih terus memburu barang-barang kebutuhan pokok. Krisis ini memicu lonjakan harga di tengah merosotnya daya beli warga akibat perang, kehancuran aktivitas ekonomi, dan hilangnya mata pencaharian.
Penurunan impor komersial membuat ketersediaan barang di tingkat konsumen semakin tipis dan membatasi pedagang dalam memperbarui stok yang habis. Hal ini makin memperberat beban pasar, mengingat ketergantungan Gaza yang sangat besar terhadap produk impor akibat hancurnya produksi lokal.
Dampak penutupan jalur penyeberangan Kerem Shalom—satu-satunya akses komersial yang menghubungkan Gaza dengan dunia luar—terus mencekik kondisi ekonomi pasar. Kelangkaan pasokan yang berkepanjangan membuat harga barang melonjak dan memperburuk kondisi hidup penduduk.
Perbandingan antara bulan September dan Oktober menyoroti skala kemerosotan aktivitas komersial yang mengkhawatirkan: arus truk komersial pangkas lebih dari separuh, sementara total keseluruhan truk masuk berkurang lebih dari seperempat. Fenomena ini menegaskan besarnya tantangan yang dihadapi pasar lokal dan mendesaknya pemulihan arus barang komersial secara teratur untuk menekan lonjakan harga serta meringankan beban biaya hidup warga.
(T.RA/S: The New Arab)
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!