Gaza, NPC – Kebutuhan kemanusiaan di Jalur Gaza berada pada tingkatan yang sangat memprihatinkan di tengah gempuran serangan udara dan aktivitas militer yang terus berlangsung. Kondisi ini diperparah oleh krisis air bersih, kelumpuhan layanan sanitasi dasar, kelangkaan pasokan medis darurat, serta ketatnya pembatasan masuknya material hunian, peralatan, mesin, hingga barang esensial seperti generator, suku cadang, dan oli mesin.
Laporan pada bagian ini mencakup periode 14 hingga 20 September, kecuali dinyatakan lain.
Sederet kendala tersebut, ditambah dengan krisis pendanaan yang parah, melumpuhkan kemampuan lembaga kemanusiaan dalam membantu warga bersiap menghadapi musim hujan. Berdasarkan penilaian terbaru Klaster Tempat Tinggal (Shelter Cluster), sebanyak 94 persen populasi Gaza sangat membutuhkan bantuan hunian dan kebutuhan rumah tangga dasar. Selain itu, 65 persen rumah tangga terpaksa bertahan hidup di dalam tenda-tenda darurat yang hampir tidak mampu melindungi mereka dari cuaca ekstrem.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza yang beroperasi di bawah otoritas de facto, sebanyak 24 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia antara 16 hingga 23 September—termasuk korban yang meninggal akibat luka berat dan korban yang jasadnya berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan—sementara 126 orang lainnya luka-luka. Angka ini menambah total korban jiwa sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025 menjadi 1.402 meninggal dunia dan 4,881 luka-luka. Secara terpisah, sebanyak 85 korban meninggal dunia lainnya ditambahkan secara retroaktif ke dalam akumulasi data setelah identitas mereka diverifikasi oleh Kementerian Kesehatan.
Pada 14 September, OCHA bersama mitra kemanusiaan mengunjungi tiga lokasi pengungsian darurat di Khan Younis dan satu lokasi di Rafah yang secara total menampung sekitar 1,200 rumah tangga. Di seluruh lokasi tersebut, keluarga pengungsi melaporkan ketimpangan bantuan hunian dan barang non-pangan (NFI). Warga sangat membutuhkan penggantian atau penguatan tenda-tenda yang mulai rusak sebelum musim dingin tiba, akses air bersih, fasilitas sanitasi—termasuk ketiadaan toilet yang mudah diakses bagi penyandang disabilitas atau korban amputasi—serta bantuan pangan dan nutrisi anak.
Masalah penumpukan sampah yang memicu perbiakan hama tikus, ketiadaan penerangan kawasan, dan lumpuhnya layanan pendidikan turut menambah penderitaan pengungsi. Di lokasi pengungsian Dahab, Rafah, warga menyoroti ancaman keselamatan sebagai kecemasan utama akibat kerap terjadinya insiden penembakan dan situasi keamanan yang tidak menentu.
Hal ini diperparah oleh krisis kesehatan yang krusial, mulai dari minimnya pasokan pertolongan pertama dan perawatan luka di pos medis terdekat, merebaknya infeksi kulit, hingga sulitnya mendapatkan pasokan insulin bagi anak penderita diabetes. Dalam kunjungan tersebut, tim kemanusiaan juga mengidentifikasi dua lokasi tambahan yang memerlukan penanganan khusus menjelang musim dingin akibat tingginya risiko banjir dan potensi amblesnya tanah saat curah hujan tinggi.
Keesokan harinya, OCHA meninjau tiga lokasi pengungsian darurat di Jabalya, Gaza Utara, yang dihuni oleh 293 rumah tangga. Penilaian di lapangan kembali menemukan kebutuhan mendasar yang belum terpenuhi. Minimnya kehadiran lembaga kemanusiaan secara rutin serta sulitnya warga menjangkau titik-titik layanan di luar area pengungsian kian membatasi penyaluran bantuan. Lokasi pengungsian yang berada dekat dengan garis batas (“Yellow Line”) memperbesar risiko keselamatan dan membatasi ruang gerak warga.
Sejumlah prioritas utama di tiga lokasi tersebut meliputi: akses terhadap air minum dan air bersih rumah tangga yang aman, perbaikan layanan sanitasi dan kebersihan, penggantian atau pembenahan tenda-tenda rusak sebelum musim dingin, akses ke layanan kesehatan primer, darurat, serta kesehatan ibu dan reproduksi, bantuan pangan dan nutrisi, pembentukan ruang belajar sementara, dukungan bagi penyandang disabilitas, termasuk penyaluran alat bantu, kegiatan mitigasi risiko bahan peledak.
OCHA telah menyampaikan poin-poin kebutuhan utama ini kepada seluruh klaster terkait untuk mendongkrak penyaluran bantuan yang tepat sasaran, disesuaikan dengan izin akses dan ketersediaan logistik di lapangan.
Tahun Ajaran Baru Dimulai
Di Gaza, tahun ajaran baru dimulai pada 19 September di tengah keterbatasan operasional yang berat. Berdasarkan pemetaan terbaru Klaster Pendidikan (Education Cluster), sekitar 495.000 anak usia pra-sekolah dan sekolah terdaftar di titik-titik belajar yang didukung oleh PBB dan mitra kemanusiaan. Dari jumlah tersebut, hampir 67 persen menghadiri 200 pusat belajar yang dikelola UNICEF. Sebanyak 70.000 anak lainnya dilaporkan belajar di ruang-ruang komunitas dan swasta, sementara sekitar 200.000 anak diperkirakan masih belum mendapatkan akses ke bentuk pendidikan terstruktur apa pun.
Pada awal tahun ajaran, mitra pendidikan meningkatkan distribusi perlengkapan sekolah dengan membagikan tas punggung kepada 293.625 anak dan alat tulis dasar kepada 71.146 anak. Meski demikian, jurang kebutuhan yang belum tertangani masih sangat besar dan membutuhkan suntikan dana tambahan untuk pengadaan barang.
Hingga saat ini, Klaster Pendidikan baru menerima 13 persen dari total dana sebesar 170,8 juta atau sekitar 3,05 triliun rupiah yang diajukan dalam Imbauan Kilat (Flash Appeal) OPT 2026. Kondisi ini mengancam keberlanjutan 687 ruang belajar sementara yang saat ini beroperasi. Pendanaan yang berkelanjutan dan berjangka panjang sangat krusial untuk menjaga agar fasilitas ini tetap buka dan dapat memperluas jangkauan ke anak-anak yang belum tersentuh pendidikan.
Menjelang pembukaan sekolah, Program Pembangunan PBB (UNDP) melaporkan telah membersihkan puing-puing bangunan di 20 sekolah, empat universitas, dan 19 titik pendidikan untuk membantu memulihkan akses bagi para siswa. Pada saat yang sama, Klaster Pendidikan merenovasi dan membersihkan 165 ruang kelas di 14 sekolah di seluruh Gaza guna menyambut dimulainya kegiatan belajar-mengajar.
Pembatasan Akses Air Bersih
Akses terhadap air bersih, sanitasi, dan kebersihan (WASH) di seluruh Jalur Gaza masih berada dalam kondisi kritis akibat kendala operasional dan krisis dana yang membahayakan kelangsungan layanan dasar. Selama periode pelaporan, tiga saluran air Mekorot dari Israel hanya menyuplai sekitar 60 persen dari kapasitas kontrak (turun 40 persen) akibat tumbuhnya alga laut yang mengganggu kinerja instalasi desalinasi di Israel. Di Deir al Balah, Instalasi Desalinasi Al Basa juga beroperasi terbatas akibat kerusakan pada sistem pemompaan pembuangan (brine-pumping) serta penggunaan generator yang melebihi kapasitas. Mitra kemanusiaan kini berupaya meningkatkan produksi air melalui sumur air tanah untuk menutupi kekurangan tersebut.
Sementara itu, pembatasan ketat yang terus berlanjut terhadap masuknya peralatan, generator, suku cadang, dan bahan konsumsi esensial—ditambah krisis pendanaan bahan bakar—mengancam penghentian total operasional WASH. Menjelang musim dingin, ketidakmampuan mengoperasikan dan merawat sistem pembuangan limbah serta saluran air hujan berisiko memicu banjir besar dan ancaman kesehatan masyarakat, khususnya bagi ratusan ribu pengungsi yang tinggal di penampungan darurat.
Pada 16 September, Uni Emirat Arab memasukkan sembilan truk air ke Gaza untuk memperkuat armada distribusi air tangki ke lokasi pengungsian dan permukiman warga. Pada hari yang sama, mitra WASH memasukkan 882 liter oli mesin; distribusi ke fasilitas WASH publik sedang berlangsung meskipun jumlah tersebut masih sangat jauh dari total kebutuhan.
Sepanjang Agustus, mitra kesehatan mengumpulkan 938 sampel air di seluruh Gaza untuk diuji pada tujuh laboratorium pemantauan kualitas air yang masih berfungsi. Hasilnya, lebih dari 73 persen sampel tidak memenuhi standar kadar klorin bebas yang direkomendasikan WHO, sementara 18 persen sampel menunjukkan kontaminasi mikrobiologis. Merespons temuan tersebut, mitra kemanusiaan telah melakukan tindakan korektif di 36 titik, termasuk di fasilitas kesehatan, instalasi desalinasi, jaringan pipa munisipal, dan lokasi berisiko tinggi lainnya.
Ketersediaan air aman di dalam fasilitas kesehatan masih menjadi persoalan krusial. Beberapa fasilitas tidak memiliki sistem klorinasi mandiri atau memiliki sistem yang rusak dan memerlukan pembenahan. Namun, pembatasan berulang terhadap masuknya klorin, perlengkapan WASH esensial, dan suku cadang terus menghambat upaya perbaikan dan pengolahan air bersih.
Kendala Persiapan Musim Hujan
Menjelang datangnya musim hujan, Klaster Manajemen Lokasi (Site Management Cluster) tengah memeriksa secara fisik 451 lokasi pengungsian yang teridentifikasi berisiko tinggi diterjang banjir. Peninjauan ini dilakukan untuk menguji kelayakan penerapan langkah-langkah pencegahan banjir di area yang dihuni oleh sekitar 464.402 jiwa tersebut. Jika upaya mitigasi lokal dinilai tidak memungkinkan atau tidak memadai, mitra kemanusiaan akan memfasilitasi relokasi sukarela bagi rumah tangga terdampak.
Sejak awal September, guna melindungi warga Palestina dari sengatan cuaca dingin ekstrem di dalam tenda, mitra kemanusiaan telah memasang 169 tenda berkinerja tinggi yang difungsikan sebagai titik pemanas komunitas (community heating points) di 88 lokasi pengungsian yang menampung sekitar 220.000 jiwa. Ribuan titik pemanas tambahan sangat mendesak untuk didirikan, namun hal ini bergantung pada pasokan tenda berkualitas tinggi, paket hunian darurat, pemanas yang memadai, serta jaminan pasokan bahan bakar harian.
Kesenjangan bantuan ini kian diperparah oleh krisis dana yang tajam. Per 18 September, Klaster Manajemen Lokasi dan Klaster Tempat Tinggal baru menerima masing-masing 2 persen dan 26 persen dari total US193,7 million yang diajukan dalam Imbauan Kilat OPT 2026. Defisit ini menghambat proses pengadaan material secara tepat waktu dan mengancam kontinuitas bantuan musim dingin saat stok yang ada mulai habis.
Stok bantuan yang tersedia, telah dibeli, maupun yang sedang dalam proses pengadaan oleh anggota klaster saat ini mencakup sekitar 17.000 tenda, terpal, dan paket penutup dinding untuk sekitar 50.000 rumah tangga, paket pakaian musim dingin untuk 9,000 rumah tangga, serta perlengkapan tidur untuk sekitar 50.000 rumah tangga. Meski bantuan tambahan dapat mengalir melalui saluran bilateral dan sektor swasta, jumlah tersebut masih belum sebanding dengan besarnya skala kebutuhan di Gaza.
Tenda-tenda yang mulai aus, buruknya saluran drainase, risiko banjir, keterbatasan alas tidur dan pakaian hangat, minimnya penerangan, pemanas dan kompor yang tidak aman, serta kondisi sanitasi yang memburuk kian memperbesar risiko keselamatan warga, terutama anak-anak. Diperkirakan 650.000 anak di Gaza membutuhkan bantuan perlindungan anak khusus musim dingin.
Lebih dari 450 ruang ramah anak dan ruang aman saat ini beroperasi di Gaza—dengan lebih dari 90 persen di antaranya berada di dalam tenda atau struktur sementara—yang melayani sekitar 10.000 hingga 15.000 anak setiap minggunya. Namun, fasilitas ini sangat rentan terhadap terpaan hujan, banjir, kerusakan akibat angin kencang, cuaca dingin, serta kendala akses.
Hasil survei mitra menunjukkan bahwa minimnya dana mulai berdampak pada penghentian atau pengurangan operasional layanan perlindungan anak, ruang aman, dan tim keliling di lapangan. Masalah transportasi, keterbatasan ketersediaan barang, gudang penyimpanan, serta kelangkaan bahan bakar menjadi hambatan utama dalam distribusi logistik.
UNICEF saat ini menjadi satu-satunya aktor yang mampu memasukkan logistik musim dingin khusus anak-anak dalam skala besar ke Gaza melalui saluran pasokannya, sementara mitra lokal mendukung pendataan, pendaftaran, pelibatan komunitas, distribusi, rujukan, hingga pemantauan. Penyaluran bantuan barang ini harus diimbangi dengan dana operasional yang memadai guna memastikan bantuan musim dingin benar-benar sampai ke tangan anak-anak, serta memastikan keberlanjutan layanan kesehatan mental dan dukungan psikososial (MHPSS), manajemen kasus, dan rujukan medis sepanjang musim dingin.
Pasokan Medis untuk Penyakit Tidak Menular
Klaster Kesehatan (Health Cluster) melaporkan bahwa kelangkaan pasokan medis yang mengancam nyawa terus melanda penanganan spesialis kanker, termasuk krisis obat kemoterapi dan fasilitas radioterapi. Sementara itu, layanan diagnostik terganggu parah akibat keterbatasan oli generator, suku cadang, serta bahan medis habis pakai.
Di Rumah Sakit Al-Ahli, layanan mamografi dan pemindaian CT-Scan terpaksa dihentikan total, yang membuat Kota Gaza kini nyaris tanpa fasilitas diagnostik kanker payudara. RS Al-Quds milik Bulan Sabit Merah Palestina memang masih mengoperasikan layanan mamografi, namun dengan kapasitas yang sangat terbatas.
Di saat yang sama, kelangkaan natrium bikarbonat medis dan tabung filter dialisis (dialysis cartridges) kian mengancam keberlanjutan layanan cuci darah (hemodialisis) yang sangat vital. Penderita diabetes Tipe 1 juga menghadapi krisis pasokan analog insulin yang parah—kondisi yang mempertinggi risiko komplikasi akut dan memburuknya kontrol gula darah pasien. Situasi ini menggarisbawahi mendesaknya pasokan berlanjut untuk logistik ginjal dan diabetes.
Selama periode pelaporan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendukung distribusi alat pencatatan dan pelaporan penyakit tidak menular (PTM), termasuk buku log PTM, bagan penilaian risiko kardiovaskular, serta protokol penanganan hipertensi guna memperkuat standar perawatan dan pemantauan pasien. Pelatihan kapasitas bagi staf Kementerian Kesehatan, UNRWA, dan mitra kesehatan lainnya juga terus ditingkatkan. Namun, minimnya pasokan obat-obatan dan logistik krusial tetap menjadi ganjalan utama dalam deteksi dini dan pengobatan PTM di Gaza.
Kendala Distribusi Logistik Masuk
Berdasarkan data Klaster Logistik (Logistics Cluster), tingkat bongkar muat bantuan PBB dan mitra kemanusiaan—yakni rasio truk yang berhasil dibongkar muatannya di Perlintasan Kerem Shalom dibandingkan dengan jumlah yang diizinkan masuk setiap harinya—merosot tajam menjadi 52 persen, turun dari 70 persen pada periode sebelumnya. Angka ini menunjukkan penurunan drastis dari akhir Agustus lalu yang sempat menyentuh 86 persen.
Koridor Mesir menjadi rute dengan tingkat penolakan dan pengembalian truk tertinggi, di mana tingkat bongkar muatnya merosot drastis hingga tersisa 21 persen, dari 35 persen pada pekan sebelumnya. Sebanyak 72 persen dari truk yang ditolak dan dikembalikan tersebut dilaporkan tanpa disertai alasan yang jelas oleh pihak otoritas.
Sementara itu, koridor Yordania menjadi rute masuk yang paling banyak dimanfaatkan untuk kargo kemanusiaan PBB dan mitra, menyumbang hampir 40 persen dari total truk yang berhasil dibongkar muatannya di Kerem Shalom. Di sisi lain, rute Ashdod hanya menyumbang 17 persen dari total muatan yang sampai ke Kerem Shalom akibat kendala teknis pada mesin pemindai (scanner).
Rendahnya tingkat bongkar muat di koridor Mesir berdampak langsung pada ketersediaan bahan baku dapur umum. Pada 16 September, mitra Sektor Ketahanan Pangan terpaksa menghentikan produksi sekitar 50.000 porsi makanan akibat kelangkaan bahan baku, disusul pengurangan 25.000 porsi makanan lagi pada 17 September.
Meskipun pemangkasan tersebut bersifat sementara—dengan komitmen mitra untuk memulihkan kapasitas produksi normal pada pekan 21 September setelah beberapa truk berhasil dibongkar pada 17 September—risiko pemangkasan susulan tetap mengintai jika aliran bantuan ke Gaza terus tersendat.
Dari sektor komersial, data Kamar Dagang Gaza yang dihimpun Kelompok Kerja Bantuan Tunai (Cash Working Group) mencatat bahwa sektor swasta berhasil memasukkan 853 truk komersial ke Jalur Gaza antara 14 hingga 20 September.
Dari total muatan tersebut 52 persen mengangkut bahan pangan (termasuk protein, buah, dan sayuran), 12 persen mengangkut material tempat tinggal, 5 persen mengangkut perlengkapan kebersihan (hygiene items), 2 persen mengangkut gas elpiji, 1 persen mengangkut pakan ternak, dan sisanya mengangkut alat tulis, obat-obatan, dan pasokan medis.
Hal yang memprihatinkan, sebanyak 26 persen muatan komersial lainnya masih didominasi oleh barang-barang non-esensial. Menurut data tersebut, kondisi ini makin mempersempit ruang masuk bagi komoditas sektor vital yang sangat dibutuhkan untuk menanggulangi krisis kemanusiaan.
Lonjakan Inflasi dan Kerentanan Pasar
Berdasarkan pemantauan pasar oleh Kelompok Kerja Bantuan Tunai, tingkat inflasi di Gaza tetap melambung tinggi, mencapai sekitar 207 persen di atas level sebelum Oktober 2023.
Meskipun harga mayoritas bahan pokok relatif stabil dibandingkan pekan sebelumnya, harga komoditas tomat melonjak hingga 31 persen. Sebaliknya, harga rata-rata satu karung tepung terigu ukuran 25 kilogram turun 18 persen dari lonjakan pekan lalu menjadi sekitar 52 Shekel Baru Israel (ILS) atau sekitar 301.739 rupiah. Penurunan harga tepung ini didorong oleh bertambahnya pasokan komersial yang berbarengan dengan distribusi bantuan tepung kemanusiaan serta pasokan bagi toko-toko roti.
Sejak penutupan Perlintasan Zikim di utara Gaza pada 24 Mei, Kerem Shalom menjadi satu-satunya pintu masuk operasional yang tersisa untuk kargo logistik. Kondisi tunggal ini membuat stabilitas pasar sangat rentan, di mana setiap gangguan pada arus kargo akan berdampak domino terhadap ketersediaan barang-barang esensial di seluruh Jalur Gaza.
Sebagai catatan PBB hanya dapat mengonfirmasi masuknya pasokan bantuan yang terintegrasi dan terlacak melalui mekanisme PBB 2720. Rincian data terkait dapat diakses melalui dasbor daring UN 2720 Mechanism Dashboard.
Korban Jiwa Terus Bertambah di Tengah Gencatan Senjata
Sementara itu, meskipun gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025, korban jiwa dan luka di Gaza terus bertambah akibat serangan yang dilakukan Israel. Menurut laporan terbaru Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), hingga 23 September 2026 Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 1.402 penduduk Palestina meninggal dunia dan 4.881 lainnya terluka sejak pengumuman gencatan senjata.
Angka dari sumber Palestina yang lebih mutakhir menunjukkan jumlah tersebut kembali meningkat. WAFA, mengutip sumber medis Palestina, melaporkan pada 29 September 2026 bahwa korban jiwa akibat serangan Israel yang terus dilakukan sejak gencatan senjata telah mencapai 1.417 orang, sementara 4.964 orang terluka. Sebanyak 834 jenazah juga telah ditemukan dari bawah reruntuhan dalam periode tersebut. Sumber yang sama menyebut masih terdapat korban yang terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan yang belum dapat dijangkau tim penyelamat.