
Masih ingatkah kalian dengan bukti yang dipamerkan IDF di Rumah Sakit Rantisi, Gaza? Sebuah kalender biasa berisi hari yang ditempel di dinding, tiba-tiba diklaim sebagai hari-hari pembantaian sejak 7 Oktober dengan judul “Operation Al-Aqsa Flood” yang mereka percayai terdapat list nama anggota Hamas yang bertugas. Cuitan ini mengundang netizen membeberkan fakta sebenarnya yang akhirnya IDF dipermalukan oleh kenyataan.
Inilah Hasbara, strategi propaganda Israel yang tak hanya membentuk opini, tetapi juga menciptakan narasi bohong. Mereka berupaya membalikkan realitas: dari penjajah menjadi korban, dari agresor menjadi yang tertindas.

Hasbara yang dalam bahasa Ibrani artinya “menjelaskan”, merupakan sebuah proyek yang dipopulerkan oleh aktivis dan jurnalis Zionis Polandia bernama Nahum Sokolow sejak awal abad ke-20. Hasbara bertujuan agar publik membenarkan tindakan dan kebijakan yang kontroversial Israel atas penduduk Palestina melalui serangkaian distorsi informasi dan rekayasa media. Oleh karena itu, tidak heran jika kita sering melihat Israel menuduh Hamas sebagai kelompok teroris yang memanfaatkan rumah sakit, sekolah, bahkan merekrut anak-anak demi melancarkan serangan terhadap Israel.[1]
Edward Said, seorang Profesor pendiri bidang studi pascakolonial, mengungkap berbagai upaya Israel dalam melakukan misinformasi. Melalui proyek Hasbara, Israel membuat pemalsuan sejarah besar-besaran, sehingga publik merasa tindakan yang dilakukan Israel adalah benar karena mereka hanyalah korban dari aksi terorisme penduduk Palestina. Opini ini mengarah pada pernyataan bahwa alasan orang-orang Arab dan Muslim, atau bahkan masyarakat di seluruh dunia yang membenci Israel adalah karena kebencian terhadap orang Yahudi,[2] atau yang mereka sebut dengan antisemitisme.
Diskursus Hasbara, sebagaimana dibentuk sejak awal abad ke-20, berarti bukanlah fenomena yang baru-baru ini muncul. Penyebaran informasi bohong dan rekayasa media ini semakin melejit bersamaan dengan meningkatnya penggunaan media sosial di seluruh dunia. Tak main-main, Israel telah mengucurkan dana ratusan juta dolar demi kesuksesan proyek ini. Artinya, propaganda Israel akan lebih mudah menjangkau siapapun pemilik media sosial, tanpa memandang usia. Alhasil, terjadilah kebingungan di tengah-tengah masyarakat dunia.
Kepada Israel atau Palestina mereka harus berpihak?
Ataukah bersikap netral lebih baik?
Dengan demikian, ketidakpahaman akan sejarah akan membuat kita terperangkap pada jebakan Hasbara ini. Lebih lanjut, Edward Said menuliskan trik apa saja yang dikembangkan oleh proyek Hasbara. Beberapa diantaranya:[3]
Pihak Israel juga menargetkan mahasiswa sebagai bagian dari akademisi dan intelektual dengan menawarkan sejumlah beasiswa. Kita tahu bahwa beasiswa merupakan hal yang banyak dicari oleh mahasiswa agar dapat berkuliah tanpa biaya. Namun, jelas ini tak gratis. Penerima beasiswa akan diajak untuk mendatangi Israel dan dilatih agar menjadi aktivis yang pro-Israel.
Israel menyebutnya “masa perang” sejak kejadian 7 Oktober 2023 kemarin. Peristiwa tersebut mendorong pemerintah Israel untuk mengimbangi pengeluaran masa perang dan perlambatan ekonomi, dengan menaikkan pajak dan memotong anggaran pada layanan publik. Hal ini dilakukan dalam rangka menanggulangi penyusutan ekonomi Israel akibat pendudukannya di Gaza. Namun, anggaran yang digelontorkan untuk upaya advokasi pro-Israel atau yang disebut Hasbara ini justru ditambahkan. Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan akan mengalokasikan dana sebesar $150 juta atau sekitar Rp 2.470.725.000.000 (dua triliun empat ratus tujuh puluh milyar tujuh ratus dua puluh lima juta) untuk proyek Hasbara pada 2025. Hal ini sebagai bagian dari diplomasi publik dan pemulihan citra Israel setelah aksi-aksi genosida yang dilakukannya. Jumlah ini lebih besar 20 kali lipat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Netanyahu selaku Perdana Menteri Israel menegaskan,a bahwa alokasi dana itu akan digunakan untuk mempengaruhi sentimen di pers asing dan di media sosial.[4]
Pemerintah Israel paham situasi dunia saat ini, terutama di kampus-kampus dan jalanan Amerika yang beberapa tahun terakhir ini banyak dilakukan aksi demonstrasi untuk mengutuk genosida Israel terhadap Palestina. Aksi pro-Palestina juga digaungkan oleh banyak penduduk di berbagai negara di dunia. Oleh karena itu, pemerintah Israel mengadakan sesi diskusi dengan berbagai individu dan kelompok demi menyukseskan advokasi pro-Israel di seluruh dunia. Pesertanya bukan hanya dari kalangan para pejabat kenegaraan, melainkan juga influencer media, pendukung hasbara profesional, tokoh budaya, dan perwakilan kelompok-kelompok Yahudi.[5]
Salah satu dari sekian banyak upaya Hasbara seiring dengan pesatnya teknologi adalah merilis website dan aplikasi bernama HasbaraApp. Kehadiran platform ini bertujuan untuk menyampaikan “kebenaran” versi mereka. Israel menyadari posisinya seringkali ditentang oleh banyak warga dunia, sehingga aplikasi ini diharapkan dapat membantah anggapan dunia yang menuduh Israel adalah penjajah. Salah satu amunisinya yaitu sebuah buku dengan judul 300 Questions in 300 Words yang dapat dibeli oleh siapapun melalui website HasbaraApp. Bagi Israel, siapapun yang membenci orang-orang Israel adalah suatu tindakan kebencian ras, antisemitisme. Menjadi suatu catatan penting untuk memahami gerak-gerik Israel yang selalu merekayasa narasi pemberitaan demi menarik simpati global.
Upaya distorsi narasi media yang dilakukan Israel semakin membuka mata masyarakat dunia, meskipun masih banyak pihak-pihak yang terus memutar balikan fakta. Para jurnalis yang menceritakan kejadian selama mereka di lapangan, menyaksikan peristiwa secara langsung dengan mata kepala sendiri melalui media yang berada di luar kendali redaksi pusat. Mereka menyaksikan mulai dari sebelum pengeboman, hingga setelah pengeboman.

Seorang jurnalis menyaksikan bagaimana orang-orang Israel berkumpul di puncak bukit yang kemudian bersorak atas pengeboman Israel di lingkungan Gaza. Adapula yang menyaksikan empat anak yang sedang bermain bola di pantai kemudian ditembak oleh angkatan laut Israel. Laporan-laporan jurnalis dan wartawan yang merasakan peristiwa genosida Israel secara langsung menciptakan jurang yang cukup terjal antara upaya Hasbara Israel dengan apa yang mereka saksikan. Hal ini menjadi sebuah keambiguan. Juru bicara Israel pun menghadapi kebingungan untuk menjelaskan apa yang telah mereka lakukan.[6] Meski demikian, upaya Hasbara dengan masif terus dilakukan terutama dengan menggandeng artis dan influencer terkenal dalam menciptakan opini global.
Tak perlu bertele-tele untuk menjelaskan adakah hubungan diplomasi antara Indonesia dengan Israel? Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi tegas mengatakan bahwa Indonesia tidak akan memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, Israel tidak akan berhenti menarik simpati masyarakat Indonesia. Melalui Hasbara-lah, ajakan memahami Israel melalui sudut pandang mereka akan terbuka.
Sebuah program yang diinisiasi oleh Israel-Asia Center telah membuat program berjudul Israel-Indonesia Futures. Program tersebut dilaksanakan daring selama 5 Januari-4 Mei 2025 dalam rangka membawa peserta pada perjalanan untuk menemukan potensi yang belum dimanfaatkan antara Israel (Negara Start-Up dan satu-satunya negara Yahudi di dunia) dan Indonesia (yang diharapkan menjadi ekonomi terbesar ke-5 di dunia pada tahun 2030 dan negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia). Peserta Indonesia yang mendaftar akan diajak untuk menelusuri sejarah, politik, ekonomi, budaya, bahasa, “konflik”, dan kemunculan Israel sebagai pusat teknologi dan inovasi global.

Ternyata, program ini pernah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada website tersebut juga tercantum testimoni dari orang-orang Indonesia yang pernah mengikuti program tersebut. Program Israel-Indonesia Futures digadang-gadang dalam rangka membuka normalisasi hubungan antara Israel dengan Indonesia secara bertahap seperti yang telah dilakukan oleh Arab Saudi. Dalam website pendaftaran tersebut juga tercantum catatan penting kerahasiaan yang dijamin oleh institusi, berbunyi sebagai berikut:
“Kami memahami sensitivitas hubungan antara Israel dan Indonesia. Oleh karena itu, tidak ada nama peserta program, pembicara, mitra, atau pendukung yang dipublikasikan tanpa izin tertulis dari mereka.”
Akhir kata, Hasbara bukan hanya tentang bagaimana Israel membangun citra positif di mata dunia, tetapi juga bagaimana mereka mencoba merangkul negara-negara yang selama ini menolak keberadaannya. Dengan strategi yang lebih halus dan terstruktur, propaganda ini terus bekerja, bahkan tanpa disadari. Kini, taktik Hasbara semakin dekat dengan kita. Jika propaganda ini berhasil di banyak negara, apakah Indonesia akan menjadi target berikutnya? Sebelum opini alam bawah sadar kita direkayasa, sudah seharusnya kita lebih kritis dan tidak begitu saja menerima narasi yang dibangun oleh mereka yang ingin mencuci tangan dari darah yang mereka ciptakan sendiri.
Penulis: Nadea Salsabila Putri (Mahasiswi Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah)
Referensi:
[1] Sam Hamad, “Understanding Hasbara: Israel’s Propaganda Machine,” The New Arab, November 18, 2023, https://www.newarab.com/news/understanding-hasbara-israels-propaganda-machine.
[2] Edward Said, “Propaganda and War,” Media Monitors Network, Agustus 31, 2001, https://mediamonitors.net/propaganda-and-war/.
[3] Ibid.
[4] JTA and TOI Staff, “Foreign Ministry to Receive Massive Budget for Public Diplomacy Abroad,” The Times of Israel, Desember 29, 2024, https://www.timesofisrael.com/foreign-ministry-to-receive-massive-budget-for-public-diplomacy-abroad/.
[5] Ibid.
[6] Miriyam Aouragh, “Hasbara 2.0: Israel’s Public Diplomacy in the Digital Age,” Middle East Critique 25, no. 3 (Juni 1, 2016): 20–21.