Pernikahan sebagai Bentuk Perlawanan di Gaza

(Foto: Al Jazeera)

Pertunangan dan pernikahan seharusnya menjadi salah satu tahapan paling membahagiakan dalam hidup, dipenuhi kehadiran keluarga, barisan bunga, musik, dan kegembiraan memulai hidup baru. Sebelum perang meluluhlantakkan Jalur Gaza, pernikahan adalah pesta besar yang meriah. Para pria menari tarian tradisional dabke, sementara para wanita memeriahkan suasana dengan zaghrouta, sebuah sorakan vokal bernada tinggi yang menjadi simbol sukacita.

Kala itu, persiapan pernikahan menghidupkan industri lokal. Mempelai wanita dan keluarganya berburu dua gaun: gaun berwarna-warni untuk malam henna dan gaun pengantin putih, yang masing-masing disewa sekitar $350. Mempelai pria menyiapkan perabotan rumah, menyewa aula pernikahan yang megah dengan biaya tertinggi sekitar $500, serta menyajikan hidangan tradisional seperti summaqiyya dan nampan nasi daging. Menyewa apartemen sederhana pun terjangkau, hanya berkisar $150 per bulan.

Namun kini, perang merenggut seluruh tradisi tersebut. Di tengah pengungsian, kehilangan, krisis ekonomi, dan kehancuran fisik, warga Gaza tetap berjuang mempertahankan martabat dan kemanusiaan mereka melalui pernikahan.

Berjuang di Tengah Serangan dan Duka Cita

Bagi para calon pengantin, prosesi menuju pelaminan kini berubah menjadi perjuangan mempertahankan nyawa. Seorang pengantin wanita mengisahkan pengalamannya pada 12 Juli 2026. Saat ia dan ibunya berbelanja kebutuhan pernikahan di pasar as-Saraya, Kota Gaza, empat rudal mendadak jatuh di dekat mereka. Awan debu hitam tebal membumbung, memaksa impian tentang gaun pengantin berganti seketika menjadi rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup.

Ketidakpastian tak berhenti di situ. Pada 28 Juli, pengungsian paksa mendadak di daerah Yarmouk memaksa mereka melarikan diri hanya dengan membawa sedikit barang di bawah ancaman pemboman yang terus mengintai.

Selain ancaman keselamatan, duka mendalam akibat kehilangan anggota keluarga turut membentuk jalannya pernikahan. Ahmed al-Batsh (20) dari Jabalia harus melangkah ke pelaminan dengan luka batin setelah ibunya, Mariam, tewas tertembak di bagian leher dan dada pada 13 April 2025 saat mencari makanan untuk anak-anaknya di tengah kelaparan.

Pengalaman serupa dialami Hala al-Khatib (21). Pertunangannya dengan Muhannad pada 9 September 2025 sempat tertunda berulang kali karena saudara-saudara dan saudari Muhannad gugur satu per satu dalam perang.

“Kita berpura-pura bahagia, tetapi tidak ada yang seperti dulu,” ungkap Ahmed.

Realitas Pahit: Biaya Melonjak di Tengah Keterbatasan

Perang menghancurkan roda ekonomi Gaza. Menurut data Kementerian Tenaga Kerja Gaza, tingkat pengangguran melonjak hingga 80 persen dan tingkat kemiskinan mencapai 93 persen. Di tengah situasi ini, biaya untuk memulai hidup baru justru membumbung tinggi akibat kelangkaan barang dan penutupan jalur pasokan.

Saja al-Masri (22) dan tunangannya, Mohammed Ahliwat (27), yang mengungsi di kamp Deir el-Balah, harus menghadapi kenyataan pahit ini. Mohammed, yang dulunya memiliki apartemen seluas 170 meter persegi dan usaha peternakan keluarga di Bureij, kini bekerja serabutan menyetorkan roti dan memperbaiki sepeda.

Untuk menyusun tempat tinggal paling sederhana di dalam tenda, Mohammed harus mengeluarkan biaya yang sangat besar:

  • Tenda dan terpal: ~1.500 shekel ($509) untuk tenda dan >2.000 shekel ($679) untuk terpal.
  • Kerangka kayu: ~2.500 shekel ($850).
  • Kamar mandi darurat dari plastik & kayu: 3.000 shekel ($1.019).
  • Perabotan kamar tidur: Mencapai 12.000 hingga 20.000 shekel ($4.076–$6.793), naik drastis dari harga sebelum perang yang berkisar 5.000 shekel.
Saja dan ibunya, Samira, mencoba mengatur beberapa barang miliknya di dalam tenda, karena tidak ada lemari kayu untuk menyimpannya. (Foto: Al Jazeera)

Karena tidak sanggup membeli perabotan, pasangan ini terpaksa tidur di atas kasur tipis di atas tanah.

Kondisi ini membuat Saja tak kuasa menahan air mata. Gaun pengantin yang ditawarkan toko-toko menyentuh harga sewa 2.000 shekel ($679), sementara tarif salon mencapai 700 shekel ($238) karena langkanya kosmetik dan tingginya biaya bahan bakar generator. Akhirnya, Saja terpaksa mengenakan gaun usang dan robek di bagian tepinya yang dibawakan oleh kenalan Mohammed.

Ibu Saja, Samira al-Masri (49), menyatakan bahwa ia telah menikahkan empat putrinya di dalam tenda selama perang berlangsung tanpa rasa sukacita. “Setiap pernikahan terasa seperti tragedi bagiku,” tuturnya.

Kehancuran Infrastruktur dan Sulitnya Mencari Tempat Tinggal

Mencari tempat tinggal dan tempat perayaan menjadi tantangan besar lainnya. Mayoritas aula pernikahan hancur atau berada di dekat “Zona Kuning” yang merupakan perbatasan militer yang berbahaya.

Beberapa pengelola aula berusaha bertahan di tengah risiko keamanan dan operasional yang tinggi:

  • Aula al-Reihan: Hani Reihan mengubah bekas gudang acar menjadi tempat resepsi sederhana untuk membantu warga yang kesulitan mencari lokasi pernikahan.
  • Aula al-Tayeb: Operasional sangat terbatas akibat tingginya biaya listrik dan dekorasi. Satu tangkai bunga tiruan bahkan mencapai 25 shekel ($8).
  • Aula al-Wurood: Abu Warda, sang manajer, sering menerima calon pengantin pria yang memesan tempat tanpa didampingi keluarga karena seluruh anggota keluarga mereka telah gugur.

Bagi mereka yang berhasil menikah dan menemukan tempat tinggal, ancaman kehilangan tetap mengintai. Pasangan Hala al-Khatib dan Muhannad menikah pada 26 Desember 2025 dan memutuskan tinggal di rumah mendiang saudara Muhannad yang dindingnya rusak akibat tembakan artileri. Namun, pada 8 Januari 2026, hanya beberapa minggu setelah menikah, serangan udara meratakan rumah tersebut dan memaksa mereka mengungsi ke dalam tenda.

Di tengah himpitan ekonomi dan trauma, sebagian masyarakat Gaza memilih jalan keluar melalui pernikahan massal. Acara seperti “Thobe al-Farah” pada Desember 2025 di Khan Younis yang diikuti 54 pasangan, serta “Thobe al-Farah 2” pada 25 April 2026 di Deir el-Balah yang diikuti 300 pasangan, menjadi wadah perayaan bersama.

Diprakarsai oleh lembaga bantuan eksternal, acara ini menanggung seluruh biaya pengantin, menyediakan pakaian tradisional Palestina (thobe), setelan jas, keffiyeh, hingga hadiah tunai sederhana. Di antara deretan bangunan yang hancur, para pengantin berjalan bersama, mengubah duka menjadi simbol perlawanan dan harapan akan masa depan.

Pernikahan sebagai Bentuk Ketahanan Hidup

Menikah di Gaza saat ini bukan lagi sekadar tonggak sosial, melainkan sebuah bentuk penolakan untuk menyerah pada keadaan.

Seorang pengantin wanita yang melangsungkan pernikahannya pada 1 September 2026 di Aula al-Tayeb menceritakan bagaimana ia dan keluarganya tetap melangsungkan acara meskipun situasi keamanan di Kota Gaza sempat memburuk sebelum acara dimulai. Kini, ia tinggal di sebuah tenda di daerah as-Saftawi, Gaza utara. Meskipun malam pertamanya diwarnai dentuman bom yang keras, semangat untuk membangun kehidupan baru tetap terjaga.

Pernikahan di Gaza menunjukkan bahwa meski perang sanggup merenggut rumah, harta benda, dan orang-orang tercinta, perang tidak akan pernah bisa merenggut impian mereka untuk terus mencintai, hidup, dan membangun peradaban masa depan.

 

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

Ala Ahmed Dmeida, “How to plan a wedding in uncertain times”, Al Jazeera, September 12, 2026. https://www.aljazeera.com/features/longform/2026/9/12/how-to-plan-a-wedding-when-you-dont-know-what-tomorrow-will-bring

Maram Humaid, “In Gaza, the simplest of weddings are barely affordable”, Al Jazeera, May 6, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/5/6/in-gaza-the-simplest-of-weddings-are-barely-affordable

You might also like
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!