Jurnalis Gaza, Saksi Sejarah yang “Dihilangkan Paksa” Entitas Israel

(Foto: AFP)

Dunia jurnalistik modern sedang menghadapi ujian paling kelam dalam sejarahnya. Di tanah Palestina, Lebanon, hingga perbatasan Suriah Selatan, para jurnalis bukan lagi sekadar saksi yang berdiri di pinggir lapangan untuk mencatat sejarah. Rompi biru bertuliskan PRESS yang dulunya menjadi perisai pelindung, kini menjelma menjadi target bidik senjata yang mematikan. Pekerja media telah bergeser dari pelapor berita menjadi sasaran tembak langsung yang diburu secara sistematis.

Angka-angka yang dirilis oleh lembaga internasional menceritakan kengerian ini dengan sangat gamblang. Hingga akhir Juni 2025, Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) memverifikasi bahwa sedikitnya 263 pekerja media telah gugur, di mana 207 di antaranya adalah jurnalis Palestina yang terjebak di dalam Gaza. Sementara itu, Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) bersama Serikat Jurnalis Palestina (PJS) mencatat bahwa tidak kurang dari 241 jurnalis telah tewas, terluka, atau hilang sejak eskalasi pecah pada 7 Oktober 2023. Skala kematian ini jauh melampaui gabungan korban perang mana pun sejak tahun 1992. Di Gaza hari ini, memilih menjadi seorang reporter bukan sekadar memilih profesi, melainkan sebuah pertaruhan antara hidup dan mati.

Pertaruhan Nyawa Jurnalis di Balik Kamera yang Sekarat

Ketika Israel menutup rapat seluruh akses bagi jurnalis asing dan mengisolasi Jalur Gaza dari dunia luar, beban untuk terus mengungkap kebenaran jatuh sepenuhnya ke pundak para jurnalis lokal Gaza. Mereka menjadi satu-satunya mata dan telinga dunia di sebuah daerah yang dikepung maut. Namun, menjalankan tugas ini membutuhkan keteguhan yang hampir tidak masuk akal.

Bayangkan bekerja di bawah bayang-bayang drone quadcopter yang siap melepaskan tembakan kapan saja, seperti yang dialami oleh Jaber Badwan. Saat mencoba mendokumentasikan perjuangan para petani lokal yang memanfaatkan sisa lahan di dekat Jalan Salah al-Din untuk bertahan dari kelaparan, sebuah drone tiba-tiba memberondongnya dengan peluru tajam. Jaber, sang Jurnalis dan para petani terpaksa berlari, bersembunyi di sebuah ruangan sempit selama berjam-jam, memeluk kamera mereka dalam sunyi tanpa sempat merekam apa pun.

Perjuangan di lapangan adalah perjuangan melawan keterbatasan yang ekstrem. Para jurnalis bergerak di antara reruntuhan beton yang masih mengepulkan debu mesiu, merangkai berita dengan kamera bertenaga baterai yang sekarat dan ponsel dengan daya yang tinggal setengah. Saat pasokan makanan distop dan kelaparan buatan mulai mencekik kota, mereka harus merekam anak-anak yang sekarat dan pucat di Rumah Sakit Kamal Adwan, sambil menahan lapar mereka sendiri.

Tidak hanya itu, ancaman terbesar justru mengintai keluarga mereka di rumah. Diperkirakan sekitar 600 anggota keluarga jurnalis telah tewas sepanjang konflik ini. Melalui pembantaian keluarga tersebut, sebuah pesan peringatan yang kejam sedang dikirimkan: jika Anda tidak berhenti menulis, keluarga Anda yang akan membayar harganya. Namun, di tengah teror psikologis yang meremukkan hati itu, para jurnalis Gaza menunjukkan integritas yang luar biasa. Seperti yang dikatakan Jaber Badwan, “Tentu ada rasa takut. Tetapi tekad kami jauh lebih besar. Pesan ini harus tersampaikan.”

Kerabat dan kolega di pemakaman jurnalis Hassan Aslih, yang tewas akibat serangan udara Israel di Rumah Sakit Nasser di kota Khan Yunis, Gaza selatan, 13 Mei 2025.
(Foto: Shutterstock/GIJN)

Tindakan Pembungkaman Terstruktur

Untuk memastikan bahwa kesaksian dari dalam Gaza tidak pernah sampai ke telinga publik global, sebuah strategi pembungkaman yang terstruktur dijalankan dengan dingin dan mematikan. Ini bukan sekadar tentang peluru yang nyasar, melainkan sebuah strategi pembungkaman yang direncanakan.

Militer Israel menggunakan teknologi pengawasan canggih, intelijen mutakhir, dan pengintaian satelit untuk menyusun daftar “peringatan merah”. Jurnalis yang terlalu vokal menyoroti penderitaan warga sipil akan masuk ke dalam daftar hitam yang ditargetkan. Tragisnya, ketika mereka gugur, kematian mereka kerap diikuti oleh gelombang fitnah dan pembunuhan karakter.

Setiap kali lembaga internasional seperti Reporters Without Borders (RSF) mengajukan gugatan ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dengan bukti kronologi video dan kesaksian saksi mata, pihak militer selalu menggunakan tameng penyangkalan yang seragam. Mereka berdalih bahwa para jurnalis yang tewas adalah korban yang “tidak teridentifikasi” atau menuduh bahwa status nonkombatan mereka “tidak jelas”.

Lebih keji lagi, muncul narasi-narasi manipulatif yang mencoba mengaitkan para pekerja media independen dengan milisi bersenjata atau kelompok teror. Narasi ini sengaja diciptakan untuk mendelegitimasi karya mereka, mengaburkan bukti kejahatan perang, dan meyakinkan publik bahwa pembunuhan terhadap mereka adalah hal yang legal.

Kisah Anas Al-Sharif dan sahabatnya, Saleh Al-Ja’farawi, menjadi potret nyata dari konspirasi ini. Video pelukan hangat keduanya di atas truk sempat viral di media sosial, memperlihatkan secuil kebahagiaan di tengah kota yang lumat oleh bom. Namun, kebahagiaan itu singkat. Beberapa hari setelah gencatan senjata Oktober 2025, Saleh dibunuh oleh milisi bersenjata yang didukung oleh pasukan Israel. Sorot lampu yang mereka gunakan untuk menerangi kegelapan Gaza dipadamkan secara paksa melalui konspirasi dan kekerasan yang sistematis.

Bahaya Pembiaran Terhadap Pembungkaman Jurnalis 

Apa yang terjadi jika pembunuhan dan pembungkaman sistematis terhadap jurnalis ini dianggap sebagai hal yang wajar dan dibiarkan tanpa hukuman? Dampaknya akan sangat mengerikan bagi masa depan kemanusiaan.

Ketika seorang jurnalis dibunuh, yang mati bukan hanya satu nyawa, melainkan terputusnya hubungan antara bukti orisinil di lapangan dengan penegakan keadilan di masa depan. Lembaga hukum dan kemanusiaan seperti Al-Haq dan Forensic Architecture sangat bergantung pada rekaman mentah yang diambil oleh para jurnalis beberapa saat setelah serangan udara terjadi. Rekaman video dari jurnalis seperti Hasan Esleih, yang tewas akibat serangan udara di Rumah Sakit Al-Shifa saat sedang dirawat karena luka terdahulu, kini menjadi dokumen hukum yang sangat berharga di pengadilan internasional. Jika jurnalis lenyap, maka investigasi forensik atas dugaan genosida akan lumpuh, dan para pelaku kejahatan perang akan melenggang bebas dalam impunitas total.

Lebih dari itu, normalisasi terhadap pembungkaman pers akan melahirkan preseden buruk di mana penguasa militer bebas menghapus sejarah. Perang di Gaza telah bergeser dari sekadar pertempuran senjata menjadi pertempuran narasi. Membunuh jurnalis adalah cara paling efektif untuk memusnahkan cerita dari sisi korban dan menggantinya dengan propaganda sepihak. Dunia akan dipaksa menerima kebenaran versi mereka yang memegang senjata, sementara suara mereka yang tertindas akan terkubur selamanya di bawah puing-puing sejarah.

Terbatasnya Investigasi Visual dan Forensik Jarak Jauh 

Di luar perbatasan yang terkepung, para peneliti internasional mencoba merajut pecahan informasi yang berhasil lolos dari sensor. Peneliti visual seperti Jake Golden memanfaatkan citra satelit, rekaman drone, dan fotogrametri untuk memverifikasi kerusakan. Namun, mereka semua mengakui adanya keterbatasan besar dari metode jarak jauh ini. Citra satelit tidak mampu menangkap getaran suara seorang ibu yang kehilangan anaknya, atau kepulan debu langsung beberapa detik setelah rudal menghantam tanah.

Ketergantungan terhadap jurnalis lokal justru semakin mutlak ketika akses fisik bagi organisasi internasional benar-benar nihil. Lembaga seperti Law for Palestine yang dipimpin Ihsan Adel menegaskan bahwa sebagian besar berkas gugatan hukum yang diajukan ke pengadilan internasional saat ini ditopang oleh materi-materi mentah yang diproduksi oleh para martir media di Gaza. Para jurnalis lokal ini, sadar atau tidak, telah menjadi pilar utama dalam merawat peluang keadilan bagi rakyat mereka.

Eksistensi jurnalis lokal bukan lagi sekadar pelengkap profesi, melainkan jantung utama dari seluruh rantai informasi dan akuntabilitas global. Ketika lembaga hukum internasional atau media Barat memverifikasi sebuah pelanggaran hak asasi manusia, mereka tidak sedang turun ke lapangan—mereka sedang meminjam mata, telinga, dan keberanian para jurnalis lokal. Tanpa kehadiran mereka yang berdiri langsung di titik jatuhnya bom, semua teknologi canggih seperti kecerdasan buatan, pemetaan 3D, atau radar satelit di luar Gaza hanyalah instrumen buta yang kehilangan konteks manusianya.

Jurnalis lokal adalah satu-satunya benteng yang mencegah distorsi sejarah. Merekalah yang memverifikasi kebenaran di tengah badai disinformasi, mengonfirmasi nama-nama korban yang tewas, dan mendokumentasikan skala kelaparan langsung dari koridor rumah sakit yang sekarat. Ketika dunia luar lumpuh oleh jarak dan birokrasi, kamera jurnalis lokal-lah yang menembus blokade, menjadikan suara warga sipil yang terjebak di bawah reruntuhan tetap terdengar melintasi batas samudera. Peran mereka sama sekali tidak bisa digantikan oleh algoritma atau analisis jarak jauh; mereka adalah penyambung nyawa antara realitas yang mengerikan dan nurani dunia yang tersisa.

Menolak Padam di Garis Depan

Pada September 2025, sebagai bentuk solidaritas atas pembantaian pers ini, lebih dari 200 media di seluruh dunia, termasuk harian Lebanon L’Orient-Le Jour, menghitamkan halaman depan mereka dan mengheningkan cipta. Kampanye global tersebut membawa pesan yang menampar: “Jika jurnalis habis, tidak akan ada lagi orang yang memberi Anda informasi.”

Di tengah segala tekanan dan tantangan di Gaza, para jurnalis lokal tetap menolak untuk menurunkan kamera mereka. Mereka sadar bahwa setiap tombol record yang mereka tekan adalah sebuah tindakan perlawanan, dan setiap berita yang berhasil terkirim adalah sebuah kemenangan melawan penyangkalan.

Kini pertanyaan besar muncul, akankah dunia menegakkan hukum internasional sebagai mekanisme akuntabilitas yang efektif, atau justru menutup mata dan membiarkan kebenaran mati dalam kegelapan impunitas? Selama kamera masih menyala dan pena masih menggoreskan fakta, pertempuran narasi ini belum usai. Para jurnalis di garis depan telah menunaikan tugasnya dengan taruhan nyawa; kini giliran dunia untuk menentukan sikap.

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

International Federation of Journalists, “Palestine: At least 241 journalists and media workers killed in Gaza”, IFJ, July 03, 2026. https://www.ifj.org/media-centre/news/detail/category/press-releases/article/palestine-at-least-236-journalists-and-media-workers-killed-in-gaza

International Federation of Journalists, “Palestine: Unprecedented global newsroom protest as 200 media outlets take action over killing of journalists in Gaza”, IFJ, September 01, 2026. https://www.ifj.org/media-centre/news/detail/category/press-releases/article/palestine-global-newsroom-protest-200-media-outlets-take-action-killing-of-journalists-gaza

Committee to Protect Journalists, “CPJ denounces Israel’s smearing of killed Palestinian journalists with unsubstantiated ‘terrorist’ labels”, CPJ, August 14, 2024. https://cpj.org/2024/08/cpj-denounces-israels-smearing-of-killed-palestinian-journalists-with-unsubstantiated-terrorist-labels/

Global Investigative Journalism Network, “How Israel’s Unprecedented Killing of Palestinian Journalists in Gaza Makes Accountability Reporting Almost Impossible”, GIJN, April 06, 2026. https://gijn.org/stories/unprecedented-killing-palestinian-journalists-gaza-press-freedom/

Gulf Times, “Journalists in conflict zones increasingly being targeted”, Gulf Times, May 04, 2026. https://www.gulf-times.com/article/725003/opinion/journalists-in-conflict-zones-increasingly-being-targeted?utm_source=Committee+to+Protect+Journalists&utm_campaign=d92d2628bc-EMAIL_CAMPAIGN_2026_05_27_08_08&utm_medium=email&utm_term=0_-d92d2628bc-

You might also like