Ditulis oleh: Robert Inlakesh*
Gaza, NPC – Pada 25 Januari 2026, Presiden Israel Isaac Herzog berdiri di hadapan kerumunan warga Israel untuk merayakan hal yang diklaim Tel Aviv sebagai rekor dunia dalam donor ginjal. Acara tersebut, yang dipromosikan setelah adanya tekanan lobi terhadap Guinness World Records, ditujukan untuk memproyeksikan citra kedermawanan, kedisiplinan, serta tujuan moral Israel.
Guinness hanya mencatat kerumunan itu sendiri sebagai rekor, bukan aksi donor ginjal yang telah diubah Tel Aviv menjadi ajang pencitraan publik.
Jenazah di Balik Angka-Angka
Di Gaza, tempat Israel mengembalikan jenazah penduduk Palestina dalam kantong-kantong plastik—yang terkadang sudah membusuk, dimutilasi, atau menunjukkan tanda-tanda intervensi bedah—perayaan tersebut ditanggapi secara sangat berbeda. Bagi para pejabat kesehatan Palestina, pertanyaannya bukanlah bagaimana Israel bisa mencetak begitu banyak pendonor, melainkan apakah seluruh jasad tersebut telah memberikan persetujuannya.
Pihak yang menyingkap “topeng propaganda” Israel tidak lain adalah Dr. Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza. Ia menyatakan bahwa “rekor angka” Israel memicu pertanyaan serius mengenai asal-usul ginjal dan organ tubuh lain yang kini dirayakan. Ia menyoroti kontradiksi tajam dari sebuah negara pendudukan yang telah bertahun-tahun menahan jasad penduduk Palestina di “pemakaman angka-angka” dan lemari pendingin, sembari menampilkan dirinya kepada dunia sebagai model kemanusiaan dalam hal donor organ.
Bursh mengutip kasus-kasus terdokumentasi tentang jasad yang dikembalikan kepada pihak keluarga dalam kondisi kehilangan organ, terutama ginjal, tanpa disertai laporan medis, berkas otopsi, ataupun jalur hukum apa pun untuk meminta pertanggungjawaban. Ia menuntut dilakukannya penyelidikan internasional yang independen untuk membuktikan apakah pencapaian yang diklaim Israel tersebut dibangun di atas pencurian organ penduduk Palestina.
Sekitar sepekan kemudian, Israel mengembalikan sisa-sisa jasad sekitar 54 penduduk Palestina yang tercerai-berai ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza. Tim forensik segera bekerja keras mengidentifikasi jenazah-jenazah tersebut guna memberikan kepastian bagi keluarga mereka. Namun, mereka mencatat bahwa banyak dari mayat tersebut menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan pengangkatan organ melalui tindakan bedah yang jelas.
Ini bukanlah peringatan pertama sejak Operasi Badai Al-Aqsa bergulir. Sepuluh hari setelah genosida Israel di Gaza dimulai, dugaan pencurian organ sudah mulai bermunculan. Pada akhir November 2023, lembaga pemantau hak asasi manusia internasional Euro-Med Human Rights Monitor mendesak dilakukannya penyelidikan atas pencurian organ penduduk Palestina, setelah “para tenaga medis menemukan bukti-bukti pencurian organ, termasuk hilangnya koklea dan kornea, serta organ vital lainnya seperti hati, ginjal, dan jantung”.
Israel dan para pembelanya bergerak membendung penyebaran tuduhan ini dengan mengungkit isu “fitnah darah” (blood libel) dan antisemitisme. Karena bukti-bukti tersebut datang dari pihak Palestina, desakan untuk melakukan pemeriksaan internasional sebagian besar hanya dianggap angin lalu.
Skandal yang Tak Pernah Dikubur Israel
Hal semacam ini persis seperti apa yang terjadi pada awal 1990-an, ketika tenaga medis Palestina dan keluarga korban yang meninggal menuduh Israel melakukan pengambilan organ secara ilegal selama Intifada Pertama. Bahkan pada 1992, Menteri Kesehatan Israel saat itu, Ehud Olmert, sempat mengorganisasi kampanye donor organ publik—seperti halnya hari ini, demi menampilkan citra kemanusiaan.
Pada 1999, antropolog asal Amerika Serikat, Nancy Scheper-Hughes, mulai membongkar praktik yang sekian lama diabaikan tersebut. Sebagai salah satu pendiri Organs Watch—sebuah organisasi yang didirikan untuk memantau perdagangan organ dan dampak manusianya—ia belakangan membawa isu ini ke hadapan subkomite Kongres AS pada 2001.
Titik terang muncul lewat wawancaranya yang dipublikasikan bersama Yehuda Hiss, kepala ahli patologi di Abu Kabir Forensic Institute—satu-satunya fasilitas milik Israel yang berwenang melakukan otopsi untuk kasus-kasus kematian tidak wajar.
Hiss mengakui bahwa Abu Kabir Forensic Institute telah mengambil organ dari jasad penduduk Palestina tanpa persetujuan.
Narasi resmi negara Israel, yang dibangun melalui penyelidikan internal, mengklaim bahwa pencurian organ tidak secara khusus menargetkan penduduk Palestina, melainkan prajurit Israel pun turut menjadi korban. Namun, Saluran TV Channel 2 Israel menayangkan dokumen mengenai isu ini, mewawancarai para ahli patologi di Abu Kabir, yang salah satunya secara eksplisit menyatakan bahwa “kami tidak pernah mengambil kulit dari jasad prajurit Israel, melainkan dari jasad orang lain”.
Scheper-Hughes menyatakan pada 2009 bahwa sebagian besar perdagangan ginjal ilegal di dunia dapat dilacak bermuara ke warga Israel.
“Israel adalah pemuncaknya,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa “guritanya menjangkau seluruh dunia”. Ia melaporkan bahwa warga negara Israel—yang kerap menerima kompensasi dari Kementerian Kesehatan dan dalam proyek yang didukung Kementerian Pertahanan—bertanggung jawab atas maraknya turisme transplantasi organ secara massal.
Warga Israel memangsa kelompok-kelompok rentan mulai dari Brasil hingga Filipina. Sebuah laporan BBC pada 2001 bahkan menggambarkan situasi di mana “ratusan warga Israel telah menciptakan lini produksi yang berawal dari desa-desa di Moldova, tempat para prianya kini hidup hanya dengan satu ginjal”.
Dalam sebuah artikel yang kontroversial pada zamannya, surat kabar Swedia Aftonbladet pada 2009 memublikasikan klaim bahwa penduduk Palestina telah ditargetkan dan dibunuh oleh militer Israel demi diambil organ tubuhnya.
Meskipun Israel dan para pendukungnya gemar menepis seluruh skandal ini dengan mengklaimnya sebagai kasus terisolasi, Hiss dan rekan-rekan sesama ahli patologi di Abu Kabir Forensic Institute yang mengakui pencurian organ secara terbuka tersebut bahkan tidak pernah diberi sanksi atas perbuatan mereka. Hiss tidak dijatuhi hukuman penjara yang lama; kenyataannya, ia justru diizinkan untuk terus bekerja di Abu Kabir.
Dengan kata lain, tidak pernah ada akuntabilitas. Hal yang ada hanyalah penyelidikan internal Israel, diikuti janji-janji dari militer dan pemerintah Israel bahwa mereka tidak lagi mengambil organ tubuh penduduk Palestina.
Angka di Balik Rekor Tel Aviv
Organisasi Israel yang menjadi pusat dari klaim rekor dunia saat ini adalah Matnat Chaim, yang didirikan pada Februari 2009, tak lama setelah Tel Aviv mengesahkan undang-undang yang melarang perdagangan organ. Yerusalem, tempat organisasi tersebut bermarkas, lantas menjadi kota terdepan di Israel untuk donor ginjal altruistik. Tel Aviv mengklaim Matnat Chaim telah melampaui 2.000 transplantasi, hingga meraih rekor yang dirayakan pada Januari lalu. Namun, data yang tersedia memicu pertanyaan yang amat nyata.
Antara 2009 hingga 2021, Matnat Chaim menyatakan telah melakukan 1.000 transplantasi. Pada 2022, merujuk pada angka yang dirilis organisasi nirlaba itu sendiri, mereka memfasilitasi 202 transplantasi—turun dari 215 pada tahun sebelumnya. Itu artinya, total angka yang tersedia bagi publik sebelum munculnya dugaan pada November 2023 adalah 1.277. Untuk mencapai angka 2,000, organisasi tersebut harus menambahkan 723 transplantasi hanya dalam waktu sedikit di atas tiga tahun.
Menurut Pusat Transplantasi Nasional Israel, jumlah total transplantasi dari pendonor hidup untuk tahun 2023, 2024, dan 2025 mencapai 923. Pada 2022—tahun terakhir yang data kontribusi spesifik Matnat Chaim-nya tersedia untuk publik—organisasi ini menyumbang 63 persen dari transplantasi pendonor hidup. Jika persentase itu bertahan, porsinya selama tiga tahun tersebut akan berkisar 581 transplantasi, yang berarti masih kurang dari target 2.000.
Hal ini, dengan sendirinya, memang tidak mentah-mentah membuktikan kesalahan Matnat Chaim. Namun, ini menjelaskan mengapa Bursh mempertanyakan klaim tersebut mentah-mentah, terutama di bawah bayang-bayang rekam jejak panjang pencurian organ yang dilakukan Israel serta kesaksian yang bermunculan dari rumah-rumah sakit di Gaza.
Fakta menarik lainnya yang memperkuat keraguan atas angka sangat tinggi yang dibanggakan Israel adalah bahwa hanya 14 persen dari populasinya yang telah menandatangani kartu pendonor Adi (Ehud) Ben Dror. Angka ini menempatkan Israel di jajaran terendah di antara negara-negara maju. Di sebagian besar negara Barat, rata-rata warga yang mendaftar untuk mendonorkan organ mereka mencapai 30 persen dari total populasi.
Donor organ telah lama menjadi isu yang menuai perdebatan di kalangan warga Israel. Sebagai contoh, Kepala Rabi Palestina pendudukan Inggris pada 1931 pernah menyatakan bahwa anggapan bahwa praktik tersebut menodai orang mati adalah “hal yang unik bagi umat Yahudi, kaum non-Yahudi tidak punya alasan khusus untuk menghindarinya jika ada tujuan yang wajar untuk melakukan hal itu, seperti alasan medis”.
Pada 1996, Rabi berpengaruh Yitzhak Ginsburgh dari sekte Chabad Lubavitch menegaskan bahwa jika seorang Yahudi membutuhkan hati, “bisakah Anda mengambil hati dari seorang non-Yahudi tak berdosa yang lewat untuk menyelamatkannya? Taurat kemungkinan besar akan mengizinkan hal itu. Nyawa orang Yahudi memiliki nilai yang tak terhingga. Ada sesuatu yang jauh lebih suci dan unik secara tak terhingga tentang nyawa orang Yahudi dibandingkan dengan nyawa non-Yahudi”.
Sikap publik terkini dari otoritas keagamaan tertinggi Israel adalah bahwa donor organ diperbolehkan bagi umat Yahudi, tetapi konsensus tersebut terbilang baru. Baru dalam dekade terakhir ini terjadi peningkatan pada jumlah pendonor dari kalangan Yahudi. Bagi banyak umat Yahudi yang taat, isu ini tetap menjadi perdebatan.
Konteks sosial tersebut, bersanding dengan populasi Israel yang relatif kecil, makin memicu kecurigaan mengapa Bank Kulit Nasional Israel (INSB), misalnya, dilaporkan sebagai salah satu yang terbesar, atau bahkan yang terbesar di dunia. INSB beroperasi secara bersama di bawah Kementerian Kesehatan dan militer Israel.
___
*Robert Inlakesh adalah seorang analis politik, jurnalis, dan pembuat film dokumenter. Ia pernah meliput serta menetap di wilayah pendudukan Palestina, dan kerap bekerja sama dengan berbagai media seperti RT, Middle East Eye, The New Arab, MEMO, Mint Press News, Al-Mayadeen English, TRT World, serta sejumlah kantor berita lainnya. Selama berkarier, ia bertindak sebagai koresponden berita, analis politik, hingga memproduksi sejumlah film dokumenter.
(T.FJ/S: The Cradle)