Ketangguhan Perempuan Gaza untuk Bertahan Hidup dan Membangun Harapan

(Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

Di tengah kehancuran Jalur Gaza, perempuan memikul beban krisis yang teramat berat. Pengungsian massal, krisis kebutuhan dasar, dan ancaman keselamatan jiwa membuat bertahan hidup menjadi perjuangan harian yang melelahkan. Situasi ketidakpastian yang berkepanjangan ini tak hanya mengikis kesehatan mental, tetapi juga memicu lonjakan kasus kekerasan berbasis gender (gender-based violence) hingga lebih dari 32 persen pada periode Januari–Maret 2026. Di tengah tekanan fisik dan emosional yang ekstrem, ruang aman (safe spaces) hadir sebagai tumpuan bagi para perempuan Gaza untuk memulihkan jiwa dan membangun kembali ketahanan komunitas.

Realitas Krisis dan Program Bantuan Terpadu

Menurut estimasi UN Women, sekitar 16.000 perempuan di Gaza kehilangan suami mereka sejak konflik memuncak pada Oktober 2023. Realitas pahit ini menyebabkan satu dari tujuh keluarga kini dipimpin oleh seorang perempuan (female-headed households). Berjuang sendirian di dalam tenda-tenda pengungsian yang tidak layak, tanpa listrik, ventilasi, dan sanitasi memadai, para wanita ini terpaksa memendam duka demi memprioritaskan makanan, air bersih, dan kelangsungan hidup anak-anak mereka.

Guna merespons situasi darurat ini, Collective Development Projects serta UNFPA yang bekerja sama dengan Asosiasi Kesehatan Masyarakat Abdel Shafi (ACHA), melalui dukungan Dana Tanggap Darurat Pusat (CERF), mendirikan pusat-pusat bantuan di Deir el-Balah, Khan Younis, dan Kota Gaza. Melalui ruang aman khusus perempuan dan layanan penjangkauan keliling (mobile outreach), program ini menyediakan intervensi penyelamatan jiwa secara menyeluruh:

  • Layanan Kesehatan Mental: Konseling psikososial, manajemen kasus trauma, dan sesi diskusi kelompok.
  • Perlindungan & Hukum: Bantuan hukum, rujukan medis, dan penanganan khusus bagi survivor kekerasan berbasis gender.
  • Dukungan Ekonomi: Pembagian paket kebersihan pribadi dan menstruasi (dignity kits), serta penyaluran bantuan tunai darurat.
Setiap hari, semakin banyak perempuan mendatangi ruang aman untuk mengikuti berbagai kegiatan dan sesi edukasi (Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

Solidaritas Antargenerasi 

Selain penanganan kasus spesifik, ruang aman berfungsi sebagai oase komunitas di mana para pengungsi saling menguatkan. Kehangatan ini dirasakan langsung oleh Ola Saleh (39 tahun), seorang ibu dari lima anak yang mengungsi di kamp al-Amal, Deir el-Balah. Sejak suaminya, Abdul Jalil Saleh, gugur akibat serangan militer saat mencari bahan makanan, Ola harus memikul beban sebagai pencari nafkah tunggal bagi anak-anaknya yang berusia 5 hingga 17 tahun.

Rasa duka Ola perlahan terangkat ketika ia rutin mendatangi tenda ruang aman di Sekolah al-Farah. Di lokasi yang dikunjungi 70 hingga 75 peserta harian ini, Ola dapat melepaskan beban emosional bersama para psikolog dan sesama survivor.

“Sesi-sesi ini tidak menghapus rasa sakit saya, tetapi membantu saya mendapatkan kembali harapan. Ini mengingatkan bahwa saya tidak berjuang sendirian,” ungkap Ola.

Uniknya, ruang aman ini merajut solidaritas lintas generasi. Suad al-Gharabali (63 tahun), peserta tertua yang kehilangan dua putra dewasa akibat serangan udara di Shujaiya, memilih untuk tidak larut dalam duka. Berbekal pengalaman hidup puluhan tahun membesarkan delapan anak, Suad mengambil peran aktif mendampingi para ibu muda. Ia membagikan petunjuk praktis dan nasihat pengasuhan anak di masa perang, membuktikan bahwa ruang aman adalah wadah saling menguatkan antarwarga.

Suad mengatakan para ibu muda membutuhkan bimbingan dalam membesarkan anak-anak mereka, terutama karena perang telah mengubah kehidupan keluarga secara mendalam (Foto: Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

Dampak Program Perlindungan Perempuan

Koordinator lapangan ruang aman, Alaa Daoud, menegaskan bahwa esensi dari inisiatif ini bukan sekadar penyaluran bantuan fisik atau teknis. Lebih dari itu, ruang aman hadir untuk memberikan pengakuan publik atas beban raksasa dan pengorbanan yang telah ditanggung oleh perempuan Gaza.

Dampak nyata dari intervensi terpadu melalui proyek pendanaan CERF ini mencakup target sasaran yang terukur:

  • 21.800 Individu Terjangkau: Penerima manfaat langsung dari keseluruhan proyek perlindungan dan bantuan kemanusiaan.
  • 18.000 Perempuan & Anak Perempuan: Memperoleh akses langsung ke layanan penanganan kekerasan berbasis gender, konseling trauma, dan dignity kits.
  • 3.800 Rumah Tangga Rentan: Menerima bantuan tunai serbaguna (multi-purpose cash assistance) untuk kebutuhan pangan, sewa tempat tinggal, obat-obatan, dan transportasi.
  • 100 Survivor Gender-Based Violence: Mendapatkan bantuan tunai darurat khusus sebagai bagian dari intervensi manajemen kasus terpadu.

Dukungan finansial dan emosional yang terintegrasi ini terbukti efektif menekan penggunaan mekanisme bertahan hidup yang berbahaya (negative coping mechanisms), seperti pernikahan anak di bawah umur atau penyerahan anak ke sektor kerja ekstrem akibat kemiskinan.

Kisah perjuangan Ola Saleh dan Suad al-Gharabali menegaskan bahwa ketika perempuan diberikan akses terhadap perlindungan yang aman, rahasia, dan penuh empati, duka masa lalu tidak lagi melumpuhkan masa depan mereka. Di balik tumpukan puing dan dinginnya tenda pengungsian Gaza, ruang aman terus menyalakan asa, membuktikan bahwa dari ketangguhan dan kepedulian antarperempuan, pemulihan jiwa dan harapan generasi baru akan selalu menemukan jalannya.

Penulis: Fuad Nur Zaman

 

Sumber:

Maram Humaid, “A safe space for Gaza women: A sanctuary to speak, heal and share amid war”, Al Jazeera, July 29, 2026. https://www.aljazeera.com/news/2026/7/29/a-safe-space-for-gaza-women-a-sanctuary-to-speak-heal-and-share-amid-war

Gaza Herald, “Gaza’s Women Find Strength and Healing in Safe Spaces Amid War”, Gaza Herald, July 30, 2026. https://gazaherald.com/2026/07/30/women-8/

UNFPA, “I Felt Like I Had No Voice”: Safe Spaces Help Women in Gaza Reclaim Strength”, UNFPA, July 1, 2026. https://palestine.unfpa.org/en/news/%E2%80%9Ci-felt-i-had-no-voice%E2%80%9D-safe-spaces-help-women-gaza-reclaim-strength

 

 

You might also like