“Scholasticide” dan Perjuangan Universitas Islam Gaza Merawat Masa Depan

(Foto:  Omar Asthawy/Al Jazeera)

Dulu, suasana pagi di pesisir Gaza selalu dihidupkan oleh derap langkah ribuan mahasiswa yang bergegas menuju ruang perkuliahan, hangatnya diskusi ilmiah di lorong-lorong kampus, dan kesibukan riset di dalam laboratorium. Di sanalah berdiri Universitas Islam Gaza (Islamic University of Gaza – IUG), sebuah institusi pendidikan tinggi yang selama lebih dari setengah abad menjadi pusat ilmu pengetahuan sekaligus benteng harapan bagi generasi muda Palestina.

Namun, seluruh aktivitas akademik tersebut terhenti seketika pada 8 Oktober 2023. Hanya dalam hitungan hari, lanskap pendidikan yang sarat dengan optimisme itu luluh lantak. Gelombang serangan udara meruntuhkan laboratorium, meratakan perpustakaan, dan menyelimuti ruang-ruang diskusi dengan debu kehancuran.

Di tengah puing-puing yang tersisa, sebuah pertanyaan mendasar pun menyeruak: Bagaimana para mahasiswa dan dosen dapat menjaga nyala ilmu pengetahuan ketika tempat belajar mereka telah rata dengan tanah?

Penghancuran Sistematis Tatanan Pendidikan (Scholasticide)

Dampak agresi militer terhadap perguruan tinggi di Gaza bukan lagi sekadar kerusakan infrastruktur bangunan saja. Para pakar PBB dan akademisi internasional menyebut pemusnahan sarana belajar ini sebagai “Scholasticide”, sebuah tindakan terstruktur yang melumpuhkan tatanan pendidikan dan merenggut masa depan suatu bangsa.

Ketika sebuah universitas dihancurkan, masyarakat tidak hanya kehilangan bangunan beton, melainkan juga hasil riset bertahun-tahun, dokumen bersejarah, dan wadah tempat mencetak para ahli. Kerusakan yang dialami IUG mencakup skala paling parah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebanyak 19 gedung utama kampus hancur total, sementara sekitar 500 ruang kelas akademik dan 75 laboratorium komputer mengalami kerusakan parah hingga tidak dapat digunakan. Sektor riset terhampar lumpuh setelah 200 laboratorium ilmiah rusak berat beserta seluruh peralatan praktiknya yang hancur, disusul musnahnya Perpustakaan Pusat yang kehilangan lebih dari 240.000 buku, jurnal, dan manuskrip berharga akibat terbakar.

“Ini adalah salah satu bencana terbesar dalam sejarah universitas kami. Yang tersisa dari kerja keras dan pengabdian selama lima dekade hanyalah tumpukan puing yang membisu,” ujar Abdulraouf Ali al-Manama, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan IUG.

Kerusakan yang dialami IUG mencakup skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. (Foto: Omar Asthawy/Al Jazeera)

Blokade total yang diperketat membuat barang-barang sederhana seperti buku catatan, pena, reagen kimia, hingga mikroskop sangat sulit menembus pintu perbatasan. Kampus yang dulunya mencetak dokter, insinyur, dan peneliti kini beralih fungsi menjadi kamp pengungsian darurat. Lorong-lorong yang dahulu riuh oleh perdebatan teori kini dipenuhi tenda-tenda plastik dan tangis balita yang mencari tempat bernaung.

Kurikukum Darurat: Aplikasi Eksperimen Digital dan Ruang Laboratorium Darurat

Bagi mahasiswa kedokteran, sains, dan teknik, teori di dalam buku tidak akan pernah cukup tanpa praktik langsung. Laboratorium adalah kawah candradimuka bagi mahasiswa untuk memahami anatomi tubuh, menganalisis sampel penyakit, dan menguji rumus rekayasa. Hancurnya ratusan laboratorium IUG menciptakan jurang pemisah yang menganga dalam proses pendidikan tenaga ahli sains.

Sebagai upaya bertahan hidup (survival mechanism), pihak universitas merancang kurikulum darurat:

  • Simulasi Digital & Rekaman Eksperimen: Dosen merekam percobaan sederhana dan memanfaatkan aplikasi simulasi untuk mengajar mata kuliah praktis seperti mikrobiologi, biokimia, dan fisioterapi secara daring.
  • Pos Belajar Satelit: Pihak universitas mendirikan lima titik ruang belajar sederhana di berbagai wilayah Gaza untuk memangkas jalur perjalanan mahasiswa yang berbahaya.

Meski demikian, simulasi pada layar gawai tidak akan pernah dapat menggantikan presisi jemari saat memegang pisau bedah atau mengoperasikan alat sterilisasi. Yassin al-Nounou, koordinator laboratorium IUG, menceritakan kecemasan para mahasiswanya:

“Para mahasiswa berulang kali bertanya dengan raut cemas: ‘Bagaimana kami dapat mengobati pasien kelak, jika alat medisnya saja belum pernah kami pegang dengan tangan kami sendiri?'”

Ketika Rumah Sakit Menjadi Ruang Kelas Utama

Kondisi sulit ini melahirkan fenomena yang mengharukan: beralihnya peran mahasiswa dari pembelajar di ruang kelas menjadi garda depan pelayanan medis.

Deema Muhaisen, seorang mahasiswi kedokteran IUG yang kehilangan gedung fakultasnya pada Desember 2023, menolak membiarkan cita-citanya padam. Ia memindahkan ruang belajarnya ke koridor-koridor rumah sakit yang penuh sesak.

“Kami menyimak penjelasan materi kuliah di sudut-sudut rumah sakit, berdesakan di antara tempat tidur pasien yang terluka. Para dokter yang bekerja tanpa lelah secara otomatis menjadi dosen dan mentor kami di lapangan,” tutur Deema.

Selama dua tahun, Deema mengabdi sebagai sukarelawan di unit gawat darurat, perawatan luka, hingga ruang operasi di Gaza utara maupun selatan. Ujian kompetensinya tidak lagi berada di atas lembar kertas soal berstandar akademis, melainkan pada ketepatan dan ketenangannya saat membendung pendarahan serta merawat luka-luka berat akibat bom.

Membangun Kembali Masa Depan

Menghancurkan sebuah gedung universitas mungkin hanya membutuhkan hitungan detik melalui ledakan rudal, namun membangun kembali ekosistem intelektual adalah ikhtiar panjang yang membutuhkan komitmen multidimensional. Pihak universitas bersama para pengajar telah mulai merancang cetak biru masa depan.

Proses rekonstruksi IUG bukan sekadar pekerjaan sipil untuk menyusun batu bata dan mengecat dinding, melainkan pemulihan ekosistem pengetahuan secara menyeluruh:

  1. Restorasi Alat Presisi: Mengimpor kembali instrumen medis esensial seperti mikroskop elektron, inkubator, sentrifugal, dan alat analisis spektrometri.
  2. Pasokan Logistik Ilmiah: Menjamin ketersediaan reagen kimia, bahan uji laboratorium, serta sistem komputasi data skala besar.
  3. Rehabilitasi Literasi & SDM: Membangun kembali perpustakaan digital dan fisik, serta memberikan perlindungan dan dukungan kesehatan mental bagi staf pengajar dan mahasiswa.

Tantangan terbesar saat ini adalah blokade fisik dan ekonomi yang membatasi masuknya bahan bangunan serta teknologi laboratorium. Namun, ketangguhan yang ditunjukkan oleh institusi ini membuktikan satu hal: perang mungkin sanggup meruntuhkan fisik kampus, tetapi gagal memadamkan dahaga akan ilmu pengetahuan.

Para lulusan IUG yang ditempa dalam situasi krisis ini tidak hanya akan memegang diploma, melainkan juga menjelma menjadi arsitek sosial dan medis yang akan memimpin pemulihan Gaza dari reruntuhan.

Sebagaimana ditekankan oleh Deema Muhaisen dalam kalimat yang sarat makna:

“Berinvestasi dalam pendidikan di tengah krisis seperti ini adalah bentuk investasi paling nyata bagi pemulihan bangsa. Sebab, membangun kembali jiwa, otak, dan keterampilan manusia jauh lebih mendesak daripada sekadar membangun kembali dinding-dinding batu yang hancur.”

Penulis: Fuad Nur Zaman

 

Sumber

Lina Ghassan Abu Zayed, “Students and staff work to bring Islamic University of Gaza back to life”, Al Jazeera, July 27, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/7/27/students-staff-work-to-bring-the-islamic-university-of-gaza-back-to-life

You might also like