Bencana Kelaparan Masih Mencengkram Gaza

(Foto: aa.com)

Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza kembali memasuki fase paling krusial. Pembatasan ketat arus masuk barang oleh Israel, yang beradu dengan krisis krisis pendanaan lembaga-lembaga kemanusiaan internasional, kini menghempas warga Palestina ke ambang bencana kelaparan akut. Di tengah kehancuran infrastruktur akibat perang yang berlangsung berlarut-larut, juga ketidakpastian hukum atas ratusan kali pelanggaran gencatan senjata Oktober 2025 oleh Israel, ketahanan fisik dan ekonomi penduduk yang bertahan hidup di wilayah Gaza kian menuju titik nadir.

Akses Perbatasan Dihambat, Pasar Lokal Lumpuh

Eskalasi krisis pangan periode ini dipicu oleh penghentian dan pembatasan ketat terhadap pengiriman barang komersial melalui perbatasan sejak pertengahan Oktober 2026. Kelompok hak asasi manusia Euro-Med Human Rights Monitor melaporkan bahwa tim di lapangan mengamati pasar-pasar lokal yang kian sepi dari pasokan barang dan diiringi lonjakan harga bahan pokok secara drastis.

Meskipun otoritas terkait sempat mengumumkan izin pembukaan kembali jalur komoditas secara terbatas pada 19 Oktober, keputusan tersebut tidak memberikan dampak signifikan di tingkat konsumen. Komoditas utama seperti buah-buahan dan sayuran segar tetap ditolak masuk secara sistematis.

Situasi makin tidak menentu akibat penutupan jalur perbatasan secara berkala pada beberapa pekan terakhir ini. Gangguan pasokan yang terus berulang ini memicu aksi pemborongan (panic buying) oleh sebagian warga yang masih memiliki modal tunai. Di sisi lain, hal ini mempercepat habisnya persediaan bahan pokok yang sudah langka dan mendorong harga pangan melambung jauh di luar jangkauan mayoritas penduduk.

Runtuhnya Industri Roti dan Krisis Pasokan Energi

Dampak domino dari pengetatan akses barang dan kelangkaan bahan bakar, kini merusak rantai pasok pangan paling mendasar di Gaza, yaitu produksi roti terigu. Kombinasi antara ketiadaan tepung dan terhentinya pasokan energi memaksa sejumlah fasilitas pengolahan pangan berhenti beroperasi.

  • Dua pabrik pembuat roti skala besar di Kota Gaza dilaporkan telah menutup total operasional mereka.
  • Asosiasi Pemilik Toko Roti Gaza memberi peringatan bahwa sedikitnya tujuh toko roti penyedia bantuan yang bermitra dengan Program Pangan Dunia (WFP) berada di ambang penghentian produksi akibat kehabisan stok bahan baku.
  • Estimasi volume pengiriman barang yang diizinkan masuk ke Gaza saat ini dicatat hanya mampu memenuhi maksimal 37% dari total kebutuhan riil populasi.

Krisis Pendanaan Lembaga Bantuan dan Potret Dampak Krisis  

Di tengah menyusutnya pasokan komersial, jaring pengaman terakhir warga melalui saluran bantuan kemanusiaan internasional justru ikut menyusut akibat defisit anggaran yang parah.

Program Pangan Dunia (WFP) mengonfirmasi bahwa alokasi dana bantuan yang diterima pada tahun 2026 kurang dari separuh dibandingkan anggaran operasional tahun-tahun sebelumnya. WFP membutuhkan dana mendesak sebesar $450 juta untuk menopang program bantuan selama enam bulan ke depan.

Defisit anggaran yang teramat besar ini memaksa WFP mengambil kebijakan pemangkasan bantuan secara masif yang berdampak langsung pada sedikitnya 500.000 jiwa.

Di tingkat mikro, kombinasi antara ketiadaan pendapatan, barang yang langka, dan pemangkasan bantuan telah meremukkan daya tahan ekonomi keluarga.

Manal Abu Rabie (39), seorang ibu dari enam anak yang mengungsi di kamp al-Salam, Deir el-Balah, menggambarkan betapa tipisnya batas antara bertahan hidup dan kelaparan. Harga seikat roti melambung dari 5 menjadi 12 shekel (sekitar $1,60 hingga $3,90), sementara minyak goreng botol kecil menyentuh harga 10 shekel ($3,20). Abu Rabie, yang mengidap hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung, kini menghadapi ancaman penghentian bantuan pangan mentah yang selama ini menjadi penyambung hidupnya, di tengah bayang-bayang musim dingin tanpa perlengkapan kasur dan selimut.

Huda Abu Leila, 30, says she is struggling to provide nutritious food for her five daughters amid rising prices and shortages in Gaza.
Huda Abu Leila. Sumber : Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera

Pengalaman serupa dirasakan oleh Huda Abu Leila (30) di Kota Gaza. Dengan suami yang mengalami cedera akibat perang genosida sehingga tidak dapat bekerja, Huda harus membesarkan lima putrinya dalam tenda darurat. Karena harga telur menyentuh angka 60 shekel ($19,40) per nampan dan harga sayuran seperti bawang serta tomat melonjak hingga 10–15 shekel ($3,25–$4,85) per kilogram, ia terpaksa menyajikan teh hangat dan roti kering sebagai konsumsi harian anak-anaknya.

Sementara itu, Raeda Soboh (40), ibu dari sembilan anak yang bertahan di Kota Gaza, menguraikan bahwa keluarganya bergantung penuh pada dapur umum (tekkiya). Bahan makanan bernutrisi tinggi seperti susu, daging, telur, dan keju telah menghilang dari piring makan anak-anaknya selama lebih dari delapan bulan.

Ancaman Malnutrisi Sistemik dan Dampak Kesehatan Anak

Dampak dari defisit nutrisi yang berkepanjangan ini tercermin secara nyata pada indikator kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok rentan seperti anak-anak. Menurut data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) dan UNICEF:

  • Lebih dari 3.000 anak usia enam bulan hingga lima tahun terus mendapatkan penanganan medis akibat masalah malnutrisi setiap bulannya.
  • Survei gizi menunjukkan bahwa 12,2 persen anak di bawah usia lima tahun di area yang terjangkau oleh peneliti telah mengalami stunting, menandakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.
  • Anak-anak dari keluarga yang terdampak melaporkan gejala klinis harian berupa rasa pusing, kelelahan parah, penurunan konsentrasi, hingga kecenderungan kehabisan energi untuk beraktivitas fisik ringan.

Spesialis anak dan ahli gizi di Kota Gaza, Dr. Mohamed B Alraee, memperingatkan bahwa pola makan tunggal bergizi rendah yang didominasi karbohidrat tanpa asupan protein memicu kemunculan kasus-kasus kwashiorkor—bentuk kekurangan gizi berat yang ditandai dengan pembengkakan pada organ kaki. Pemulihan medis untuk kasus malnutrisi tingkat menengah hingga berat membutuhkan waktu sedikitnya tiga hingga enam bulan, sehingga setiap penundaan masuknya pasokan nutrisi seimbang berpotensi membawa dampak permanen bagi tumbuh kembang satu generasi.

Desakan Intervensi Internasional

Berdasarkan penilaian Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) dan estimasi badan-badan PBB, sekitar 1,4 juta jiwa atau 67 persen dari total populasi Gaza saat ini berada pada tingkatan kerawanan pangan akut level krisis atau lebih buruk. Angka ini menegaskan bahwa ancaman kelaparan sistemik yang sempat mereda pasca-kesepakatan penanganan masa lalu kini kembali mengancam secara nyata.

Kantor Media Pemerintah Gaza bersama berbagai organisasi kemanusiaan internasional menegaskan bahwa kunci utama pencegahan krisis ini terletak pada kemauan politik global. Komunitas internasional dan negara-negara donor didesak untuk segera menutup defisit anggaran lembaga kemanusiaan, memulihkan rantai pasok bahan bakar dan tepung terigu untuk toko roti, serta menuntut pembukaan seluruh pintu perbatasan darat secara penuh dan tanpa syarat guna menjamin kelancaran arus barang komersial dan bantuan kemanusiaan.

Fuad Nur Zaman

Sumber:

Al Jazeera, “WFP cuts aid to ‌500,000 Palestinians in Gaza amid funding shortages”, Al Jazeera, October 29, 2026. https://www.aljazeera.com/news/2026/10/19/wfp-cuts-aid-to-500000-palestinians-in-gaza-amid-funding-shortages

Maram Humaid, “Famine fears as aid cuts and shipment restrictions coincide in Gaza”, Al Jazeera, October 19, 2026. https://www.aljazeera.com/news/2026/10/19/famine-fears-as-aid-cuts-and-shipment-restrictions-coincide-in-gaza

Maram Humaid, “Gaza children face worsening food shortages as prices rise and aid is cut”, Al Jazeera, October 21, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/10/21/gaza-children-face-worsening-food-shortages-as-prices-rise-and-aid-is-cut

Beyza Binnur Donmez, “Gaza faces renewed famine risk as food supplies dwindle: Rights group”, Anadolu Agency, October 22, 2026. https://aa.com.tr/en/middle-east/gaza-faces-renewed-famine-risk-as-food-supplies-dwindle-rights-group/4097263

 

 

You might also like
Hangatkan Palestina

Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.

Promo Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!