Laporan UNICEF: Satu Tahun Pasca-Gencatan Senjata, 60.000 Anak Gaza Terpaksa Hidup Tanpa Orang Tua

Jaur Gaza, NPC – Lebih dari 60.000 anak di Jalur Gaza kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat perang, sementara 800.000 anak lainnya kini hidup dalam pengungsian. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan bahwa situasi mencekam hidup tanpa kasih sayang orang tua terus membayangi anak-anak Palestina meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sejak Oktober 2025.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pejabat Komunikasi sekaligus Wakil Juru Bicara UNICEF, Riccardo Pires, dalam konferensi pers di Palais des Nations, Jenewa, sebagaimana dilaporkan Middle East Monitor, Senin (19/10/2026).

Pires menjelaskan bahwa mayoritas dari 800.000 anak yang mengungsi saat ini terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat atau bangunan rusak yang tidak aman. Selain kehilangan tempat tinggal dan sumber perlindungan keluarga, hampir seluruh anak dalam pengungsian tersebut membutuhkan dukungan kesehatan mental dan pelayanan psikososial guna mengatasi trauma perang.

Korban Tetap Berjatuhan Pasca-Gencatan Senjata

Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah berjalan sejak Oktober 2025, UNICEF mencatat bahwa tingkat keselamatan anak-anak di Gaza belum terjamin. Sedikitnya 340 anak dilaporkan gugur dan ratusan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel yang masih terjadi di Jalur Gaza pasca-pengumuman kesepakatan tersebut.

UNICEF melaporkan bahwa ancaman terhadap keselamatan anak-anak kini semakin berlipat ganda seiring mendekatnya musim dingin. Kondisi kamp pengungsian yang padat, fasilitas tempat tinggal yang tidak layak, serta sanitasi yang buruk berpotensi besar memicu krisis kesehatan baru.

Infrastruktur Sanitasi Lumpuh Total

Selain ancaman fisik dan psikologis, kehancuran infrastruktur dasar turut memperburuk kondisi masyarakat di Gaza. UNICEF mengungkapkan bahwa seluruh instalasi pengolahan air limbah di Jalur Gaza hingga saat ini masih tidak beroperasi.

Akibat kerusakan tersebut, sebagian besar air limbah yang tidak diolah dibuang langsung ke laut. Pencemaran lingkungan ini mempergiat risiko penularan penyakit bagi warga dan anak-anak di lokasi pengungsian yang memiliki akses sangat terbatas terhadap air bersih dan sanitasi yang layak. UNICEF menegaskan bahwa penanganan Gaza tidak cukup hanya berfokus pada pasokan makanan darurat, melainkan membutuhkan pemulihan infrastruktur perumahan, air, dan kesehatan.

Perkembangan Bantuan dan Akses Pendidikan

Di tengah krisis yang berlangsung, UNICEF mencatat adanya beberapa perkembangan positif pasca-gencatan senjata. Penurunan intensitas konflik memungkinkan peningkatan pengiriman bantuan kemanusiaan serta pasokan barang komersial yang membantu memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Di bidang pendidikan, UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 560.000 anak telah kembali mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan ini difasilitasi antara lain melalui keberadaan lebih dari 200 pusat pembelajaran yang didukung langsung oleh UNICEF.

Meski demikian, UNICEF menegaskan bahwa dimulainya kembali aktivitas pembelajaran belum menandakan pulihnya kehidupan anak-anak di Gaza. Pengungsian berkepanjangan, ancaman musim dingin, hancurnya infrastruktur, serta trauma kehilangan keluarga tetap menjadi tantangan utama. UNICEF mendesak agar proses pemulihan Gaza turut memprioritaskan jaminan keselamatan, tempat tinggal yang layak, layanan kesehatan mental, serta perlindungan menyeluruh bagi anak-anak.

(T.RS/S:MEMO)

You might also like