Gaza, NPC – Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, pada Minggu (11/02/2024), mengatakan bahwa Israel telah menyita kiriman bantuan yang setara dengan pasokan satu bulan penuh di pelabuhan Ashdod, Israel.
Philippe Lazzarini mengatakan bahwa UNRWA menghadapi semakin banyak hambatan administratif dari Israel dan beroperasi di kawasan yang tidak bersahabat di mana keputusan mulai mempengaruhi UNRWA dalam beroperasi.
Philippe Lazzarini melaporkan bahwa salah satu kontraktor yang menyediakan layanan administrasi di pelabuhan Ashdod memberi tahu UNRWA bahwa pihaknya tidak dapat lagi terus bekerja dengan UNRWA akibat adanya perintah dari otoritas Israel.
Lazzarini menambahkan bahwa akibat hambatan tersebut kiriman dari Turki sebanyak 1.049 kontainer perbekalan tertahan di pelabuhan. Bahan baku kontainer ini berisi tepung terigu, buncis, gula pasir, dan minyak goreng yang mencukupi kebutuhan satu juta orang lebih selama sebulan.
Sejauh ini, belum ada komentar dari otoritas Turki terkait penahanan kiriman bantuan tersebut. Juru bicara Kementerian Keuangan Israel mengatakan bahwa masalah ini berada di tangan penasihat hukum pemerintah, tanpa memberikan komentar lebih lanjut.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, pada pekan lalu mengumumkan pekan lalu bahwa Israel akan membatalkan pengecualian pajak yang telah diberikan kepada UNRWA.
Sementara itu, Komite Konstitusi dan Kehakiman Knesset Israel, menyetujui rancangan undang-undang untuk menghentikan aktivitas dan pekerjaan UNRWA di Yerusalem yang diduduki.
Hal ini terjadi ketika UNRWA menghadapi tuduhan Israel bahwa 12 dari sekitar 30.000 karyawan di Jalur Gaza ikut serta dalam serangan pada tanggal 7 Oktober. Menyusul tuduhan tersebut, sejumlah negara mengumumkan, bahwa mereka akan memotong dana untuk UNRWA, yang sedang melakukan kerja kemanusiaan untuk menyelamatkan jiwa penduduk sipil di Jalur Gaza. UNRWA yang tidak menerima bantuan yang cukup untuk melakukan kerja kemanusiaan di Palestina.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza, pada Selasa (13/02), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 28.473 orang dan 68.146 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan.
Israel terus melakukan genosida dengan melakukan pemboman secara brutal terhadap pusat-pusat pemukiman penduduk, tempat ibadah, sekolah, rumah sakit, hingga tempat-tempat penampungan pengungsi.
(T.FJ/S: Aljazeera)