Gaza, NPC – Di tengah tidak adanya sinyal akan tercapainya kesepakatan gencatan senjata, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza mengalami kemerosotan yang sangat serius. Tingkat kelaparan dan malnutrisi kini telah menyentuh titik kritis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tekanan dari komunitas internasional pun kian menguat, mendesak percepatan pengiriman bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.
“Saat ini kami sedang sekarat. Anak-anak kami juga sekarat. Kami benar-benar tak berdaya,” ungkap Ziad Musleh, seorang penduduk Gaza yang terpaksa mengungsi dari wilayah utara ke bagian tengah Jalur Gaza. Dalam wawancaranya dengan Agence France-Presse, ia menggambarkan penderitaan keluarganya secara emosional: “Anak-anak kami menangis, menjerit karena kelaparan. Mereka tertidur dalam rasa sakit dengan perut kosong.”
Keluhan Ziad mencerminkan jeritan lebih dari dua juta warga Gaza lainnya yang mengalami kelangkaan bahan pangan secara masif. Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa kelangkaan ini mendorong lonjakan harga yang drastis atas sedikit komoditas yang masih tersisa di pasar lokal. Carl Skau, Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, yang sempat meninjau Kota Gaza awal bulan ini, menyatakan dengan nada prihatin, “Ini adalah kondisi terburuk yang pernah saya saksikan sepanjang hidup saya.” Pekan sebelumnya, lembaga kemanusiaan Doctors Without Borders (MSF) juga melaporkan bahwa tim medis mereka mencatat peningkatan tertinggi kasus malnutrisi yang pernah terjadi di Jalur Gaza.
Mendapatkan Tepung Menjadi Hal yang Mustahil
Situasi ini semakin memburuk karena belum tampak adanya indikasi positif mengenai kemungkinan tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas, sementara kekhawatiran terhadap percepatan krisis kelaparan terus meningkat. Menurut laporan Reuters yang mengutip pejabat Kementerian Kesehatan Palestina, ratusan nyawa terancam dalam waktu dekat, disebabkan oleh membludaknya rumah sakit yang kini dipenuhi pasien yang mengalami pusing dan kelelahan parah akibat kelangkaan pangan serta terhambatnya distribusi bantuan kemanusiaan.
Warga Gaza melaporkan bahwa memperoleh bahan pangan dasar, seperti tepung gandum, telah menjadi hal yang nyaris mustahil. Dalam komunikasi mereka melalui aplikasi pesan kepada Reuters, sejumlah warga menyatakan hanya mampu makan satu kali dalam 24 jam terakhir, bahkan beberapa di antaranya mengaku tidak makan sama sekali.
Menanggapi situasi ini, berbagai badan PBB menggunakan media sosial untuk menggalang dukungan internasional agar bantuan segera dikirimkan ke Gaza. Salah satu unggahan dari Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menggambarkan penderitaan warga dengan menyatakan, “Pria, wanita, dan anak-anak yang kelaparan di Gaza berkumpul dalam kerumunan, menunggu secuil makanan. Sebagian dari mereka telah berhari-hari tidak makan.” Unggahan tersebut disertai foto-foto yang menunjukkan kondisi tragis para penduduk. Dalam unggahan lainnya, UNRWA juga mengutip pernyataan Juliet Touma, Direktur Komunikasi badan tersebut, yang menyatakan bahwa “satu dari sepuluh anak di Gaza mengalami malnutrisi.”
Razan, Anak Kecil dengan Wajah Kelaparan
Berbagai media internasional terus memberitakan krisis kelaparan yang melanda Gaza, terutama setelah serangan udara yang menargetkan warga sipil yang tengah mengantre untuk menerima bantuan kemanusiaan. Salah satu laporan emosional disampaikan oleh CNN, yang menyoroti kisah tragis seorang anak perempuan bernama Razan Abu Zaher, berusia empat tahun, yang meninggal pada hari Ahad, 20 Juli, akibat kelaparan dan malnutrisi. CNN mengungkap bahwa mereka pernah bertemu dengan Razan sebulan sebelumnya, dan saat itu kondisinya sudah sangat lemah.
Sementara itu, jaringan televisi publik Amerika Serikat, PBS, menerbitkan laporan visual berjudul “Warga Palestina Menggambarkan Risiko Kematian untuk Mendapatkan Bantuan Makanan di Gaza”, yang menunjukkan betapa besar bahaya yang harus dihadapi warga demi memperoleh makanan. Di Jerman, media Second German Television (ZDF) turut memberitakan kejadian serupa dengan tajuk “PBB Mengkritik Israel Setelah Tembakan Mematikan terhadap Orang-orang yang Kelaparan”, yang menyoroti kecaman dunia internasional atas insiden berdarah tersebut.
Program Pangan Dunia (WFP) sebelumnya menyampaikan bahwa sebanyak 25 truk bantuan telah berhasil masuk ke Gaza untuk menyalurkan bantuan kepada komunitas yang mengalami kelaparan akut. Namun, truk-truk tersebut disambut oleh kerumunan besar warga yang kemudian menjadi sasaran tembakan. WFP menyatakan bahwa tindakan kekerasan terhadap masyarakat yang sedang berusaha memperoleh bantuan kemanusiaan adalah “sama sekali tidak dapat diterima.”
Di sisi lain, pihak militer Israel mengklaim bahwa tembakan yang dilepaskan merupakan tembakan peringatan yang ditujukan untuk menetralisasi ancaman langsung di lokasi. Mereka juga membantah laporan yang menyebutkan tingginya jumlah korban jiwa. Pemerintah Israel secara berulang menegaskan bahwa kehadiran pasukan mereka di sekitar lokasi distribusi bantuan bertujuan untuk mencegah agar bantuan tersebut tidak jatuh ke tangan kelompok bersenjata di Gaza. Seorang juru bicara militer menyatakan bahwa “menyusul laporan adanya korban sipil dalam insiden di titik distribusi bantuan, penyelidikan menyeluruh telah dilakukan oleh Komando Selatan,” sambil menambahkan bahwa insiden-insiden seperti ini sedang dalam proses evaluasi internal oleh pihak militer.
Deklarasi Kelaparan?
Hingga kini, lembaga-lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan terjadinya kelaparan di Gaza. Menurut laporan Reuters, deklarasi semacam itu mensyaratkan terpenuhinya sejumlah indikator yang dikaji melalui sistem Klasifikasi Fase Terpadu Ketahanan Pangan (Integrated Food Security Phase Classification/IPC), yang dirancang untuk menilai tingkat keparahan krisis pangan berdasarkan parameter ilmiah yang ketat.
Reuters juga melaporkan bahwa pada bulan Juni lalu, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bersama Program Pangan Dunia (WFP) merilis data yang menunjukkan sekitar 500.000 penduduk Gaza berada dalam kategori kerawanan pangan paling parah—fase kelima dalam sistem IPC—yang merupakan tingkat keparahan tertinggi dalam skala tersebut. Laporan itu memperingatkan bahwa kelompok masyarakat ini akan menghadapi ancaman kelaparan nyata pada akhir September apabila tidak segera dilakukan intervensi kemanusiaan yang memadai.
Sementara itu, sejak 2 Maret, otoritas Israel telah sepenuhnya menutup perbatasan dan menghentikan pengiriman bantuan ke wilayah Gaza. Pihak Israel menuduh kelompok Hamas menyalahgunakan bantuan dengan mengambil alih pasokan untuk kebutuhan militernya, meskipun hingga saat ini belum ada bukti konkret yang mendukung tuduhan tersebut. Di sisi lain, Hamas membantah keras klaim tersebut.
Sebagai informasi tambahan, Hamas merupakan sebuah kelompok bersenjata yang berbasis di Palestina dan berideologi Islam. Organisasi ini telah dikategorikan sebagai kelompok teroris oleh sejumlah negara, termasuk Jerman, Uni Eropa, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya.
Sumber: dw.com/ar/