Ramallah Dikepung: Militer Israel Gencarkan Penggerebekan di Tengah Isolasi Total Tepi Barat

Ramallah, NPC – Pasukan pendudukan Israel kembali melancarkan gelombang penggerebekan massal di berbagai wilayah Ramallah dan al-Bireh, Tepi Barat yang diduduki, pada Senin (6/7/2026). Sumber lokal melaporkan, konvoi kendaraan militer Israel merangsek masuk ke lingkungan Sateh Marhaba di al-Bireh. Di sana, puluhan tentara bersenjata lengkap merebut paksa atap sebuah bangunan tempat tinggal warga, menjadikannya pos militer yang menghadap langsung ke koloni ilegal Psagot—sebuah permukiman yang dibangun di atas tanah rampasan milik warga Palestina.

Pada saat yang sama, ketegangan pecah di barat laut Ramallah ketika pasukan Israel menerobos masuk ke kota Beit Rima dan Kafr Ein. Rentetan gas air mata dan peluru baja berlapis karet ditembakkan secara membabi buta ke arah pemukiman, memicu konfrontasi sengit dengan warga setempat. Tak jauh dari sana, pergerakan militer juga dilaporkan terjadi di desa al-Mughayyir, di mana pasukan Israel menyebar dan memblokade beberapa lingkungan sekaligus.

Sistem Hukum Militer: Tanpa Surat Perintah, Tanpa Hak Suara

Aksi penggerebekan rumah seperti ini telah menjadi teror harian yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat. Menggunakan dalih mencari “buronan”, militer Israel bebas menggeledah rumah kapan saja dan di mana saja tanpa memerlukan surat perintah resmi.

Di bawah hukum militer Israel, otoritas eksekutif, legislatif, dan yudisial penuh atas 3 juta warga Palestina di Tepi Barat berada mutlak di tangan komandan militer. Sistem ini berjalan secara sewenang-wenang tanpa memberikan hak suara sedikit pun bagi warga Palestina untuk membela diri.

Penjara Terbuka: Ratusan Pos Pemeriksaan dan Isolasi Wilayah

Operasi militer kali ini berjalan beriringan dengan pengetatan isolasi total di Tepi Barat. Kota dan provinsi sengit dipisahkan satu sama lain menggunakan gerbang militer, barikade, dan blok-blok beton. Kondisi ini diperparah oleh serangan terstruktur dari kelompok pemukim ekstremis Israel yang terus meneror warga guna menggusur mereka dari tanah leluhur demi memperluas koloni ilegal Yahudi.

Mobilitas warga kini terkunci oleh jaringan birokrasi dan fisik yang sangat kompleks. Berdasarkan data terbaru, terdapat sekitar 898 pos pemeriksaan (checkpoint) serta gerbang tetap maupun portabel yang mengepung Tepi Barat. Pembatasan ini mencakup:

  • 146 gerbang baru yang dipasang pasca-peristiwa 7 Oktober 2023.
  • 18 gerbang tambahan yang terus dibangun sejak awal tahun 2025.

Lebih dari 200 pangkalan militer serta jalan khusus yang hanya boleh dilalui oleh pemukim Israel.

Kombinasi antara penutupan wilayah dan dalih keamanan ini dinilai sengaja dirancang untuk memperkuat cengkeraman pendudukan militer Israel yang telah berlangsung selama 59 tahun di Tepi Barat. Sebuah proyek kolonialisme modern yang terus ditegakkan lewat siklus kekerasan rutin yang kerap kali mematikan bagi warga Palestina.

(T.RA/S: WAFA)

 

You might also like