Kolaborasi NPC dan Al-Ikhlas Lampoko Perkuat Sistem Pengasuhan Santri, Jadi yang Pertama di Sulawesi Barat

MAMUJU, NPC – Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlas Lampoko, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengasuhan Santri pada 27 Juni hingga 1 Juli 2026 sebagai upaya meningkatkan kapasitas pengajar dan pengasuh dalam membangun sistem pengasuhan yang aman, humanis, dan profesional. Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Sistem Pengasuhan Santri yang Humanis, Islami, dan Profesional” ini merupakan hasil kolaborasi dengan Nusantara Palestina Center (NPC).

Bimbingan teknis tersebut menjadi bagian dari program Pemberdayaan Bidang Pendidikan NPC yang berfokus pada penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pendidik, khususnya di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Program ini bertujuan mendukung terwujudnya pendidikan yang berkualitas, aman, dan inklusif bagi seluruh anak Indonesia.

Perwakilan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlas Lampoko menyampaikan bahwa saat ini pondok mengasuh sekitar 600 santri. Bimtek diikuti oleh 31 peserta yang terdiri atas 15 peserta ikhwan dan 16 peserta akhwat, meliputi para pengajar, pembina asrama, serta tenaga kependidikan.

Pelaksanaan kegiatan dinilai penting seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap berbagai persoalan di lingkungan pendidikan, terutama isu perundungan (bullying) dan penyimpangan sosial yang menjadi perhatian nasional. Melalui pelatihan ini, pondok berupaya membangun sistem pengasuhan yang lebih adaptif, preventif, dan profesional dalam menghadapi tantangan pengasuhan santri di era modern.

Kegiatan tersebut juga menjadi tonggak sejarah karena merupakan Bimbingan Teknis Pengasuhan Santri pertama yang diselenggarakan oleh pondok pesantren di Sulawesi Barat. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model pembelajaran bagi pesantren lain di daerah tersebut.

Direktur Eksekutif Nusantara Palestina Center (NPC), Masri Udin, mengatakan diskusi mengenai berbagai persoalan sosial di lingkungan pesantren, seperti bullying maupun penyimpangan perilaku seksual, masih sangat terbatas. Menurutnya, forum yang secara khusus membahas isu tersebut masih sedikit sehingga penyelenggaraan bimtek ini menjadi langkah progresif dalam memperkuat sistem perlindungan santri.

Masri Udin juga menilai perubahan psikologi generasi santri, perkembangan teknologi informasi, serta perubahan budaya masyarakat menghadirkan tantangan baru bagi lembaga pendidikan Islam. Karena itu, peningkatan kualitas tenaga pendidik menjadi faktor penting dalam menjawab perubahan tersebut.

“Investasi terbesar dalam pendidikan bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun kualitas manusia yang mendidik di dalamnya. Sarana yang baik tidak akan maksimal apabila kapasitas pengajarnya belum mampu menjawab tantangan pendidikan masa kini,” katanya.

Ia berharap Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlas Lampoko dapat menjadi lokomotif perubahan dalam pengembangan sistem pengasuhan pesantren di Sulawesi Barat sekaligus menjadi contoh praktik baik bagi pesantren lainnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlas Lampoko menyampaikan bahwa berbagai peristiwa yang terjadi di sejumlah lembaga pendidikan menjadi pengingat penting bagi seluruh pesantren untuk terus memperkuat kualitas pengasuhan. Menurutnya, ustaz dan ustazah tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai wali sekaligus orang tua bagi santri selama berada di lingkungan pesantren.

Ia menekankan pentingnya komitmen bersama dalam memberikan pendampingan yang penuh kasih sayang, disiplin, dan profesional. Pelaksanaan Bimbingan Teknis Pengasuhan Santri diharapkan menjadi salah satu solusi dalam menjawab berbagai tantangan pengasuhan yang dihadapi pesantren saat ini.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan juga menyampaikan optimisme terhadap masa depan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Lampoko melalui semangat “From Lampoko Around the World.” Saat ini, sejumlah alumni pondok telah melanjutkan pendidikan ke berbagai negara di luar negeri sebagai bukti bahwa pesantren mampu mencetak generasi yang berdaya saing global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi mengenai filosofi pengasuhan santri, komunikasi efektif, kesehatan mental, perlindungan anak, manajemen konflik, penguatan karakter, penanganan bullying, pencegahan kekerasan dan penyimpangan seksual, pengembangan lingkungan pesantren yang aman, hingga penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL). Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis praktik, peserta tidak hanya memperoleh penguatan konsep, tetapi juga keterampilan dalam membangun sistem pengasuhan yang lebih responsif terhadap kebutuhan santri.

Dukungan terhadap penyelenggaraan Bimtek Pengasuhan Santri ini menjadi bagian dari komitmen NPC sebagai lembaga amil zakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya melalui pengembangan kapasitas tenaga pendidik di wilayah 3T. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat layanan pendidikan berbasis pesantren sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan mampu melahirkan generasi muslim yang unggul, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan zaman.

You might also like