Uni Emirat Arab dan Spanyol Kompak Kutuk Serangan Ekstremis Yahudi di Tepi Barat

Tepi Barat, NPC– Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) mengecam keras pembakaran sebuah masjid di Tepi Barat yang diduduki oleh kelompok ekstremis Yahudi. Abu Dhabi menyebut aksi tersebut sebagai tindakan ekstremis provokatif serta mendesak pemerintah Israel bertanggung jawab dan menghukum para pelakunya.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri UEA mengutuk serangan yang dilakukan kelompok ekstremis Yahudi terhadap desa-desa Palestina, termasuk pembakaran masjid di Desa Kur, selatan Tulkarem. UEA memperingatkan bahwa pembiaran terhadap aksi-aksi semacam itu hanya akan memperdalam kebencian, rasisme, dan ketidakstabilan di kawasan.

UEA juga menyerukan masyarakat internasional untuk mengambil langkah nyata menghentikan pelanggaran Israel di wilayah Palestina yang diduduki, mendukung upaya menghidupkan kembali proses perdamaian Timur Tengah, serta menjaga peluang terwujudnya solusi dua negara.

Sementara itu, Pemerintah Spanyol juga mengecam keras meningkatnya kekerasan yang dilakukan kelompok ekstremis Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Melalui Kementerian Luar Negeri, Madrid menyatakan keprihatinan atas berlanjutnya serangan terhadap warga sipil Palestina yang dinilai terjadi dalam suasana impunitas.

Spanyol mendesak pemerintah Israel segera mengambil langkah konkret untuk mengendalikan situasi, memastikan para pelaku kekerasan diadili, menghentikan perluasan pendudukan di wilayah Palestina, serta mengakhiri perlindungan terhadap aksi kekerasan yang dilakukan kelompok ekstremis Yahudi terhadap warga sipil Palestina. Madrid juga menegaskan dukungannya terhadap solusi dua negara.

Kecaman tersebut muncul setelah kelompok ekstremis Yahudi menyerang dua masjid di Tepi Barat dalam rentang waktu beberapa jam pada Minggu (26/7).

Menurut kantor berita resmi Palestina WAFA, para pelaku membakar sebuah masjid di Desa Kur, selatan Tulkarem, hingga menyebabkan kerusakan pada bangunan dan bagian dalam masjid. Sebelum meninggalkan lokasi, mereka juga mencoret dinding masjid dengan grafiti bernada rasis.

Beberapa jam kemudian, kelompok ekstremis Yahudi juga membakar Masjid Al-Rahma yang masih dalam tahap pembangunan di Kota Qusra, selatan Nablus. Wali Kota Qusra, Abdel Azim Wadi, mengatakan api menghanguskan material kayu dan berbagai peralatan konstruksi yang berada di lokasi pembangunan.

Serangan juga meluas ke kawasan Al-Dubbat di Beit Furik, sebelah timur Nablus. Kelompok ekstremis Yahudi membakar rumah milik seorang warga Palestina hingga mengalami kerusakan sebagian, sementara grafiti berisi ajakan balas dendam terhadap warga Arab ditinggalkan di lokasi.

Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengecam pembakaran masjid tersebut sebagai kejahatan keji terhadap tempat suci umat Islam. Kementerian mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 sedikitnya 45 masjid di Tepi Barat telah menjadi sasaran serangan kelompok ekstremis Yahudi yang dilakukan di bawah perlindungan pasukan militer Israel.

Serangan terhadap dua masjid itu terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat dalam beberapa hari terakhir. Pada Jumat (24/7), kelompok ekstremis Yahudi yang didukung tentara Israel menyerang Kota Tell, dekat Nablus, yang menyebabkan empat warga Palestina gugur. Dalam insiden yang sama, dua warga Israel juga dilaporkan tewas.

Pasca-insiden tersebut, militer Israel mengepung Kota Nablus dan sejumlah wilayah sekitarnya, melakukan penangkapan massal, serta mengumumkan persiapan operasi militer berskala besar di seluruh Tepi Barat.

Berdasarkan data resmi Palestina, sejak Oktober 2023 sedikitnya 1.182 warga Palestina telah gugur di Tepi Barat, ribuan lainnya terluka, dan sekitar 24.000 orang ditangkap pasukan Israel.

Sementara itu, Komisi Palestina untuk Perlawanan terhadap Kolonisasi dan Tembok Pemisah mencatat kelompok ekstremis Yahudi telah melakukan 3.488 serangan terhadap warga Palestina dan harta benda mereka selama paruh pertama 2026. Serangan-serangan tersebut mencakup pembakaran rumah, penembakan, perampasan lahan, hingga pendirian pos-pos permukiman ilegal.

(T.RS/S: Middle East Monitor, Anadolu Agency)

 

You might also like