Pengamat Politik: Israel akan Habisi Para Tokoh Perlawanan Palestina

Jalur Gaza, SPNA – Para pengamat politik mengungkapkan perbedaan pendapat mereka berkenaan dengan ancaman agresi yang dilemparkan Israel terhadap perlawanan Palestina di Jalur Gaza. Sebagian pengamat menganggap ancaman tersebut sebagai langkah untuk memperbaiki situasi di lapangan, sementara sebagian lain membahasakannya sebagai ancaman kosong, mengingat kondisi internal Israel sendiri yang tidak memungkinkan untuk menghadapi perlawanan hebat rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Namun begitu kedua kubu pengamat bersepakat tentang pentingnya pengambilan langkah pencegahan keamanan dan militer oleh perlawanan Palestina baik di dalam maupun luar negeri. Dalam wawancara terpisah dengan Palestine Today, para pengamat politik mengaku khawatir akan keselamatan para tokoh perlawanan Palestina. Kurangnya kesiapan pasukan Israel untuk memasuki perang baru, apalagi setelah segala agresi Israel terhadap perlawanan selama ini berakhir buntu, melahirkan opini kemungkinan Israel untuk merubah target dan melakukan serangan kejutan terhadap para tokoh perlawanan Palestina.

Sesuatu Akan Terjadi Tiba-Tiba!

Pengamat politik, Islam Shahwan mengutarakan keyakinanannya bahwa para pemimpin pasukan pendudukan telah melakukan pembicaraan khusus mengenai pengumpulan kekuatan besar mereka untuk menghadapi perlawanan Jalur Gaza. Menurutnya Israel tidak akan membiarkan rudal yang mengenai mereka beberapa hari kemarin berlalu begitu saja tanpa memberi balasan yang menyakitkan bagi perlawanan Palestina.

“Memang benar kita terbiasa dengan pengkhianatan pendudukan, tetapi ancaman yang mereka lemparkan menunjukkan bahwa sesuatu akan terjadi secara tiba-tiba. Mungkin di Gaza, mungkin terhadap partai, bahkan mungkin menargetkan para pemimpin aksi nasional di luar negeri. Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati.”

Shahwan mengaku marasakan nada kekalahan secara psikologis dan realita dalam ancaman Israel tersebut; melihat bagaimana Israel kalah dengan perlawanan Palestina dalam akumulasi kekuatan, terutama senjata misil, juga keunggulan Palestina dalam mengokohkan pertahanan yang seimbang.

Shawan menyebutkan bahwa ancaman Israel tersebut datang dari lemahnya moral angkatan bersenjata pendudukan, setelah berkali-kali terjadi pertukaran anggota dalam barak militer Israel karena takut dan tidak mampu menghadapi perlawanan Palestina. Apalagi setelah Israel melihat dengan mata kepala mereka sendiri betapa terorganisirnya pergerakan perlawanan Palestina, dan bagaimana perlawanan mampu membaca dengan baik taktik berikut strategi pasukan pendudukan.

“Waspada adalah suatu hal yang wajib pada saat-saat seperti ini,” pungkasnya.

Peristiwa Tak Terduga Yang Bisa Mengubah Suasana

Sementara itu penulis dan pengamat politik, Khaled Sadiq mengatakan bahwa semakin hari semakin banyak kejadian yang meningkatkan bara api antara perlawanan Palestina dan tentara pendudukan Israel, yang paling penting terkait dengan mogok makan tahanan Palestina Maher Al-Akhras, dan ancaman perlawanan untuk bertindak jika sesuatu terjadi terhadapnya.

Sadiq memprediksikan bahwa konfrontasi militer akan meletus antara perlawanan dan tentara pendudukan jika tahanan bisu tersebut meninggal, akibat mogok makan yang telah dilakukannya 85 hari berturut-turut.

Berkenaan dengan ancaman Israel, ia berkata: “Pendudukan menggunakan bahasa ancaman dan intimidasi terhadap perlawanan Palestina dan Jalur Gaza, dalam upaya untuk mengirim pesan kepada perlawanan bahwa mereka akan melangkah jauh dalam berhadapan dengan Gaza, jika perlawanan Palestina terus menanggapi setiap perkembangan yang terjadi.”

Sadiq menyebutkan bahwa ia sama sekali tidak percaya bahwa pendudukan serius dengan ancamannya terhadap Gaza, karena kondisi internal Israel yang memburuk secara ekonomi, di mana mereka mengalami kemerosotan yang signifikan, sementara pemerintah Israel sendiri gagal dalam menghadapi pandemi Corona.

Sadiq menyatakan bahwa pejabat politik, keamanan, dan militer Israel sepenuhnya menyadari bahwa konfrontasi militer dengan Gaza dapat menjadi bumerang, terutama mengingat front Israel yang longgar akan kemungkinan infeksi virus Corona dalam jumlah tinggi. Angka infeksi akan meningkat secara dramatis jika jutaan orang Israel memasuki tempat penampungan yang tidak memadai tersebut.

Selain itu, menurutnya pemerintah Israel saat ini sedang fokus pada normalisasi dengan Emirates, Bahrain dan Sudan. Proses normalisasi ini membutuhkan ketenangan di lapangan; jangan sampai pihak-pihak terkait malah bersimpati dengan situasi Palestina di lapangan, sehingga dapat menggagalkan upaya Israel untuk menyelesaikan kursus normalisasi dengan rezim Arab.

“Skenario perang dan konfrontasi tidak mungkin terjadi kecuali jika terjadi peristiwa tak terduga di lapangan. Namun, ini tidak berarti bahwa perlawanan bisa bergantung sepenuhnya dengan pendapat para pengamat ini. Perlawanan harus tetap waspada akan kemungkinan serangat kejutan Israel, baik di dalam maupun luar negeri. Kelicikan Israel sulit dihindari,” ucapnya mengingatkan.

Gaza Berada Di Puncak Daftar

Seorang ahli militer Israel mengatakan, “Pimpinan militer Israel baru-baru ini telah memperbarui daftar ancaman yang akan dihadapi Israel, terutama mengingat situasi regional saat ini, serta gesekan yang terjadi di beberapa sektor perang. Sebagian tantangan ini harus diatasi, dan dalam tempo waktu sesingkat-singkatnya.”

Ron Ben Yishai, wartawan yahudi yang memiliki kedekatan dengan para pemimpin tertinggi militer Israel, dan meliput perang Israel di Lebanon dan Palestina, menyebutkan dalam sebuah artikel yang diterbitkan di surat kabar “Yedioth Aharonoth”, bahwa sementara Iran menunjukkan perlambatan di Suriah, mereka mungkin akan mengejutkan Israel dengan senjata nuklir mereka. Sedangkan front Tepi Barat menurutnya akan terus mengalir berbagai peristiwa.

“Hizbullah menanti waktu untuk balas dendam, dengan kesiapan tentara Israel yang terus berlanjut, tetapi Gaza memiliki kemampuan yang lebih eksplosif. Jalur Gaza tiba-tiba naik ke puncak daftar prioritas tentara Israel, karena keadaannya yang tidak stabil dan eksplosif. Dan jika kita tidak segera mencapai penyelesaian yang stabil, kita mungkin akan menemukan diri kita dalam kecamuk yang akan memaksa kita untuk memasuki Gaza dengan kekuatan besar.”

Menurutnya penyelesaian yang stabil antara Israel dengan Hamas yang menguasai Gaza itu mencakup transfer keuangan Qatar selama setahun, izin masuk pekerja Gaza ke Israel, proyek desalinasi air, pembentukan zona industri, dan penyelesaian masalah para tahanan Palestina dan mereka yang hilang.

“Pelabuhan dan bandara seperti yang sedang diupayakan Mesir bukanlah hal yang termasuk urgen dalam menengahi Israel dan Hamas. Yang diinginkan oleh mereka hanyalah hal-hal yang dapat meringkankan penderitaan ekonomi dan sosial penduduk Jalur Gaza. Sementara pasukan pendudukan malah merencanakan pergerakan memasuki Gaza.”

Ron menekankan bahwa Israel dan Hamas sama-sama tidak menginginkan pergerakan semacam itu, tetapi seperti yang telah terjadi selama bertahun-tahun, kedua pihak mungkin menemukan diri mereka telah bergerak terlalu jauh, dan inilah alasan kenapa Gaza menempati posisi puncak dalam tangga perhatian staf umum pendudukan.

Ketenangan Yang Menipu

Pengamat militer untuk Hebrew Channel 12, Nir Dafouri, mengatakan, “Ketenangan di Jalur Gaza saat ini menipu, dan justru ada kemungkinan untuk terjadinya kecamuk baru.”

Nir Dafouri mengatakan bahwa kegagalan Israel dalam membalas rudal yang diluncurkan beberapa hari lalu dari Jalur Gaza adalah alasan untuk meluncurkan balasan yang lebih kuat nantinya.

Menurutnya tentara pendudukan tidak ingin ditarik ke dalam permainan perlawanan Palestina, menekankan bahwa balasan yang akan diluncurkan akan berbeda dan akan sangat menyakitkan bagi faksi-faksi di Gaza.

Pengamat yahudi tersebut menambahkan bahwa penundaan dalam membalas adalah metode baru, yang menunjukkan adanya perubahan tertentu, di mana diskusi telah berlangsung baru-baru ini di dalam sistem militer dan keamanan Israel tentang metode ini.

Menurutnya, di balik layar, pembicaraan rahasia sedang berlangsung antara Israel dan Qatar, dalam rangka untuk mencapai ketenangan jangka panjang.

Dafouri menyebutkan bahwa sebagai imbalan atas upaya untuk mendiamkan diri, tentara Israel sedang menyelesaikan persiapannya untuk pergolakan yang meluas di Gaza, dan bahwa Komando Front Selatan sedang memperbarui instruksi perang serta meningkatkan kemampuan intelijen dan aktivasi tembakan.

Mengingat Corona, konfrontasi menurut Dafouri tidak akan menjadi pilihan pertama. Israel menurutnya bahkan memiliki banyak peluang untuk menyerang faksi-faksi di Gaza, tetapi saat ini lebih memilih mediasi, dan bahwa para pemimpin faksi di Gaza harus tahu bahwa ketenangan ini adalah sebuah pesan, dan penghitungan mundur untuk melancarkan sesuatu yang besar.

(T.NA/S: Paltoday)

You might also like