Pemerintah Israel Cemas, ICC Akan Gelar Sidang Terkait Tuduhan Genosida di Gaza

Jalur Gaza, NPC – Surat kabar Ibrani Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa pimpinan politik Israel belum memutuskan apakah akan menghadiri sidang di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), mendatang dan sedang mempertimbangkan untuk meminta penundaan.

Pada hari Selasa,(14/04/2204), ICC mengumumkan akan menggelar sidang pada hari Kamis dan Jumat untuk membahas permintaan Afrika Selatan tentang “tindakan ekstra” dalam kasus tuduhan genosida terhadap Israel terkait operasi IDF di Rafah.

Menurut Yedioth Ahronoth, para pejabat Israel belum memutuskan apakah akan berpartisipasi dalam sidang ICC atau tidak, tanpa mengungkapkan sumber informasi mereka.

Sidang umum akan diadakan di Afrika Selatan pada hari Kamis (16/05/2024) dan dilanjutkan di Israel sehari setelahnya. Namun, partisipasi Israel dalam sidang tersebut masih dalam pembahasan, dan kepemimpinan politik belum mengambil keputusan.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah meminta penundaan, dengan alasan Israel tidak memiliki kesiapan. Israel khawatir ICC akan menyetujui permintaan Afrika Selatan dan memerintahkan penghentian pertempuran di Rafah dalam waktu dekat.

Yedioth Ahronoth mengutip pernyataan seorang pakar hukum internasional yang tidak disebutkan namanya, yang mengatakan bahwa pengadilan mempercepat sidang ini akibat provokasi aktivis sayap kanan Israel yang menghalangi pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan perampasan terhadap bantuan dari Yordania yang telah terdokumentasi.

Insiden ini sudah banyak diliput media dunia, menimbulkan pertanyaan tentang “siapa yang mengatur hal ini di Israel?” dan mengapa para aktivis ini tidak dicegah merusak konvoi bantuan. Apakah ini tindakan spontan atau terencana?

Pada Senin malam, media Ibrani melaporkan bahwa ekstremis Israel menjarah dan merusak sembilan truk bantuan yang menuju Gaza dari Yordania, dan membakar setidaknya satu truk di penyeberangan Tarqumiya di Provinsi Khalil, selatan Tepi Barat.

Jumat lalu, Afrika Selatan mengajukan “permintaan mendesak” kepada ICC untuk mengambil tindakan esktra di tengah serangan Israel di Gaza, terutama di kota Rafah.

Dalam sebuah pernyataan, ICC mengatakan Afrika Selatan menyatakan bahwa langkah sementara yang sebelumnya diperintahkan kepada Israel, tidak cukup mengatasi perubahan keadaan dan situasi.

Afrika Selatan meminta pengadilan untuk mengambil langkah tambahan dan mengubah langkah sebelumnya di tengah operasi Israel di Rafah.

Pada 26 Januari, pengadilan memerintahkan, dalam kasus yang diajukan Afrika Selatan pada 29 Desember 2023, agar Israel mengambil “langkah-langkah untuk mencegah tindakan genosida terhadap warga Palestina dan memperbaiki situasi kemanusiaan di Jalur Gaza.”

Sayangnya, tentara Israel justru melanjutkan operasi militernya di Rafah sejak 5 Mei lalu, mengabaikan peringatan regional dan internasional, akibatnya sekitar 1,4 juta pengungsi di wilayah tersebut terancam.

Perang Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023, telah menyebabkan puluhan ribu warga sipil tewas dan terluka, kebanyakan anak-anak dan wanita, serta kehancuran besar-besaran, yang menyebabkan Israel dibawa ke Pengadilan Internasional dengan tuduhan “genosida.”

(T.RS/S:TRTArabic)

 

You might also like