Gaza, NPC – Lembaga amal internasional yang bertujuan memerangi kemiskinan dan ketidakadilan, Oxfam, pada Senin (26/02/2024), memperingatkan bahwa “waktu emas” produksi pertanian di Gaza sedang dihancurkan oleh pemboman Israel dan penutupan kawasan utara Jalur Gaza, yang akan memperburuk malnutrisi dan kelaparan akibat hilangnya produksi pertanian lokal.
Oxfam mengatakan dalam sebuah laporan bahwa dengan pembatasan ketat yang diberlakukan Israel terhadap bantuan kemanusiaan, lahan pertanian Jalur Gaza yang menjadi sumber terbesar buah-buahan dan sayuran, akan hancur.
“Hilangnya produksi pertanian lokal memperburuk malnutrisi dan kelaparan, sehingga menyebabkan ketakutan akan hal terburuk yang akan terjadi bagi sekitar 300.000 orang yang sekarang masih tinggal di utara Jalur Gaza,” sebut Oxfam.
Ancaman Genosida
“Risiko genosida meningkat di utara Gaza akibat pemerintah Israel mengabaikan keputusan penting Mahkamah Internasional, untuk menyediakan layanan dasar dan bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan,” kata Sally Abi Khalil, Direktur Oxfam di Timur Tengah dan Afrika Utara.
Asosiasi Pengembangan Pertanian Palestina (PARC), mitra Oxfam, memperkirakan bahwa hampir seperempat lahan pertanian di utara Gaza dihancurkan secara total oleh Israel, dengan menghancurkan rumah kaca, bangunan, dan 70 persen lahan pertanian. Kapal penangkap ikan di Jalur Gaza juga dibom dan dihancurkan tentara Israel, bahkan pada hari-hari pertama pemboman dan serangan.
Tanpa Air dan Listrik
Direktur Operasi Asosiasi Pengembangan Pertanian Palestina di Gaza, Hani Al-Ramlawi, mengatakan kepada Oxfam, bahwa seharusnya dua bulan ke depan seharusnya menjadi waktu terbaik untuk panen dan produksi hasil pertanian.
“Dua bulan ke depan seharusnya menjadi waktu emas untuk produksi. Namun, jika pun lahan pertanian itu belum dihancurkan, akan mustahil untuk mengaksesnya. Setiap petani yang mencoba melakukan hal tersebut akan menjadi sasaran langsung oleh tentara Israel. Tanpa air dan tanpa listrik, lahan pertanian tidak ada artinya,” kata Hani Al-Ramlawi.
Oxfam juga mencatat meluasnya kasus malnutrisi dan laporan kematian akibat kelaparan. Mitra Oxfam berbicara tentang orang-orang yang meminum air toilet, memakan tumbuhan liar, dan menggunakan pakan ternak untuk membuat roti. Penduduk Palestina berbicara tentang kelaparan yang dahsyat dan ketakutan akan kelaparan tanpa adanya kemajuan dalam akses bantuan dan keamanan.
“Anda tidak dapat membayangkan kondisi ini,” kata Hani Al-Ramlawi.
Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Israel mencegah semua konvoi bantuan yang direncanakan dikirim ke utara, dalam beberapa minggu terakhir, di mana bantuan terakhir yang diizinkan masuk adalah pada tanggal 23 Januari. Utara Gaza terputus total dari bantuan kemanusiaan.
“Bentang alamnya hancur total. Para petani, manusia, hewan tidak punya apa-apa. Persyaratan minimum untuk tetap bisa bertahan hidup tidak ada lagi di utara Gaza,” kata Hani Al-Ramlawi.
Anak-anak Alami Malnutrisi Parah
Mitra Oxfam lainnya dan salah satu dari sedikit organisasi yang masih bekerja di utara Gaza, Juzoor, menyatakan keprihatinan serupa mengenai tingginya tingkat kekurangan gizi dan kelaparan.
Juzoor memperkenalkan program vaksinasi bulan lalu di 13 shelter tempat mereka bekerja, dan juga melakukan pemeriksaan gizi terhadap 1.700 anak di sana.
Direktur Juzoor, Umayya Khammash, mengatakan kepada Oxfam bahwa mereka menemukan bahwa 13 persen anak-anak yang diperiksa di sana menderita kekurangan gizi akut. Di antara mereka, sekitar 55 hingga 60 anak (3 persen) menderita wasting parah (malnutrisi akut) dan berat badan kurang. Wasting didefinisikan sebagai kekurangan berat badan dibandingkan dengan tinggi badan dan merupakan jenis malnutrisi yang paling menonjol dan mematikan.
“Ini adalah kondisi yang mengancam jiwa. Mereka perlu dirawat di fasilitas yang canggih, di rumah sakit atau program pemberian makanan khusus, yang saat ini tidak ada di utara Gaza. Jika mereka tidak segera menerima penanganan dan suplemen yang tepat, dalam beberapa hari atau minggu mendatang, anak-anak tersebut akan meninggal,” kata Umayya Khammash.
Pemboman Israel Masih Terus Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Israel yang telah diadili di hadapan pengadilan internasional atas tuduhan melakukan genosida terhadap warga Palestina, masih terus melancarkan perang dahsyat di Gaza yang hingga hari Selasa (27/02), telah membunuh 29.878 dan melukai 70.215 orang, di mana sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Ribuan penduduk Palestina di Jalur Gaza masih hilang di bawah reruntuhan bangunan yang dibom Israel.
Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: RT Arabic)