Oslo, SPNA – Norwegia menyeru dunia internasional untuk memberikan lebih banyak bantuan guna menopang perekonian wilayah Palestina dalam menghadapi krisis di tengah pandemi global, Haaretz melaporkan. Otoritas Palestina memperkirakan bahwa mereka membutuhkan sekita $ 120 juta untuk menghadapi pandemi ini. Namun, Menteri Luar Negeri Norwegia Ine Eriksen Søreide memperkirakan bahwa kebutuhan akan meningkat seiring ditempuhnya langkah-langkah pencegahan penyebaran virus corona yang melanda ekonomi dan anggaran Palestina.
“Kita perlu bekerja sama untuk mencegah pandemi ini menjadi bencana kemanusiaan dan kesehatan yang lebih besar daripada yang kita pikirkan, tidak hanya di Gaza, tetapi juga di Tepi Barat,” kata Sreereide kepada Reuters. “Kami mendesak para donor untuk meningkatkan upaya mereka baik melalui Bank Dunia ataupun secara langsung ke Palestina.”
Dia mendesak para donor untuk memenuhi komitmen sebelumnya, termasuk ke PBB dan organisasi non-pemerintah, dan meningkatkan upaya mereka.
“Penurunan pendapatan yang signifikan bagi Otoritas Palestina akibat dari krisis virus corona akan memiliki konsekuensi dramatis bagi ekonomi Palestina dan bagi kondisi kehidupan di Palestina,” kata Søreide. “Saya; khususnya, prihatin tentang kemungkinan penyebaran virus corona di Gaza dan di kamp-kamp pengungsi Palestina. Komunitas internasional juga harus memberikan dukungan.”
Norwegia mengetuai Komite Penghubung Ad Hoc, yang merupakan kelompok donor internasional untuk Palestina. Tahun lalu, ibukota dan kota terbesar Norwegia, Oslo, menjadi kota keenam di Norwegia yang melarang masuknya barang dan jasa dari permukiman (ilegal Israel), bersama dengan satu dewan daerah.
Hingga Kamis (06/04/2020), 15 kasus baru virus corona dikonfirmasi di Tepi Barat yang diduduki, meningkatkan jumlah total infeksi yang diketahui di Palestina menjadi 252, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.
Kekhawatiran sangat tinggi terhadap kamp-kamp pengungsi Tepi Barat yang ramai dan Jalur Gaza yang padat penduduk dan miskin, di mana kementerian mengungkapkan bahwa pada 27 Maret, setidaknya 13 orang secara resmi dinyatakan positif virus, enam di antaranya telah pulih. Daerah kantong yang terkepung tersebut diperkirakan akan melihat runtuhnya sistem kesehatannya.
(T.RA/S: MEMO)