Gaza, NPC – Gaza Barat menjadi medan perjuangan bagi penduduknya yang terjebak dalam gelombang panas ekstrem. Di tengah konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina, krisis listrik semakin menghimpit kehidupan mereka.
Di kamp pengungsi Al-Shati, masyarakat Gaza terpaksa mencari hawa dingin di luar rumah darurat mereka. Namun, kipas angin listrik dan AC, barang-barang lainnya jauh dari jangkauan, hal ini membuat mereka mengandalkan kipas tangan dan piring plastik untuk meredakan teriknya cuaca.
Kendala utama yang dihadapi adalah pasokan listrik yang sangat terbatas. Sehari-hari, penduduk Gaza hanya beruntung menikmati listrik selama empat hingga 12 jam saja. Ini disebabkan oleh terbatasnya bahan bakar untuk satu-satunya pembangkit listrik di kota tersebut.
Saat ini, Gaza hanya mampu menghasilkan sekitar 185 megawatt listrik, yang hanya sebagian kecil dari kebutuhan harian yang mencapai 500 megawatt. Dengan Israel menyumbangkan 120 megawatt dari total tersebut, kesenjangan antara produksi dan permintaan semakin menganga.
Tidak hanya merusak infrastruktur, konflik yang terus berkecamuk juga merenggut kenyamanan dan keselamatan hidup warga Gaza. Semoga ada solusi yang dapat mengakhiri penderitaan mereka dan membawa kehidupan yang lebih layak di tengah cuaca yang begitu ekstrem ini.
Sumber: cnbcindonesia.com