Ditengah keruntuhan infrastruktur kehidupan yang melanda Jalur Gaza, ambisi pemerintah Israel untuk melakukan pembersihan etnis dan genosida kini makin terang-terangan. Niat tersebut tidak lagi sekadar dugaan, melainkan disampaikan secara terbuka oleh pejabat tinggi pemerintah Israel sendiri.
Menteri Keamanan Nasional Israel dari faksi sayap kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, kembali memicu kemarahan global melalui pernyataan yang mendehumanisasi warga Palestina. Dalam sebuah wawancara podcast terbaru, Ben-Gvir secara terang-terangan menuntut eksekusi harian terhadap puluhan warga Gaza dan mendorong pengusiran massal penduduk Palestina dari tanah air mereka.
Di balik angka korban jiwa yang terus bertambah, jutaan warga harus menghadapi kenyataan pahit: anak-anak kehilangan orang tua, para ibu memeluk jasad bayi mereka, dan keluarga-keluarga kehilangan tempat tinggal.
Krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik terkelam dalam sejarah modern. Blokade ketat terhadap pasokan air bersih, bahan pangan, dan obat-obatan menciptakan bencana buatan yang memaksa warga bertahan hidup di antara reruntuhan bangunan. Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam dari masyarakat internasional yang menyaksikan warga sipil didesak menuju penderitaan ekstrem dan pengusiran.
Ben-Gvir menyampaikan pernyataan tersebut saat menjadi tamu dalam episode perdana podcast “8 Oktober” yang dipandu oleh Rom Braslavski, seorang mantan tawanan Israel. Percakapan itu memicu gelombang kritik tajam setelah cuplikan videonya beredar luas di media Arab dan internasional.
Dalam wawancara tersebut, Ben-Gvir mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilainya terlalu melunak karena mengurangi intensitas serangan militer di tengah dorongan gencatan senjata internasional. Sebaliknya, Ben-Gvir mengusulkan peningkatan serangan militer secara harian.
“Bukan rahasia lagi, saya tidak setuju dengan Perdana Menteri,” ujar Ben-Gvir. “Saya menilai kita harus melakukan pembunuhan terarah di Gaza dengan menewaskan 30 hingga 40 orang setiap malam. Langkah ini tidak hanya menyasar mereka yang memberikan ancaman langsung. Ada orang-orang di sana yang tidak layak hidup. Mereka seharusnya tidak hidup karena mereka bukan manusia.”
Pernyataan bahwa sasaran pembunuhan tidak terbatas pada “ancaman aktif” mempertegas adanya niat sistematis untuk menyerang populasi sipil. Tindakan mendehumanisasi warga Palestina sebagai pihak yang “bukan manusia” menjadi dasar untuk membenarkan pembantaian tersebut.
Kondisi semakin memprihatinkan ketika Braslavski secara terbuka meminta izin untuk mengeksekusi sendiri para tahanan Palestina. “Izinkan saya menggantung mereka. Saya tidak menginginkan tali, tetapi tombol pada pistol. Dengan tangan saya sendiri, saya akan mengeksekusi setiap teroris di negara Israel,” kata Braslavski.
Ben-Gvir pun merespons permintaan tersebut dengan janji dukungan: “Saya akan melakukan segala upaya untuk mewujudkannya. Saya berjanji akan berusaha sekuat tenaga sampai hal itu terjadi.”
Selain menyerukan pembunuhan, Ben-Gvir mempertegas rencananya untuk menguasai wilayah Gaza secara penuh dan menghapus keberadaan warga Palestina dari tanah kelahiran mereka.
“Saya menganggap seluruh wilayah Gaza sebagai milik kita,” tegas Ben-Gvir. Ia menyerukan agar pemukiman Yahudi didirikan di seluruh penjuru Gaza, tidak hanya terbatas pada bekas kawasan Gush Katif yang dievakuasi pada 2005.
“Kita harus mendorong emigrasi massal sebanyak mungkin dan mengirim mereka ke negara lain. Sementara itu, untuk para teroris, tidak ada pilihan emigrasi—hanya pembunuhan satu per satu,” lanjutnya.
Para pakar hukum internasional menilai skenario “pendorongan emigrasi massal” ini sebagai bentuk kejahatan pembersihan etnis (ethnic cleansing) dan indikasi genosida terencana, yaitu upaya memindahkan suatu populasi secara paksa melalui teror militer dan pembatasan akses hidup.
Sebagai Menteri Keamanan Nasional yang membawahi kepolisian dan lembaga pemasyarakatan, Ben-Gvir memiliki pengaruh politik yang kuat di Israel, meskipun ia tidak memegang komando militer secara langsung. Rekam jejaknya yang terikat dengan gerakan radikal Kahanis menjadikannya figur kunci dalam merumuskan kebijakan rasialis.
Beberapa negara, termasuk Inggris Raya dan sejumlah anggota Uni Eropa, telah menjatuhkan sanksi individual terhadap Ben-Gvir. Namun, langkah diplomatik tersebut sejauh ini belum mampu menghentikan retorika agresif maupun kebijakan militer di lapangan. Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.250 warga Palestina tewas di Gaza sejak skema gencatan senjata mulai diberlakukan pada Oktober lalu.
Retorika dari para pejabat tinggi Israel ini menjadi bukti konkret bahwa peristiwa yang terjadi di Gaza bukan sekadar konflik militer biasa, melainkan upaya terencana untuk menghapus identitas, wilayah, dan keberadaan bangsa Palestina.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Al Jazeera, “Israeli minister calls for killing ’30 to 40′ Palestinians in Gaza nightly”, Al Jazeera, August 16, 2026. https://www.timesofisrael.com/liveblog_entry/ben-gvir-calls-for-killing-30-40-people-in-gaza-daily-in-comments-widely-shared-in-arab-media/
Times of Israel, “Ben Gvir calls for killing ’30-40′ of Israel’s enemies in Gaza every night, in comments widely shared in Arab media”, TOI, August 16, 2026. https://www.aljazeera.com/news/2026/8/16/israeli-minister-calls-for-killing-30-to-40-palestinians-in-gaza-nightly