Perang tak sekadar meruntuhkan bangunan dan menyisakan duka, tetapi juga perlahan memadamkan akses paling mendasar bagi kelompok rentan: anak-anak penyandang disabilitas. Di tengah krisis kemanusiaan Jalur Gaza, anak-anak dengan gangguan penglihatan dan pendengaran harus berjuang menghadapi permasalahan yang berlipat ganda. Mereka tidak hanya berusaha selamat dari ancaman fisik, tetapi juga kehilangan fasilitas pendidikan khusus yang selama ini menjadi jembatan bagi mereka untuk memahami dunia.
Sejak konflik meluas, lembaga-lembaga yang menjadi tumpuan harapan terpaksa berhenti beroperasi. Sekolah Atfaluna Society for Deaf Children di Kota Gaza hancur akibat pemboman, lalu beralih fungsi menjadi tempat penampungan pengungsi yang padat. Kondisi serupa terjadi pada Sekolah Al-Noor, satu-satunya sekolah negeri untuk siswa tunanetra di Gaza utara, yang rusak parah hingga ditutup total.
Dampak kehancuran ini langsung menghantam kehidupan sehari-hari Kenan al-Sabaa (13 tahun). Sebagai anak tunarungu, Kenan kini hanya dapat mengikuti kelas darurat beberapa jam seminggu di ruang belajar sementara. Menurut sang ayah, Tamer, durasi tersebut jauh dari cukup untuk menggantikan waktu belajar yang hilang. Tanpa pendampingan rutin, anak-anak dengan disabilitas sensorik terancam mengalami penurunan akademis yang drastis, bahkan berisiko kehilangan kemampuan membaca Braille dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang telah dipelajari bertahun-tahun.
Bagi penyandang disabilitas, alat bantu seperti kacamata khusus, cetakan telinga, suku cadang, dan baterai alat pendengaran adalah penunjang utama dalam beraktivitas. Namun, pemblokiran jalan dan pengepungan yang berkepanjangan membuat pasokan medis ini mustahil didapatkan.
Kisah memprihatinkan dialami Jana Shreim (12 tahun), seorang anak tunanetra yang kacamatanya pecah saat mengungsi dari Kamp Shati. Tanpa pengganti karena harganya yang tak terjangkau dan stok yang langka, penglihatan Jana memburuk hingga ia hampir tak bisa melihat sama sekali. Kini, ia harus bergantung sepenuhnya pada petunjuk suara ibu dan saudaranya untuk melangkah.
Selain menghambat proses belajar, ketiadaan alat bantu juga mengancam keselamatan jiwa. Tanpa alat pendengaran yang berfungsi, pergerakan Kenan di luar rumah menjadi sangat berisiko. Ia tidak mampu mendengar suara ledakan, sinyal bahaya, maupun sapaan orang-orang di sekitarnya. Alhasil, orang tua Kenan harus terus mendampingi setiap langkahnya di tengah lingkungan yang tak lagi aman.
Skala krisis ini kian membesar. Fadel Kuraz, pembela hak-hak penyandang disabilitas di Atfaluna, mencatat adanya lonjakan tajam kasus gangguan pendengaran. Sebelum konflik, terdapat sekitar 20.000 penyandang disabilitas pendengaran yang terdaftar. Saat ini, diperkirakan ada tambahan sekitar 35.000 orang baru yang menderita kehilangan pendengaran, baik parsial maupun total, akibat kerasnya dentuman ledakan.
Kondisi fisik tersebut makin diperberat oleh tekanan mental. Anak-anak tunarungu kerap mengalami ketakutan dan trauma mendalam di tengah sesaknya tempat pengungsian. Keterbatasan untuk menyampaikan perasaan secara verbal, ditambah tidak adanya ruang pribadi yang layak, membuat beban emosional mereka semakin menumpuk.
Duaa Omar Basheer, konselor pendidikan di Sekolah Al-Noor, mengingatkan bahwa Gaza sedang menghadapi ancaman lahirnya satu generasi tunanetra dan tunarungu yang berisiko buta huruf. Pemulihan sarana belajar yang memadai serta penyediaan bantuan medis bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan kemanusiaan yang sangat mendesak.
Masyarakat internasional didesak untuk segera mengambil tindakan nyata. Membuka akses masuk bagi alat bantu dengar, kacamata khusus, dan materi pembelajaran Braille, serta membangun ruang kelas darurat yang aman adalah langkah mutlak. Memastikan anak-anak ini mendapatkan hak pendidikan dan perlindungan bukan hanya soal menyelamatkan hidup mereka hari ini, tetapi juga menjaga harapan bagi pemulihan masa depan Gaza.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Enas Abu Ghayad, “Gaza’s visually and hearing-impaired children miss school due to Israel war”, Al Jazeera, October 25, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/10/25/gazas-visually-and-hearing-impaired-children-miss-school-due-to-israel-war
Ayo bantu hangatkan anak-anak Palestina menjelang musim dingin tahun ini.
Jangan Tampilkan Lagi Bantu Sekarang!