Di tengah reruntuhan bangunan dan debu tenda pengungsian di Jalur Gaza, perjuangan sunyi terus berlangsung setiap hari. Para ibu mempertaruhkan nyawa demi menyambung napas bayi mereka. Konflik yang berkepanjangan tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga merenggut daya tahan tubuh kelompok paling rentan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi baru lahir. Di balik tingginya angka kehancuran, tersembunyi kisah ketangguhan luar biasa. Dengan tubuh yang letih, dada yang terluka, dan cengkeraman trauma psikologis yang hebat, para ibu di Gaza terus memeluk erat buah hati mereka, berjuang mengalirkan setetes kehidupan di tanah yang terkepung krisis air dan dentuman bom.
Dampak perang terhadap kesehatan fisik dan mental para ibu di Gaza berada pada tingkat yang sangat memprihatinkan. Laporan lembaga Save the Children mencatat bahwa 43 persen wanita hamil dan menyusui yang berobat ke klinik mereka mengalami kekurangan gizi akut. Angka tersebut melonjak hampir tiga kali lipat sejak pemerintah Israel memberlakukan kembali pembatasan akses bantuan secara ketat. Kelaparan parah, dehidrasi, serta kecemasan akibat serangan udara yang terus-menerus terbukti menghambat produksi ASI secara alami.
Tekanan yang luar biasa ini bahkan membuat sejumlah ibu meminta bantuan susu formula. Mereka tidak hanya kehilangan produksi ASI, tetapi juga merasa takut jika sewaktu-waktu terbunuh dan meninggalkan anak mereka sebagai anak yatim piatu. Karena akses terhadap ASI maupun susu formula sangat terbatas, sebagian orang tua terpaksa memberi bayi mereka air minum yang dicampur dengan buncis giling atau tahini. Langkah darurat tersebut justru meningkatkan risiko infeksi saluran pencernaan dan malnutrisi akut pada bayi.
Kondisi memprihatinkan ini dialami langsung oleh Eman Huneidq (38) dan Hiba al-Masri (23). Eman, seorang penderita diabetes yang mengungsi dari Gaza utara ke Deir el-Balah, harus melahirkan putrinya, Ward, secara prematur. Kesulitan menyusui akibat luka fisik dan ketiadaan peralatan medis yang mumpuni akibat blokade Israel, membuatnya sempat bergantung pada susu formula yang sangat mahal. Sementara itu, Hiba, yang telah kehilangan anak ketiganya pada awal konflik, kini harus merawat bayinya, Yusuf, di dalam tenda sempit bersama 15 anggota keluarga. Ketiadaan ruang pribadi, ancaman serangga, serta beban mental yang berat semakin menyulitkan Hiba untuk merawat bayinya secara optimal.
Di tengah berbagai keterbatasan, fasilitas kesehatan seperti Mother and Child Corner di Pusat Kesehatan Hikr al-Jame’ hadir menjadi tumpuan harapan. Dipimpin oleh spesialis laktasi dan tenaga medis seperti Sabreen al-Buhaisi dan Iman Abu Ouda, pusat layanan ini membantu ratusan wanita setiap bulannya melalui beberapa program utama:

Meskipun bantuan lokal memberikan dampak positif, keberlanjutan program penyelamatan ini menghadapi tantangan teknis yang berat. Evaluasi pelayanan kesehatan di Jalur Gaza menunjukkan bahwa para bidan dan tenaga medis membutuhkan pelatihan mendesak, terutama dalam menilai status gizi serta mengelola teknik menyusui pada situasi darurat.
Konflik yang terus berlanjut menghambat akses tenaga medis untuk memperbarui ilmu pengetahuan mereka. Guna menjaga efektivitas bantuan di wilayah krisis, lembaga kemanusiaan menekankan pentingnya fleksibilitas operasional, seperti alokasi waktu kegiatan yang lebih longgar, koordinasi keamanan harian, penyiapan lokasi alternatif, dan pelatihan tenaga cadangan.
Perjuangan para ibu dan tenaga kesehatan di lapangan tidak akan cukup tanpa adanya perubahan nyata pada akses bantuan kemanusiaan. Pemblokiran pasokan barang, kelangkaan bahan bakar, dan ketiadaan air bersih terus mengancam keselamatan ribuan bayi. Oleh karena itu, lembaga kemanusiaan internasional terus mendesak pembukaan jalur bantuan yang aman, memadai, dan berkelanjutan. Hanya dengan jaminan akses bantuan medis dan nutrisi yang memadai, krisis kemanusiaan ini dapat dihentikan demi menyelamatkan masa depan anak-anak di Gaza.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Alessandro, Iellamo, Emily Monaghan, Samar A. L. Moghany, Jonathan Latham, dan Nihal Nassereddin. 2021. “Breastfeeding Knowledge of Mothers in Protracted Crises: The Gaza Strip Example.” BMC Public Health 21, no. 1: artikel 742. https://doi.org/10.1186/s12889-021-10748-2.
Save the Children, GAZA: OVER 40% OF PREGNANT AND BREASTFEEDING WOMEN IN SAVE THE CHILDREN CLINICS MALNOURISHED”, Save the Children, August 4, 2025. https://www.savethechildren.net/news/gaza-over-40-pregnant-and-breastfeeding-women-save-children-clinics-malnourished