Di tengah kelelahan dunia menyaksikan tragedi Gaza yang tak kunjung berakhir, Turki kembali menegaskan posisinya, bukan sekadar sebagai penonton atau mediator, melainkan sebagai kekuatan yang berupaya mengubah arah politik Timur Tengah.
Melalui pernyataan resmi dan berbagai tindakan nyata pasca gencatan senjata, Ankara menunjukkan bahwa komitmennya terhadap Palestina bukan retorika, melainkan cerminan konsistensi moral dan politik yang telah lama tertanam dalam kebijakan luar negerinya.
Langkah ini tak hanya menandai tekad Turki untuk mendorong perdamaian yang adil dan rekonstruksi Gaza, tetapi juga memperlihatkan bagaimana negara itu memosisikan diri sebagai penantang dominasi Israel di kawasan.
Pemerintah Turki, melalui pernyataannya di laman resmi Republic of Turkiye Ministry of Foreign Affairs pada 9 Oktober 2025, menyambut baik tercapainya gencatan senjata di Gaza dan berharap langkah ini menjadi akhir dari genosida yang telah menimpa rakyat Palestina selama dua tahun terakhir. Turki menegaskan pentingnya implementasi penuh atas perjanjian tersebut, pengiriman bantuan kemanusiaan, serta percepatan rekonstruksi Gaza.[1]
Dalam pernyataannya, Ankara juga menekankan bahwa perdamaian abadi di Timur Tengah hanya dapat dicapai melalui penyelesaian adil atas konflik Israel-Palestina dan terwujudnya solusi dua negara.[2] Turki mengapresiasi peran Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat dalam mediasi gencatan senjata, sekaligus menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi aktif dalam seluruh proses implementasinya.[3]
Komitmen kuat Turki terhadap perjuangan Palestina berbanding lurus dengan memburuknya hubungan Ankara–Tel Aviv dalam beberapa tahun terakhir. Semakin lantang Turki menyuarakan kecaman terhadap agresi Israel di Gaza, semakin tegang pula hubungan diplomatik antara kedua negara. Sikap keras Ankara terhadap kebijakan militer Israel dan kedekatannya dengan kelompok Hamas kerap menjadi sumber friksi yang sulit dijembatani.
Di tengah meningkatnya kekerasan dan penderitaan warga sipil di Gaza, Turki menempatkan diri sebagai salah satu negara yang paling vokal menuntut akuntabilitas Israel di forum internasional. Sementara itu, Israel menilai langkah-langkah Turki sebagai bentuk permusuhan politik yang mengancam kepentingan regionalnya. Dinamika inilah yang membuat relasi kedua negara kembali berada di titik kritis, mempertegas pola hubungan yang sejak awal berdiri di atas pasang surut kepentingan strategis, ideologis, dan moral di kawasan Timur Tengah.
Selama lebih dari tujuh dekade, hubungan Turki dan Israel mengalami pasang surut, namun ketegangan yang terjadi saat ini dinilai sebagai yang paling serius sepanjang sejarah diplomasi kedua negara.
Kemarahan Turki terhadap agresi Israel di Gaza berbanding lurus dengan rasa frustrasi Israel atas kedekatan Ankara dengan Hamas. Situasi ini semakin memanas setelah penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada akhir 2024, yang membuat Turki menjalin hubungan erat dengan pemerintahan baru di Damaskus; sesuatu yang dianggap Israel sebagai ancaman langsung.
Bahkan, laporan Komite Nagel di Israel memperingatkan militer untuk bersiap menghadapi kemungkinan konfrontasi dengan Turki, yang dinilai bisa lebih berbahaya daripada ancaman Iran.[4]

ngan meningkat ketika Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Juli 2024 menyatakan kemungkinan intervensi militer Turki di Israel, meniru langkah serupa yang pernah diambil di Libya dan Kaukasus Selatan.
Beberapa bulan kemudian, ia menyerukan pembentukan aliansi negara-negara Islam untuk menghadapi ekspansionisme Israel. Pada November 2024, Turki resmi memutus seluruh hubungan diplomatik dengan Israel dan memblokir kerja sama NATO-Israel hingga perang Gaza berakhir.[5]
Padahal, hubungan kedua negara dulunya cukup erat. Turki menjadi negara mayoritas Muslim pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 1949 dan bahkan menjalin kerja sama perdagangan serta pariwisata pada awal 1960-an.
Namun, konflik Israel-Palestina dan dinamika kawasan terus mengguncang fondasi hubungan tersebut. Sejak serangan Israel terhadap kapal bantuan Turki pada 2010 yang menewaskan sembilan aktivis, hubungan keduanya tak pernah sepenuhnya pulih.[6]
Meskipun ketegangan sempat mereda setelah permintaan maaf Netanyahu pada 2013 dan pertemuan dengan Erdoğan di Sidang Umum PBB 2023, genosida di Gaza yang terjadi sejak Oktober 2023 kembali menghancurkan jembatan diplomasi yang sudah rapuh antara kedua negara.[7]
Turki kini tampil bukan sekadar sebagai mediator, melainkan aktor utama yang ikut menentukan arah baru kawasan Timur Tengah.
Mantan Kepala Unit Kontra-Terorisme Mossad, Oded Ilam, menyebut kebangkitan Turki dalam isu Gaza sebagai transformasi strategis yang mengubah keseimbangan politik regional.
Semula hanya berada di pinggir proses negosiasi yang didominasi Qatar dan Mesir, Ankara perlahan mengambil peran lebih aktif hingga menjadi bagian penting dalam tercapainya kesepakatan gencatan senjata. Langkah ini bahkan mendapat pujian dari Presiden AS Donald Trump, yang menilai Recep Tayyip Erdogan berperan sentral dalam keberhasilan diplomatik tersebut.[8]

Keterlibatan aktif Turki segera menimbulkan kegelisahan di Israel. Kedekatan antara Ankara dan Washington, terutama antara Trump dan Erdogan, memunculkan kekhawatiran bahwa Turki akan memperoleh posisi strategis dalam fase pascaperang.
Analis Israel seperti Noya Lazimi dari Misgav Institute for National Security and Zionist Strategy menilai bahwa memasukkan Turki ke dalam kesepakatan berarti mengakui pengaruhnya sebagai kekuatan Sunni utama yang tak terelakkan dalam isu Palestina. Berbeda dari Iran yang kerap tersandera isu sektarian, Turki justru berhasil memoles citra moderatnya dan memperkuat jejaring politiknya pasca Arab Spring.[9]
Bagi Ankara, Gaza bukan semata isu kemanusiaan, melainkan simbol keteguhan dan perlawanan yang mencerminkan semangat nasionalisme Turki. Erdogan kerap menyamakan perjuangan rakyat Gaza dengan Kuvayi Milliye, gerakan perlawanan rakyat Turki pada masa perang kemerdekaan.
Karena itu, Turki menolak penghancuran total struktur perlawanan di Gaza dan memilih pendekatan pragmatis, menghentikan pertumpahan darah tanpa mengorbankan eksistensi rakyat dan wilayahnya. Pola ini serupa dengan kebijakan Ankara di Suriah melalui pembentukan zona de-eskalasi di Idlib, yang memungkinkan oposisi bertahan tanpa kehilangan legitimasi politik.[10]
Bagi Israel, pendekatan tersebut merupakan ancaman strategis. Turki bukan hanya berupaya mempertahankan kekuatan perlawanan di Gaza, tetapi juga berpotensi menempatkan pasukannya sebagai bagian dari pasukan internasional pengawas gencatan senjata.
Skenario ini sangat sensitif secara geopolitik, terutama jika militer Turki hadir di dekat perbatasan Israel. Di sisi lain, Ankara terus memperkuat koordinasi dengan Mesir, Qatar, dan negara-negara OKI dalam diplomasi multilateral.
Laporan Yedioth Ahronoth bahkan menyebut para peneliti INSS memperingatkan bahwa meningkatnya peran Erdogan di Gaza bisa menjadi “mimpi buruk strategis” bagi Israel, karena membuka jalan bagi Turki untuk memperluas pengaruhnya di kawasan sekaligus menantang kepentingan Tel Aviv di berbagai front, termasuk Suriah.[11]
Pada akhirnya, komitmen Turki terhadap Palestina bukan sekadar respons atas tragedi kemanusiaan di Gaza, melainkan manifestasi dari hubungan historis, moral, dan politik yang telah lama mengakar antara kedua bangsa.
Dukungan Ankara yang konsisten, baik melalui diplomasi, bantuan kemanusiaan, maupun seruan untuk keadilan, menegaskan bahwa Palestina tetap menjadi bagian penting dari identitas politik luar negeri Turki.
Kebangkitan kembali peran Turki di kawasan inilah yang kini menimbulkan kegelisahan mendalam di Tel Aviv. Israel melihat langkah Ankara bukan sekadar solidaritas, melainkan potensi kembalinya pengaruh besar Turki di jantung konflik yang selama ini dikuasainya.
Dengan demikian, dukungan Turki terhadap Palestina tidak hanya menggugah simpati dunia Islam, tetapi juga menandai perubahan peta geopolitik Timur Tengah yang mungkin akan mengubah arah sejarah konflik Israel–Palestina.
Penulis: Fuad Nur Zaman Sumber:
[1] Republic of Turkiye Ministry of Foreign Affairs, “Regarding the Ceasefire in Gaza”, Republic of Turkiye Ministry of Foreign Affairs, October 9, 2025. https://www.mfa.gov.tr/no_-204_-gazze-de-ateskes-saglanmasi-hk.en.mfa
[2] Republic of Turkiye Ministry of Foreign Affairs, “Regarding the Ceasefire in Gaza”, Republic of Turkiye Ministry of Foreign Affairs, October 9, 2025. https://www.mfa.gov.tr/no_-204_-gazze-de-ateskes-saglanmasi-hk.en.mfa
[3] Tuvan Gumrukcu and Jonathan Spicer, “Turkey emerges as key player in Gaza ceasefire deal”, REUTERS, October 9, 2025. https://www.reuters.com/world/middle-east/turkey-pleased-with-gaza-ceasefire-deal-will-monitor-implementation-2025-10-09/
[4] Paul Iddon, “Ups and downs: A brief history of Turkey-Israel relations from 1949 to 7 October”, The New Arab, March 27, 2025. https://www.newarab.com/analysis/ups-and-downs-turkey-israel-relations-1949-7-october
[5] Paul Iddon, “Ups and downs: A brief history of Turkey-Israel relations from 1949 to 7 October”, The New Arab, March 27, 2025. https://www.newarab.com/analysis/ups-and-downs-turkey-israel-relations-1949-7-october
[6] Paul Iddon, “Ups and downs: A brief history of Turkey-Israel relations from 1949 to 7 October”, The New Arab, March 27, 2025. https://www.newarab.com/analysis/ups-and-downs-turkey-israel-relations-1949-7-octoberttps://www.newarab.com/analysis/ups-and-downs-turkey-israel-relations-1949-7-october
[7] Paul Iddon, “Ups and downs: A brief history of Turkey-Israel relations from 1949 to 7 October”, The New Arab, March 27, 2025. https://www.newarab.com/analysis/ups-and-downs-turkey-israel-relations-1949-7-october
[8] Sunna Files Observatory, “Why Is Netanyahu Afraid of Turkey’s Return to Gaza?”, Sunna Files Website, October 18, 2025. https://www.sunnafiles.com/76513-2/
[9] Sunna Files Observatory, “Why Is Netanyahu Afraid of Turkey’s Return to Gaza?”, Sunna Files Website, October 18, 2025. https://www.sunnafiles.com/76513-2/
[10] Sunna Files Observatory, “Why Is Netanyahu Afraid of Turkey’s Return to Gaza?”, Sunna Files Website, October 18, 2025. https://www.sunnafiles.com/76513-2/
[11] Sadanews, “Israeli Fears Over Turkey’s Role in Gaza”, Sadanews, October 18, 2025. https://www.sadanews.ps/en/news/242246.html