Jews Voice for Palestine: Kala Yahudi Berteriak “Free Palestine!”

Potret Kelompok Yahudi Ultra-Ortodoks Menolak Zionisme (Sumber: Channel YouTube TRT World, “In conversation: Anti-Zionist Rabbi discusses standing with Palestine”)

Masih banyak di tengah masyarakat kita yang masih belum dapat membedakan istilah antara ‘zionis’, ‘Israel’, dan ‘Yahudi’. Ketiga sebutan ini seringkali dianggap sama, padahal memiliki makna dan latar belakang yang berbeda. Alhasil, tak jarang kita menemukan sentimen yang negatif kepada semua etnis Yahudi karena menganggap mereka semua mendukung penjajahan dan genosida Israel terhadap warga Palestina hari ini. Padahal, tidak sedikit kelompok Yahudi yang justru bersuara lantang membela rakyat Palestina.

Antara Zionis, Israel, dan Yahudi

Zionisme lahir dari sejarah ketika orang-orang Yahudi yang selama berabad-abad tersebar terpisah di seluruh dunia. Mereka melalui berbagai penolakan dan tindakan rasisme, terutama pengalaman mereka selama di Eropa Timur pada akhir abad ke-19. Zionisme merupakan sebuah paham yang memiliki tujuan besar untuk membentuk kehidupan politik Yahudi dengan mendirikan masyarakat nasional di tanah air, yang dalam konteks ini tanah Palestina adalah tanah air mereka. Zionisme dianggap sebagai salah satu dari tiga pilar pembentukan bangsa Yahudi, diantaranya:[1]

  1. Spiritual: Mereka meyakini bangsa Yahudi merupakan bangsa pilihan dan pembawa ajaran monoteisme
  2. Hukum: Mereka menggunakan penetapan hukum rabinik demi menjaga identitas kolektif meskipun hidup terpencar
  3. Politik: Melalui pembentukan kedaulatan wilayah di negara Israel yang mereka anggap sebagai tempat identitas nasional Yahudi terbentuk

Singkatnya, Zionisme disebut pula gerakan dari, oleh, dan untuk bangsa Yahudi, karena dalam historisnya, selama seabad lebih, orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia turut membangun rumah nasional ini yang mana didukung pula oleh pemerintah Inggris dan Amerika Serikat.

Namun, Zionis tidak terbatas pada orang-orang Yahudi saja yang mendukung pendirian negara Yahudi, melainkan siapapun dapat tergolong Zionis asalkan mereka mendukung pendirian negara Yahudi. Jadi, jika ada orang Indonesia yang memihak pada pendirian negara Israel, maka dia juga dapat disebut Zionis. Pada faktanya, di Israel sendiri tidak semua warganya beragama Yahudi. Namun, memang banyak orang Yahudi di manapun mereka berada mendukung Israel untuk terus berdiri.[2]

Mengapa Ada Yahudi yang Membela Palestina?

Dalam internal bangsa Yahudi sendiri, ada perbedaan pandangan terkait pendirian negara Yahudi apalagi jika melihat kondisi saat ini, ketika tentara Israel semakin brutal dalam genosida warga Palestina. Mereka terpecah menjadi Yahudi Zionis dan Yahudi non-Zionis. Apa maksudnya? Jadi, tidak sedikit orang-orang Yahudi hari ini yang mengecam tindakan genosida Israel dan aneksasi wilayah terhadap Palestina. Namun, kelompok Yahudi non-Zionis ini dikecam pula oleh Yahudi Zionis karena bagi mereka, orang-orang Yahudi yang tidak mendukung Israel lekat dengan dukungannya terhadap anti-semitisme. Bagi Yahudi Zionis, orang-orang Yahudi sudah seharusnya mendukung Israel.[3] Cemoohan inilah yang terkadang diterima oleh tokoh Yahudi non-Zionis ketika mereka mendukung hak warga Palestina, dan seringkali dituduh bersikap antisemit.

Seorang aktivis Australia keturunan Yahudi yang Pro Palestina, Dalia Sarig-Fellner, pernah diwawancarai oleh Anadolu terkait posisinya dalam membela hak-hak warga Palestina. Ia sendiri sering mendapat tuduhan dari lingkungan terdekatnya, bahkan keluarga, karena sikap protesnya terhadap masyarakat Israel yang melakukan genosida di Gaza. Namun, secara faktanya dan bahkan berdasarkan penuturan para ahli hukum, apa yang terjadi di Jalur Gaza adalah bentuk genosida yang dijalankan Israel, sehingga ia tidak perlu merasa goyah atas pendiriannya tersebut. Sarig-Fellner dituduh telah meremehkan peristiwa Holocaust. Ia pun menegaskan bahwa seseorang yang lahir di Israel umumnya telah dibesarkan dengan otak yang sudah dicuci sepenuhnya, sebab pemerintah Israel memiliki pandangan bahwa orang-orang Palestina adalah orang rendahan yang tidak memiliki emosi. Pemerintah Israel telah mempromosikan kepada dunia bahwa Judaisme dan Zionisme adalah dua hal yang saling terkait.[4]

Gambaran terkait kelompok Yahudi yang menolak genosida Israel pun ada pada Jewish Voice for Peace, sebuah organisasi Yahudi Amerika yang berjuang untuk kebebasan Palestina dan Judaisme di luar Zionisme. Organisasi ini dibentuk pada 1996 dan bahkan menjadi yang terbesar di dunia saat ini. JVP menolak Zionisme karena menganggap gerakan tersebut mendukung rasisme dan apartheid. Oleh karena itu, selain merawat solidaritas dengan orang-orang Palestina, JVP juga berjuang untuk menciptakan masa depan Yahudi yang layak, sebab bagi mereka Zionisme adalah solusi palsu dan gagal untuk menciptakan rasa aman bagi orang-orang Yahudi.[5] Oleh karena itu, JVP juga mendukung gerakan BDS, yakni memboikot ekonomi penuh terhadap Israel.[6]

 

Rabbi Feldman:Anti Zionisme Bukan Berarti Antisemitisme”

Rabbi Fieldman dalam Wawancara dengan TRT World pada 9 April 2025 (Sumber: Channel YouTube TRT World, “In conversation: Anti-Zionist Rabbi discusses standing with Palestine”)

Judaisme dan Zionisme tidaklah sama.[7]

Tutur Rabbi Fieldman dari Neturei Karta, sebuah organisasi Yahudi Ultra-Ortodoks yang menentang Zionisme. Ia menuturkan bahwa banyak sekali orang Yahudi anti Zionisme yang menentang keberadaan negara Israel, dan mereka pun sering melakukan demonstrasi untuk menentang hal tersebut.  Rabbi sendiri sering melakukan demontrasi untuk menunjukkan kepada publik bahwa banyak orang Yahudi yang justru tidak setuju dengan Zionisme. Meski, seringkali ia dibalas cemoohan, “Pergilah Anda ke Gaza!”, Rabbi menganggapnya orang-orang tersebut memang tidak paham dengan apa yang sedang terjadi.

Rabbi mengungkapkan justru sebelum Zionisme itu datang, masyarakat di Palestina hidup damai berdampingan, antara Muslim, Yahudi, dan Kristen. Pemerintah Israel selalu menggunakan narasi yang menyudutkan pihak-pihak yang tidak setuju dengan pendirian negara Israel sebagai sifat antisemitisme. Mereka biasanya akan mengungkit kejadian Holocaust yang dilakukan oleh Nazi di bawah pemerintahan Hitler agar masyarakat dunia merasa kasihan pada mereka, sehingga legal untuk mencaplok tanah Palestina sebagai tempat kembali mereka.

Zionisme memang merujuk pada gerakan politik yang seringkali menggunakan beberapa konsep dalam agama Yahudi untuk membenarkan klaim pemilikan tanah Palestina, yang selanjutnya mendorong tindakan penjajahan dan kekerasan. Padahal, menurut Rabbi, tindakan tersebut justru tidak diperbolehkan dalam Judaisme,

Dalam agama Yahudi, kita dilarang untuk mendirikan tempat yang dikatakan ‘aman’. Dalam agama kami, ada konsep pengasingan orang Yahudi yang mana ini merupakan ketetapan tuhan dan dilarang untuk diakhiri dengan cara fisik apapun. Kita terima ketetapan tuhan entah itu nyaman atau tidak. Kita harus berserah padanya agar tuhan mau mengakhiri pengasingan kita.”

Pendirian Israel sejujurnya telah menghancurkan perdamaian yang sebelumnya menyelimuti tanah Palestina.  Dalam pandangan Rabbi, gerakan Zionis telah bersikap munafik karena menggunakan Judaisme untuk kepentingannya. Ia memandang Zionisme sebetulnya adalah gerakan sekuler, bahkan orang-orang di dalamnya sendiri membenci Judaisme. Suatu hari, ia bertemu dengan temannya yang tumbuh dalam pendidikan Zionis di Yerusalem, dan temannya mengatakan berdasarkan apa yang telah diajarkan padanya, bahwa orang-orang Yahudi memiliki dua musuh. Pertama, orang Yahudi yang religius, dan kedua adalah orang Arab.

Meskipun demikian, Rabbi menyampaikan bahwa yang bisa ia lakukan adalah mengedukasi siapapun mengenai konsep Judaisme yang dalam segala hal bertentangan dengan gerakan Zionisme ini. Mendukung Israel bukan berarti secara langsung telah menguntungkan orang Yahudi. Mendukung Israel berarti melakukan begitu banyak kerugian bagi rakyat Palestina dan bagi orang-orang Yahudi. Rabbi juga menegaskan bahwa negara Israel yang berdiri sekarang ini tidaklah merepresentasikan mereka dan juga tidak mewakili agama Yahudi.

Satu hal yang patut disadari oleh masyarakat dunia adalah propaganda Zionis yang sangat kuat dan masif. Gerakan Zionis sendiri telah membingungkan massa, bahkan menjadikan orang-orang Yahudi dalam bahaya. Yahudi Zionis berpikiran bahwa slogan From The River to The Sea adalah kalimat yang menyeramkan karena menganggap orang-orang Palestina ingin melihat orang Yahudi mati ‘dari sungai ke laut’. Rabbi menegaskan bahwa bukan seperti itu maksudnya. Bukan berarti orang-orang Palestina ingin melihat orang Yahudi mati. Mereka justru menginkan kebebasan total bagi rakyatnya dan tanahnya. Zionisme ini seakan-akan kehilangan akal untuk dapat mencari tahu apa yang terbaik bagi mereka.

Penulis: Nadea Salsabila Putri (Mahasiswi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Jakarta)

Sumber:

[1] Yosef Gorny, “Judaism and Zionism,” in The Blackwell Companion to Judaism (Blackwell Publishing, 2000), 477.

[2] “Are All Jews Zionists?,” Anne Frank House, https://www.annefrank.org/en/topics/antisemitism/are-all-jews-zionists/.

[3] Simon Goodman, “Managing Jewish Identity in Arguments Over Jewish Support for Palestine,” Journal of Community & Applied Social Psychology 35, no. 1 (Januari 8, 2025): 10.

[4] Askin Kiyagan, “‘I Am Anti-Zionist Jew, Not Antisemitic,’ pro-Palestine Jewish Activist Says,” Anadolu Ajansi, last modified May 10, 2024, https://www.aa.com.tr/en/middle-east/i-am-anti-zionist-jew-not-antisemitic-pro-palestine-jewish-activist-says/3215881#.

[5] “About Jewish Voice for Peace,” Jewish Voice for Peace, https://www.jewishvoiceforpeace.org/.

[6] Evan Serpick, “Embracing Israel Boycott, Jewish Voice For Peace Insists on Its Jewish Identity,” The Forward, Maret 28, 2015, https://forward.com/israel/217528/embracing-israel-boycott-jewish-voice-for-peace-in/.

[7] Rabbi Fieldman, “In Conversation: Anti-Zionist Rabbi Discusses Standing with Palestine,” YouTube TRT World, April 9, 2025.

You might also like