Jalur Gaza, NPC – Israel mengaku telah menyiapkan skema untuk mengeluarkan warga Palestina dari Jalur Gaza dan kini menunggu kesepakatan dengan Amerika Serikat mengenai negara yang akan menerima mereka. Pernyataan itu memicu kekhawatiran bahwa pengusiran paksa warga Gaza sedang dipersiapkan sebagai kebijakan resmi Israel.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pemerintahnya telah menyiapkan mekanisme untuk mengeluarkan warga Palestina dari Gaza melalui berbagai jalur, termasuk laut dan udara.
“Tidak ada solusi nyata bagi Gaza tanpa mengeluarkan rakyat Palestina dari Jalur Gaza,” kata Katz dalam konferensi pers, Rabu, 2 September 2026.
Katz menyatakan Israel telah menyiapkan berbagai langkah dan siap melaksanakan skema tersebut. Namun, pelaksanaannya masih menunggu Amerika Serikat menentukan atau menyepakati negara yang bersedia menerima warga Gaza.
Pernyataan itu disampaikan ketika Jalur Gaza masih mengalami kehancuran akibat perang. Sebagian besar penduduknya hidup sebagai pengungsi dengan akses terbatas terhadap air dan layanan dasar.
Langkah itu menuai kritik karena pengusiran paksa penduduk dari wilayah pendudukan dilarang dalam hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Israel Klaim Kuasai 60 Persen Gaza
Di tengah upaya mengusir warga Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari wilayah yang telah berada di bawah kendali militernya. “Kami menguasai wilayah tersebut. Kami tidak akan mundur,” kata Netanyahu saat mengunjungi pasukan Israel di Gaza.
Netanyahu menyatakan Israel kini menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza dan akan mempertahankan kendali tersebut dengan alasan memberantas kelompok bersenjata Palestina.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa rencana mengeluarkan warga Gaza berkaitan erat dengan keinginan Israel mempertahankan kontrol atas sebagian wilayah tersebut.
Gagasan Pengusiran Warga Gaza Belum Ditinggalkan
Katz juga menyatakan bahwa gagasan yang sebelumnya dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai pengusiran warga Gaza belum benar-benar ditinggalkan. Menurut Katz, gagasan itu bukan dibatalkan, melainkan “dibekukan” sambil menunggu negara yang bersedia menerima warga Palestina.
Gagasan pengusiran warga Gaza sebelumnya telah menuai penolakan luas. Bahkan, rencana perdamaian yang diajukan Trump pada 2025 memuat ketentuan bahwa tidak seorang pun di Gaza boleh dipaksa meninggalkan wilayah tersebut.
Katz mengklaim sekitar 80 persen warga Gaza ingin meninggalkan wilayah itu, tetapi keinginan tersebut disebutnya terhalang oleh Hamas. Klaim itu tidak disertai bukti dalam laporan tersebut.
(T.RS/S:BBC)