Hampir Tiga Tahun Menunggu Evakuasi, 112 Syuhada Palestina Akhirnya Dimakamkan

Jalur Gaza, NPC – Sebanyak 112 jenazah warga Palestina yang gugur dalam serangan udara Israel pada November 2023 akhirnya dimakamkan di Gaza City, Selasa (4/8/2026). Jenazah mereka berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan pada Juli lalu, setelah hampir tiga tahun tertimbun puing-puing.

Prosesi pemakaman massal dihadiri ratusan anggota keluarga besar di Gaza. Peti-peti jenazah yang dibalut bendera Palestina disusun berjajar sebelum dimakamkan secara berdampingan. Bagi keluarga korban, momen itu menjadi penutup penantian hampir 1.000 hari untuk menemukan dan memakamkan orang-orang yang mereka cintai.

“Perasaan kami bercampur antara sedih dan lega. Kami akhirnya bisa memakamkan serta menghormati para syuhada setelah hampir tiga tahun. Namun, rasa kehilangan itu kembali hadir seolah tragedi ini baru saja terjadi,” kata Amer Abu Shari’a, salah seorang anggota keluarga korban.

Serangan terhadap kawasan Sabra di Gaza City pada November 2023 menjadi salah satu serangan paling mematikan dalam perang di Jalur Gaza. Pesawat tempur Israel menghancurkan satu blok permukiman yang saat itu menjadi tempat tinggal sekaligus lokasi pengungsian ratusan anggota keluarga besar Abu Shari’a dan al-Hasayna.

Lebih dari 300 warga Palestina dilaporkan gugur dalam serangan tersebut, termasuk 44 anak-anak, 37 perempuan, dan lebih dari 10 penyandang disabilitas. Sebagian besar korban tertimbun di bawah bangunan yang runtuh akibat ledakan.

Proses evakuasi tidak dapat segera dilakukan karena tim penyelamat kekurangan alat berat. Peralatan pencarian dan penyelamatan rusak akibat perang, sementara masuknya alat berat ke Jalur Gaza terhambat blokade Israel.

Tim Pertahanan Sipil Palestina baru kembali melakukan pencarian pada 14 Juli 2026 dengan peralatan yang terbatas. Kuatnya ledakan menyebabkan jasad korban tercerai-berai sehingga proses pencarian dan identifikasi berlangsung sangat sulit.

Setelah bekerja selama 17 hari, tim penyelamat berhasil menemukan jenazah 112 korban hingga 1 Agustus. Namun, otoritas setempat meyakini masih banyak korban lain yang tetap terkubur di bawah reruntuhan.

“Kami bekerja selama 17 hari dalam kondisi yang sangat sulit. Pada akhirnya kami berhasil mengevakuasi jenazah 112 orang,” ujar Juru Bicara Pertahanan Sipil Palestina di Jalur Gaza, Mahmoud Basal.

Basal mengatakan ribuan warga Palestina hingga kini masih dinyatakan hilang dan diduga terkubur di bawah puing-puing bangunan. Keluarga mereka terus menunggu kesempatan untuk menemukan dan memakamkan kerabatnya secara layak.

Menurut Mahmoud al-Hasayna, salah seorang penyintas, sekitar 200 anggota keluarga berkumpul di rumah tersebut karena meyakini bangunan itu akan aman dari serangan. Namun, rumah itu juga menjadi sasaran pemboman. Mofeed al-Hasayna beserta puluhan orang yang berlindung di dalamnya gugur.

“Israel tidak membedakan anak-anak, perempuan, ataupun rumah yang seharusnya menjadi tempat perlindungan. Semua menjadi sasaran,” kata Mahmoud. Ia menambahkan, sejumlah korban juga memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat, Inggris, dan Rumania.

Mahmoud selamat karena tidak berada di lokasi saat serangan terjadi. Putranya berhasil bertahan meski mengalami luka-luka. Namun, ia kehilangan saudara laki-lakinya beserta istri dan anak-anak mereka, dua saudara perempuannya bersama anak-anak mereka, serta sejumlah kerabat dekat lainnya.

Kepala Komite Pemerintah Gaza untuk Orang Hilang, Omar Nofal, mengatakan sekitar 6.000 orang telah terdaftar secara resmi sebagai hilang sejak perang dimulai. Namun, jumlah sebenarnya diperkirakan mencapai sekitar 15.000 orang karena masih banyak korban yang diyakini masih berada di bawah reruntuhan bangunan di berbagai wilayah Jalur Gaza.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, lebih dari 73.000 warga Palestina telah gugur sejak Oktober 2023 dan lebih dari 170.000 lainnya mengalami luka-luka. Selain itu, ribuan orang lainnya diperkirakan masih tertimbun reruntuhan dan belum berhasil dievakuasi.

(T.RS/S:MiddleEastEye)

 

You might also like