Gaza, NPC – Laporan investigatif terbaru mengungkap dugaan penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh militer Israel dalam menentukan target serangan di Jalur Gaza. Temuan ini memicu kekhawatiran serius terkait potensi pelanggaran hukum humaniter internasional, terutama dalam konteks perlindungan warga sipil di tengah konflik yang terus berlangsung.
Investigasi yang dipublikasikan oleh +972 Magazine dan Local Call menyebut adanya sistem AI bernama Lavender yang berfungsi mengumpulkan serta menganalisis data populasi Gaza. Sistem tersebut dilaporkan memberi “skor risiko” kepada individu berdasarkan pola komunikasi digital, jaringan kontak, hingga afiliasi kelompok.
Menurut laporan itu, indikator sederhana seperti keterlibatan dalam grup pesan atau komunikasi dengan individu yang telah masuk daftar pengawasan dapat menyebabkan seseorang dikategorikan sebagai target potensial. Evaluasi manusia disebut sangat terbatas, sementara tingkat kesalahan tinggi tetap diterima dalam proses pengambilan keputusan.
Data Digital dan Target Militer
Investigasi tersebut menyoroti bagaimana metadata; termasuk lokasi, frekuensi komunikasi, dan hubungan sosial, dapat dimanfaatkan untuk memetakan kehidupan masyarakat secara luas. Data semacam ini, yang umumnya dikumpulkan oleh platform digital, disebut berpotensi diintegrasikan ke dalam sistem militer.
Praktik ini menimbulkan pertanyaan tentang privasi digital dan keamanan data, terutama ketika teknologi sipil diduga beririsan dengan kepentingan intelijen. Laporan juga menilai bahwa otomatisasi keputusan mematikan berisiko mengaburkan prinsip pembedaan antara kombatan dan warga sipil, yang merupakan fondasi hukum perang internasional.
Reaksi dan Tuduhan Pelanggaran
Kelompok Hamas menuduh Israel memanfaatkan teknologi modern untuk meningkatkan operasi militer terhadap warga Palestina, sementara Hezbollah memperingatkan bahwa penggunaan perangkat digital sebagai alat serangan mencerminkan pola perang hibrida di kawasan.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam berbagai pidato sebelumnya menilai bahwa teknologi mutakhir telah menjadi bagian dari strategi tekanan terhadap negara dan kelompok yang berseberangan dengan Israel.
Kekhawatiran Global
Para pengamat menilai penggunaan AI dalam operasi militer dapat menandai fase baru peperangan modern, di mana algoritma berperan dalam menentukan hidup dan mati seseorang. Selain implikasi kemanusiaan, isu ini juga membuka perdebatan tentang hubungan antara perusahaan teknologi global, aparat keamanan, dan industri pertahanan.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Israel terkait rincian temuan tersebut. Namun, meningkatnya sorotan internasional menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam konflik bersenjata kemungkinan akan menjadi agenda penting dalam diskusi keamanan global ke depan.
Di tengah perang yang belum menunjukkan tanda mereda, laporan ini mempertegas bahwa medan pertempuran modern tidak lagi hanya berlangsung di darat dan udara, tetapi juga di ruang data, tempat algoritma berpotensi membentuk arah konflik sekaligus nasib warga sipil.
(T.RS/S:MEMO)