Perebutan Rasa: Tak Hanya Tanah, Masakan Khas Palestina Juga Diklaim Israel

Seorang karyawan sedang menyiapkan falafel di sebuah toko Palestina di Ramallah, Tepi Barat pada 2007. Sumber: Foto dari OneArmedMan-Own work

Banyak penelitian membahas mengenai praktik kolonialisme Israel di Palestina, tetapi satu aspek yang jarang disorot adalah pembahasan mengenai gastronasionalisme di wilayah tersebut. Gastronasionalisme atau disebut juga nasionalisme kuliner adalah penggunaan konsumsi pangan atau makanan sebagai cara untuk mempromosikan nasionalisme dan identitas nasional negaranya.

Inilah fenomena yang dialami di Palestina dan Israel, di mana perebutan masakan khas menjadi bagian dari pergesekan politik dalam rangka membangun legitimasi negara. Di restoran-restoran Israel maupun di luar negeri seperti Amerika Serikat, hummus, falafel, hingga shakshuka kerap diperkenalkan sebagai “masakan khas Israel”. Padahal, hidangan tersebut telah menjadi bagian dari tradisi kuliner khas Timur Tengah, termasuk Palestina, jauh sebelum berdirinya Israel pada 1948. Pertanyaannya, apakah Israel dapat mengklaim masakan ini hanya dengan mengapropriasi atau memodifikasinya?

Hubungan Antara Makanan dengan Identitas Nasional

Makanan telah menjadi kebutuhan naluriah manusia. Ketika menelaah makanan, sebenarnya kita dapat melihat proses sosial, politik, hingga keyakinan suatu masyarakat. Hal-hal kecil yang biasanya dianggap sepele dalam budaya “makan” bisa jadi catatan sejarah yang merekam peristiwa penting dan perkembangan suatu kelompok. Singkatnya, budaya makan adalah bagian dari identitas dan cara manusia membayangkan dirinya serta bangsanya.[1] Oleh karena itu, tidak heran jika kita menyaksikan deretan masakan khas suatu negara diajukan ke UNESCO untuk mendapat pengakuan global akan keaslian masakan tersebut, contohnya Indonesia yang mengajukan rendang sebagai warisan budaya takbenda ke UNESCO.

Dalam perjalanan historis Palestina, warisan budaya kerap dikaitkan dengan perlawanan terhadap pengusiran dan penjajahan, sedangkan bagi Israel, warisan budaya digunakan untuk menguatkan proyek Zionisme, yang pada gilirannya mencoba menghapus jejak historis Palestina. Meski pendirian negara Israel pada 1948 sarat kontroversi dan dianggap melanggar hak asasi manusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa tetap mengesahkan pembagian wilayah, dengan sekitar 75 persen tanah Palestina jatuh ke tangan Israel. Sejak saat itu, makanan pun menjadi salah satu instrumen kecil untuk membangun narasi nasionalnya.[2] Bagi wisatawan yang tidak memahami akar historis Palestina-Israel, mungkin tidak ada masalah ketika mereka menemukan menu “hummus Israel” atau “falafel Israel” di suatu restoran. Faktanya, masakan tersebut tak pernah membutuhkan embel-embel “Palestina” untuk dikenali sebagai bagian dari identitas mereka.

Pelabelan “Israel” pada hidangan khas Palestina ditentang oleh banyak penduduk asli, sehingga mendorong berbagai upaya untuk memperkuat identitas kuliner Palestina di kancah global. Rawia Bishara, misalnya, membuka restoran Palestina di Tanoreen, New York. Ada juga Sami Tamimi dan Tara Wigley yang menulis buku masak Falastin, pemenang penghargaan Fortnum and Mason Food and Drink Awards 2021.[3] Langkah-langkah ini menjadi cara mempertegas posisi Palestina di peta kuliner dunia, terutama ketika Israel terus menempelkan label “Israel” pada makanan untuk mengklaim historisitas di tanah yang mereka tempati.

Jika ditelusuri, istilah “masakan Israel” bisa saja berangkat dari perpaduan berbagai tradisi kuliner beragam budaya independen. Orang-orang Yahudi yang berdiaspora ke Palestina berasal dari latar belakang yang berbeda dengan budaya yang mencerminkan asal negara mereka.

Yahudi Ashkenazi, misalnya, datang dengan pengaruh masakan Eropa Timur seperti Polandia dan Jerman, sementara Yahudi Mizrahi membawa tradisi kuliner dari Irak, Yaman, Levant, dan Afrika Utara, yang banyak diantara masakannya serupa dengan masakan Arab. Namun, sejak berdirinya Israel pada 1948, gerakan Zionisme berusaha melakukan unifikasi budaya. Mereka harus melakukan cara untuk menyatukan beragam budaya tersebut untuk mendukung narasi satu bangsa, agar lebih mudah mengklaim bahwa semua orang Yahudi yang bermigrasi adalah pemilik asli tanah Palestina.[4]

Reem Kassis, penulis asal Palestina, menjelaskan bahwa orang Yahudi dari Eropa Timur yang bermigrasi ke Palestina mulai mengubah pola makan mereka. Mereka lebih banyak mengonsumsi bahan lokal, seperti sayuran, buah-buahan, dan produk susu. Menurut Kassis, kedekatan dengan bahan-bahan inilah yang membuat jajanan sederhana khas Palestina, seperti hummus, falafel, za’atar, dan ka’ak, lebih cepat menarik minat populasi Yahudi ketimbang hidangan yang lebih rumit seperti maftool, maqlubeh, mansaf, atau msakhan.

Sementara itu, Yahudi Mizrahi yang datang dari beberapa wilayah Arab justru bukan pihak yang pertama kali memperkenalkan makanan tersebut. Hummus dan falafel, misalnya, tidak masuk dalam kuliner utama mereka sebelum imigrasi besar-besaran tahun 1950-an. Hidangan ini lebih dulu akrab di Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon, ketimbang di Yaman, Irak, atau Afrika Utara, wilayah asal sebagian besar imigran Yahudi Mizrahi.[5]

 

Beberapa Masakan Timur Tengah-Palestina yang Diklaim Israel

Beberapa pihak berpendapat bahwa masakan Israel terbentuk dari campuran budaya imigran yang datang ke sana. Orang Yahudi yang bermigrasi membawa kuliner khas dari daerah asal mereka, misalnya schnitzel (Afrika Utara), kebab dan bureka (Balkan), shakshuka (Afrika Utara), dan amba (Irak). Namun, hal ini tidak otomatis membuat makanan tersebut bisa diklaim sebagai masakan khas Israel. Logikanya sederhana, jika ada orang Yahudi dari Jepang pindah ke Israel lalu membuka restoran sushi, apakah otomatis sushi bisa disebut makanan khas Israel? Tentu tidak.[6] Sama halnya dengan di Indonesia, sushi tetap identik dengan Jepang, bukan tiba-tiba berubah jadi kuliner Indonesia.

1. Hummus

Tangkapan layar dari situs BBC yang menyebut hidangan ini sebagai ‘Israeli hummus’. Sumber: BBC

Hummus adalah hidangan khas Timur Tengah yang berbahan dasar kacang Arab, tahini, bawang putih, dan lemon. Makanan ini telah dikonsumsi selama ribuan tahun di kawasan Mesir dan Syam (Palestina, Yordania, Suriah, Lebanon), sebelum menyebar ke Turki, Yunani, dan wilayah Mediterania lainnya. Perdebatan biasanya berkisar pada siapa yang membuat hummus terbaik, bukan siapa yang menciptakannya. Namun, situasi berubah ketika Israel, yang berdiri pada pertengahan abad ke-20, mulai mengklaim hummus sebagai bagian dari identitas kulinernya. [7]  Sejak saat itu, makanan sederhana ini menjadi simbol tarik-menarik identitas dan politik.

Proses “Israelisasi” hummus terjadi secara bertahap. Awalnya, para imigran Yahudi dari Eropa yang datang ke Palestina mencoba mengadopsi makanan lokal Arab, baik karena alasan praktis maupun sebagai cara untuk terlihat lebih “menyatu” dengan tanah baru yang mereka tempati. Setelah berdirinya Israel pada 1948, konsumsi hummus semakin meluas. Orang Israel mulai sering bepergian ke kota-kota Arab dalam upaya menghindari sistem penjatahan tzena (periode penjatahan pangan) yang diterapkan oleh negara. Di sana mereka dapat membeli daging dengan lebih mudah, juga semakin sering makan di restoran-restoran Palestina.

Setelah 1948, gelombang imigran Yahudi dari dunia Arab ikut memperkuat posisi hummus dalam menu sehari-hari Israel. Ironisnya, hidangan ini bukan bagian dari tradisi kuliner mereka. Lambat laun, hummus diberi label sebagai masakan “Timur Tengah” dan dianggap warisan budaya Yahudi Timur Tengah, sambil menghapus identitas Arab-Palestinanya. Pada 1950-an, hummus sudah tersaji di restoran “oriental” milik Yahudi dan masuk ke menu tentara Israel.[8] Sejak itu, hummus terus dipromosikan sebagai bagian dari kuliner nasional Israel, sebuah bentuk apropriasi makanan untuk menegaskan klaim identitas dan legitimasi atas tanah.

 

2. Falafel

Falafel adalah hidangan khas Timur Tengah berupa bola-bola goreng yang terbuat dari kacang fava (di Mesir disebut ta’amia) dan kacang Arab (versi tradisional Palestina dan ditemukan di Israel saat ini), atau dari kombinasi keduanya. Hidangan ini sudah populer di banyak kawasan Arab jauh sebelum berdirinya Israel pada 1948. Namun, setelah gelombang imigran Yahudi datang ke tanah Palestina, falafel diadopsi dan perlahan dilekatkan pada identitas Israel. Pada 1950-an, falafel menjadi camilan umum di Israel, bahkan dijadikan ikon kuliner nasional, seakan-akan melepaskan jejak Arabnya untuk mendukung narasi Zionis.[9]

Tulisan “Falafel: Cemilan Nasional Israel” dalam kartu pos di Israel

Klaim ini memicu perdebatan internasional. Fadi Abboud, presiden Asosiasi Industrialis Lebanon (LIA), pernah memprotes pada 2008 ketika mendapati stan Israel di pameran makanan etnik memasarkan falafel sebagai makanan khas Israel. Namun, upaya hak cipta pun rumit, sebab falafel juga diklaim oleh Mesir dan Suriah. Menurut Rami Zurayk, profesor Universitas Amerika di Beirut, persoalan ini bukan tentang hak eksklusif Lebanon, tetapi tentang penghapusan identitas. Falafel jelas bukan makanan khas Israel, sebab ini adalah bagian dari warisan kuliner Timur Tengah yang telah ada jauh sebelum Israel lahir melalui proses kolonisasi.[10] Seperti humus, makanan ini telah menjadi khas di wilayah Timur tengah, bukan di Israel.

Contoh klaim ini tampak jelas dalam salah satu kartu pos populer di Israel yang menampilkan sepotong roti pita berisi falafel dengan bendera Israel di atasnya, disertai tulisan “Falafel: camilan nasional Israel.” Gambar ini seolah menyiratkan falafel sebagai simbol pencapaian nasional, layaknya pengibaran bendera di puncak Everest. Padahal, falafel sendiri merupakan makanan tradisional Arab yang sudah dikenal sejak 1000 tahun lalu di komunitas Koptik Mesir, dan baru setelah 1948 hidangan ini diberi citra baru dan diadopsi sebagai bagian dari identitas kuliner Israel.[11]

 

3. Maftoul/Kuskus

Maftoul, hidangan tradisional khas Palestine. Sumber: Ebushnaq/Wikipedia

Maftoul adalah salah satu hidangan khas Palestina yang kerap disamakan dengan “kuskus Israel”. Padahal, sejarah mencatat bahwa bentuk awal hidangan ini sudah dikenal orang Palestina sejak abad ke-17, ketika penduduk Afrika Utara datang bersama pasukan Muslim pada masa Perang Salib dan kemudian menetap di Yerusalem. Versi modernnya kembali diperkenalkan pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 melalui pengungsi Aljazair, Maroko, Tunisia, dan Libya yang melarikan diri dari kolonialisme Prancis dan Italia. Dari sinilah lahir maftoul berbentuk mutiara besar, hasil adaptasi dari kuskus Afrika Utara yang berukuran lebih kecil.[12]

Dalam perkembangan selanjutnya, hidangan ini juga memasuki perdebatan identitas. Israel mempopulerkannya di Barat dengan nama Israeli couscous atau p’titim. P’titim diciptakan oleh perusahaan makanan Osem atas permintaan Perdana Menteri David Ben-Gurion pada masa kelangkaan pangan tahun 1950-an. Awalnya, p’titim hanya dibuat dalam bentuk beras bulir panjang. Kemudian, Osem menambahkan bentuk bulat kecil yang menyerupai maftoul yang terbuat dari bulgur dan tepung terigu, dan farfel, mie telur panggang kecil yang disukai dalam masakan Yahudi Eropa Timur.[13]

Banyak yang menilai bahwa p’titim terinspirasi dari maftoul dan couscous tradisional Arab, sehingga dianggap melakukan apropriasi budaya, terlebih karena terjadi dalam konteks penjajahan. Israel kemudian memasarkan p’titim dengan label Israeli couscous, langkah yang membuat banyak orang Palestina merasa warisan kuliner mereka dihapuskan.

Menu penerbangan Virgin Atlantic edisi Desember 2017 mencantumkan hidangan pembuka ‘Palestinian couscous salad’. Foto ini diunggah oleh pengguna X @Thedaniwilliams yang memprotes penamaan tersebut dan menuduh maskapai tunduk pada tekanan kampanye pro-Palestina.

Perdebatan mengenai penamaan maftoul dalam menu maskapai Virgin Atlantic pada 2017 mengungkap bagaimana kuliner Palestina tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga medan perebutan identitas dan politik. Awalnya, maskapai tersebut menulis hidangan berbahan maftoul sebagai “terinspirasi oleh cita rasa Palestina”. Namun, deskripsi ini memicu protes dari kelompok pro-Israel yang menuduh maskapai mendukung agenda BDS dan bahkan menyerukan boikot. Akhirnya, maskapai pun menghapus kata “Palestina” dan menggantinya menjadi “couscous salad”, yang justru memantik kritik balik dari pihak pro-Palestina karena dianggap sebagai bentuk penghapusan budaya (cultural erasure).[14]

Kasus penamaan maftoul dalam menu pesawat mungkin tampak sepele, tetapi sesungguhnya mencerminkan persoalan yang jauh lebih serius. Dalam narasi Zionis, keberadaan Palestina kerap digambarkan sebagai gangguan. Narasi ini berusaha menempatkan orang Palestina sebagai komunitas yang tercerabut dari akar, tidak memiliki hak, dan digambarkan sebagai bangsa nomaden tanpa tanah.

Di sinilah pentingnya identitas kuliner, bahwa makanan bukan sekadar soal rasa, tetapi simbol eksistensi dan sejarah. Tugas penulis, akademisi, dan jurnalis adalah merebut kembali ruang narasi ini, menunjukkan bahwa di balik setiap hidangan, ada sebuah bangsa yang berjuang mempertahankan eksistensinya.

Penulis: Nadea Salsabila Putri

Sumber:

[1] Ronald Ranta and Yonatan Mendel, “Consuming Palestine: Palestine and Palestinians in Israeli Food Culture,” Sage Journals 14, no. 3 (2014): 414.

[2] Nesrin Yavas, “Safeguarding Traditional Palestinian Food Culture: The Case of The Arab American Play Food And Fadwa,” Millî Folklor 17, no. 135 (2022): 150.

[3] Marcel Shamshoum, “Spoon-Feeding Food Appropriation?,” This Week in Palestine, n.d., 46–47, https://thisweekinpalestine.com/spoon-feeding-food-appropriation/.

[4] Reem Kassis, “Here’s Why Palestinians Object to the Term ‘Israeli Food’: It Erases Us from History,” The Washington Post, February 18, 2020, https://www.washingtonpost.com/lifestyle/food/heres-why-palestinians-object-to-the-term-israeli-food-it-erases-us-from-history/2020/02/14/96974a74-4d25-11ea-bf44-f5043eb3918a_story.html.

[5] Kassis.

[6] Kassis.

[7] Diana Spechler, “Who Invented Hummus?,” BBC, December 13, 2017, https://www.bbc.com/travel/article/20171211-who-invented-hummus; Kassis, “Here’s Why Palestinians Object to the Term ‘Israeli Food’: It Erases Us from History.”

[8] Ari Ariel, “The Hummus War,” University of California Press 12, no. 1 (2012): 40.

[9] Yael Raviv, “Falafel: A National Icon,” University of California Press 3, no. 3 (2003): 20.

[10] Hugh Macleod and Beirut, “Lebanon Turns up the Heat as Falafels Fly in Food Fight,” The Age, October 12, 2008, https://www.theage.com.au/world/lebanon-turns-up-the-heat-as-falafels-fly-in-food-fight-20081011-4yqo.html.

[11] Ranta and Mendel, “Consuming Palestine: Palestine and Palestinians in Israeli Food Culture,” 415–16.

[12] Joseph Massad, “Israel-Palestine: How Food Became a Target of Colonial Conquest,” Middle East Eye, November 17, 2021, https://www.middleeasteye.net/opinion/israel-palestine-food-colonial-conquest-target-how.

[13] Leah Koenig, “The Truth About Israeli Couscous,” Taste, January 30, 2018, https://tastecooking.com/truth-israeli-couscous/.

[14] Jelisa Castrodale, “Virgin Atlantic Can’t Seem to Win in Controversy Over ‘Palestinian Couscous,’” Vice, February 16, 2018, https://www.vice.com/en/article/virgin-atlantic-cant-seem-to-win-in-controversy-over-palestinian-couscous/; Ramzy Baroud, “More than a Fight over Couscous: Why the Palestinian Narrative Must Be Embraced,” Middle East Monitor, February 20, 2018, https://www.middleeastmonitor.com/20180220-more-than-a-fight-over-couscous-why-the-palestinian-narrative-must-be-embraced/.

You might also like