Pembalut Jadi Barang Mewah, Realita Kemiskinan Menstruasi Perempuan Palestina

Para ibu dan anak yang terjebak dalam kelaparan serta akses yang terbatas terhadap sanitasi kebersihan. Sumber: Said Khatib/AFP/Getty Images dikutip dari The Guardian

Kami berkeliling mencari pembalut di semua apotek, tetapi tidak menemukannya

Sekarang, kami juga menderita karena tidak ada pembalut. Ini penderitaan baru

Dua pernyataan ini datang dari Heba Usrof dan Bisan Owda, perempuan muda Gaza yang menggambarkan realitas getir kehidupan perempuan di tengah genosida. Di sela kelaparan, kehausan, bersamaan dengan suara bom yang tak pernah berhenti, perempuan Gaza kini menghadapi krisis lain yang jarang terlihat, yakni period poverty atau kemiskinan menstruasi.

Barang sederhana seperti pembalut, yang di banyak tempat dianggap kebutuhan bulanan biasa, telah menghilang dari apotek dan toko-toko di Gaza. Kalaupun ada, harganya melonjak hingga lima sampai enam kali lipat. UNICEF mencatat bahwa banyak perempuan Palestina kini tidak memiliki akses ke ruang aman dan bersih untuk mengelola kebersihan menstruasi mereka.[1] Kini, menstruasi yang mereka alami bukan hanya tentang rasa sakit fisik, tetapi juga menjadi bentuk baru perjuangan demi menjaga kebersihan serta martabat di tengah genosida Israel yang terus berlangsung.

 

Apa itu Period Poverty?

Kampanye kesadaran manajemen kebersihan menstruasi di India pada 2022. Sumber: UNICEF/Priyanka Parashar dikutip dari UN Women

Ada satu aspek kemiskinan yang kerap diabaikan dalam lanskap kemiskinan global, dan aspek ini sangat berdampak besar pada kehidupan perempuan. Aspek tersebut adalah period poverty atau kemiskinan menstruasi. Period poverty merujuk pada kondisi ketika perempuan tidak memiliki akses memadai terhadap produk kebersihan menstruasi, fasilitas sanitasi dasar, serta edukasi yang memadai mengenai kesehatan menstruasi.

Krisis ini dialami oleh banyak perempuan di dunia, dan tak hanya terbatas di negara yang berpenghasilan rendah. Awalnya memang dianggap hanya dialami oleh negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah, tetapi ternyata period poverty juga dialami oleh negara-negara berpenghasilan tinggi. Di Inggris, misalnya, 40% anak perempuan dilaporkan menggunakan tisu toilet karena tidak mampu membeli pembalut.[2]

Sebuah laporan tahun 2022 menunjukkan bahwa sebanyak dua pertiga dari 16,9 juta perempuan di Amerika Serikat tidak mampu membeli produk menstruasi secara rutin. Fakta tersebut menjadi bukti bahwa kemiskinan menstruasi dapat terjadi di wilayah mana pun, terlebih di wilayah yang sedang dilanda konflik dan penjajahan. Period poverty tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik perempuan saja, tetapi juga dapat merusak kesehatan mental dan emosional.[3] Banyak dari mereka merasa malu, bersalah, atau bahkan terasing karena tidak mampu mengelola menstruasi dengan layak. Dengan demikian, period poverty merupakan masalah yang perlu diselesaikan oleh semua orang, terutama para pemangku kebijakan.

 

Period Poverty Juga Dialami Perempuan Palestina

Period poverty paling rentan terjadi di negara-negara yang berpenghasilan rendah atau menengah (LMIC), serta wilayah konflik dan pengungsian. Palestina memenuhi seluruh kondisi itu. Sejak serangan besar-besaran Israel pada 7 Oktober 2023, infrastruktur perumahan, layanan publik, dan fasilitas kesehatan di Gaza lumpuh. Blokade total dan penutupan jalur bantuan kemanusiaan membuat akses terhadap kebutuhan dasar, termasuk produk kebersihan menstruasi, nyaris tidak ada.

Layanan sanitasi dan kesehatan hancur. Fasilitas WASH (water, sanitation, and hygiene), sabun, mekanisme pembuangan, dan pembalut sekali pakai makin sulit dijangkau. Para perempuan di Palestina hidup dalam kondisi darurat kemanusiaan karena menghadapi hambatan untuk mengakses produk menstruasi.[4]

Sebuah studi terhadap 400 mahasiswi di Universitas Birzeit, Tepi Barat, menemukan bahwa 14,5% dari mereka mengeluhkan mahalnya produk kebersihan menstruasi. Sebanyak 15,3% lainnya mengaku menggunakan produk alternatif yang lebih murah meski tidak nyaman, seperti tisu toilet, popok, atau pakaian yang bisa dicuci ulang. Fasilitas kampus pun masih belum mendukung manajemen kebersihan menstruasi, seperti kurangnya air, sabun, pembalut, tempat sampah, dan pencahayaan toilet yang layak. Semua ini berdampak pada menurunnya rasa percaya diri mahasiswi pada saat menstruasi.[5] Meski demikian, banyak mahasiswi yang masih dapat mengakses pembalut sekali pakai.

Kondisi di kamp pengungsian jauh lebih buruk. Saat ini, ada lebih dari 13 juta pengungsi Palestina di seluruh dunia, dengan sekitar 6 juta di antaranya terdaftar oleh UNRWA. Sepertiganya masih tinggal di kamp-kamp pengungsi, 19 kamp di Tepi Barat dan 10 di Yordania, dengan lingkungan yang padat dan kumuh.[6] Sebuah riset terhadap remaja perempuan Palestina di kamp-kamp tersebut menunjukkan bahwa mereka menghadapi hambatan dalam hal kesiapan menstruasi karena berbagai keadaan, mulai dari lingkungan rumah, sekolah, layanan kesehatan, dan masyarakat umum.

Genosida Israel di Gaza telah memaksa banyak perempuan untuk mengungsi, bahkan tak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Kondisi ini berimbas pada krisis kebutuhan menstruasi. Sumber: CARE/Tim Yousef Ruzzi

Remaja perempuan Palestina di kamp-kamp pengungsi masih hidup dalam budaya yang menganggap menstruasi sebagai sesuatu yang tabu dan memalukan. Banyak dari mereka tidak mendapat informasi apapun sebelum mengalami menstruasi pertama, karena ibu atau anggota keluarga perempuan merasa belum waktunya membicarakan hal itu. Akibatnya, sekolah menjadi sumber informasi utama tentang menstruasi. Namun, kurikulum pendidikan kesehatan di Tepi Barat baru membahas topik biologis menstruasi di kelas sembilan dan sepuluh. Sementara materi persiapan menstruasi hanya diajarkan di kelas tujuh di Tepi Barat, tidak di Yordania. Sayangnya, banyak anak perempuan yang putus sekolah pada usia sebelum 14 tahun (kelas delapan), sehingga mereka hanya menerima sedikit informasi mengenai menstruasi. Meski anak-anak memahami cara menggunakan dan membuang pembalut, kondisi fasilitas sanitasi di sekolah sering kali jauh dari layak. Toilet yang kotor, tanpa sabun, tanpa tisu, tanpa tempat sampah, serta wastafel dan lantai yang kotor, menjadi hambatan besar mereka untuk mengelola kebersihan saat menstruasi.[7]

Sekarang beralih ke Gaza yang diblokade Israel. Berdasarkan laporan dari PBB pada Mei 2025, hampir sebanyak 700.000 perempuan termasuk anak perempuan harus menghadapi kondisi krisis menstruasi di tengah krisis kemanusiaan yang paling parah dalam sejarah modern hari ini. Mereka dipaksa keadaan untuk tidak bisa mengelola fase menstruasi secara aman dan bermartabat. Bagaimana tidak, kondisi Gaza hari ini yang diwarnai dengan pemboman tiada henti, perusakan infrastruktur dan lingkungan, pengungsian massal, telah memicu krisis terhadap akses sanitasi dan layanan WASH. Akses air bersih semakin langka, sementara toilet turut hancur bersamaan dengan serangan udara Israel.[8]

Akibatnya, banyak perempuan di Gaza memilih untuk mengurangi makan dan minum demi menghindari penggunaan toilet umum yang dipadati warga. Hal ini beresiko menimbulkan gangguan kesehatan lainnya, termasuk infeksi saluran kemih dan dehidrasi. Jika dihitung, ada sekitar 10,4 juta pembalut yang diperlukan setiap bulannya. Namun, lebih dari 75%  kebutuhan ini belum terpenuhi. Pintu masuk akses bantuan kemanusiaan menuju Gaza pun diblokir Israel. Jika pun ada bantuan yang masuk, fokus utamanya adalah pengiriman makanan dan obat-obatan, tanpa disertai materi kebersihan, yang mana ini semakin memperparah kekerasan berbasis gender. Keadaan semakin buruk karena harga pembalut melonjak hingga lima kali lipat dari harga sebelum peristiwa Oktober 2023. Harga ini sulit dijangkau oleh para perempuan karena bersamaan dengan ekonomi Gaza yang runtuh. Di saat yang bersamaan, krisis air bersih dan sanitasi membuat perempuan tidak bisa membersihkan diri, mencuci, bahkan membuang pembalut dengan aman dan higienis.[9]

Tekanan ini berdampak besar pada kesehatan mental dan emosional perempuan. Anak-anak perempuan di Gaza menganggap bahwa menstruasi di tengah lingkungan pengungsian adalah beban yang memalukan. Sebab, tidak ada ruang privasi dan dukungan terhadap kebersihan menstruasi. Kepiluan ini dituturkan oleh seorang perempuan muda di Gaza kepada UNFPA,

Saya hanya punya satu pembalut, jadi saya membungkusnya dengan tisu toilet agar awet. Saya juga tidak bisa mandi, dan rasa sakitnya luar biasa. Saya duduk diam menangis sampai akhir hari.

Bahkan, seorang ayah dari empat putri yang mengungsi dari Jabalia ke Gaza Utara, turut membagikan kisah pilunya. Karena tak tersedia pembalut, ia rela merobek bajunya menjadi beberapa potongan kain agar anak-anak perempuannya dapat menggunakannya.[10]

Apotek terlihat kosong. Tidak ada pembalut atau obat pereda nyeri akibat kehabisan stok. Sumber: Anadolu/Getty Images dikutip dari The Guardian

Pembalut yang biasanya mudah dijangkau di banyak negara, kini menjadi barang mahal di Gaza. Seorang gadis yang mengungsi di sekolah milik UNRWA mengaku terpaksa mencuci pembalut sekali pakai agar bisa digunakan kembali. Ada pula yang menerima pembalut dari bantuan, tetapi kualitasnya buruk, sehingga ia terkena infeksi. Alhasil, ia menggunakan kain dan tisu untuk menggantikannya, meskipun bocor karena tak berfungsi dengan baik. Perempuan di Gaza juga mengalami pendarahan dan kram perut lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya. Seorang gadis yang sama menuturkan bahwa periode menstruasinya tidak teratur, yang ia anggap akibat stress dan ketegangan di tengah genosida.[11]

Di balik ketangguhan warga Gaza yang publik lihat, tersembunyi realitas pahit, yakni solusi darurat yang tidak bermartabat dan mengancam kesehatan. Sebab, solusi-solusi darurat tersebut mampu menimbulkan infeksi reproduksi, infeksi menular seksual, dan infeksi saluran kemih yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan komplikasi ginekologis.[12] Sementara itu, Israel terus melancarkan serangan udara dan darat besar-besaran ke Gaza, yang mana ini memperkuat dugaan upaya pembersihan etnis terhadap rakyat Palestina.

Meskipun semakin banyak negara mengutuk tindakan Israel di forum PBB, negara paria itu tetap tak tersentuh hukum berkat dukungan Amerika Serikat yang secara konsisten menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan. Untuk menyelesaikan konflik ini, dunia tidak bisa hanya menuntut gencatan senjata, sebab perlu pula mengatasi akar kolonialisme yang telah lama merebut wilayah Palestina, yang dulunya merupakan rumah bagi berbagai ras dan agama. Meski gencatan senjata permanen sangat diperlukan, perlu juga untuk memasukkan kebutuhan khusus perempuan dalam program darurat. UNFPA, badan PBB yang menangani kesehatan seksual dan reproduksi, melaporkan bahwa bantuan produk menstruasi yang sebelumnya rutin dikirim ke Gaza kini terhenti akibat blokade total. Stok bantuan semakin menipis, hingga nyaris habis. Fokus distribusi pun lebih menyasar makanan dan obat-obatan, sehingga kebutuhan kebersihan menstruasi perempuan nyaris terpinggirkan.

 Penulis: Nadea Salsabila Putri

Sumber:

[1] Aya Batrawy, “Another Layer of Misery: Women in Gaza Struggle to Find Menstrual Pads, Running Water,” NPR, January 11, 2024, https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2024/01/11/1224201620/another-layer-of-misery-women-in-gaza-struggle-to-find-menstrual-pads-running-wa.

[2] Nadia Muhaidat et al., “Period Poverty, Reuse Needs, and Depressive Symptoms among Refugee Menstruators in Jordan’s Camps: A Cross-Sectional Study,” BMC Women’s Health 24, no. 384 (2024): 2.

[3] Janet Michel et al., “Period Poverty: Why It Should Be Everybody’s Business,” Jurnal of Global Health Reports 6 (2022): 1 & 4.

[4] Sahar Hassan et al., “Menstrual Health and Hygiene among Young Palestinian Female University Students in the West Bank: A Crosssectional Study,” BMJ Open 13 (2023): 2.

[5] Hassan et al., 1 & 8.

[6] Rula Ghandour, Coming of Age: A Qualitative Study of Adolescent Girls’ Menstrual Preparedness in Palestinian Refugee Camps in the West Bank and Jordan, n.d., 251.

[7] Ghandour, Coming of Age: A Qualitative Study of Adolescent Girls’ Menstrual Preparedness in Palestinian Refugee Camps in the West Bank and Jordan.

[8] Alice Rosmini et al., “Silent Struggles: The Menstrual Hygiene Crisis in Gaza,” UNFPA, May 2025, 2.

[9] Rosmini et al., 3.

[10] “From Natural Process to Nightmare: How Gaza’s Women and Girls Cope with Their Periods in a War Zone,” UNFPA, June 2, 2025, https://www.unfpa.org/news/natural-process-nightmare-how-gaza%E2%80%99s-women-and-girls-cope-their-periods-war-zone.

[11] Aseel Mousa, “‘My Period Has Become a Nightmare’: Life in Gaza without Sanitary Products,” The Guardian, https://www.theguardian.com/global-development/2024/mar/05/my-period-has-become-nightmare-life-in-gaza-without-sanitary-products.

[12] UNFPA, “From Natural Process to Nightmare: How Gaza’s Women and Girls Cope with Their Periods in a War Zone.”

You might also like