Dari Laut ke Gaza, Upaya Kapal Freedom Flotilla Menembus Blokade

Sumber: Website resmi Freedom Flotilla Coalition

Di tengah blokade Israel yang membelenggu Jalur Gaza sejak 2007, sekelompok relawan internasional dari Flotilla Freedom Coalition terus berlayar melintasi laut Mediterania menuju wilayah tersebut. Mereka bukan bagian dari misi militer ataupun lembaga politik tertentu. Tujuan mereka adalah mengirimkan bantuan kemanusiaan, meyuarakan pesan solidaritas global bagi rakyat Palestina, sekaligus mendesak Israel agar berhenti melakukan pendudukannya. Gerakan ini kembali menjadi sorotan dunia, karena baru-baru ini, yakni pada Juni dan Juli 2025, mereka mengirimkan kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza. Artikel ini akan mengulas perjalanan Freedom Flotilla Coalition dalam upayanya menerobos pengepungan laut oleh otoritas Israel menuju Gaza.

Hak Kebebasan Laut dan Blokade Gaza: Apa yang Dilanggar?

Dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1982, dapat disimpulkan bahwa negara-negara di dunia bertanggung jawab dalam penggunaan lautan di dunia, termasuk untuk menggunakan laut lepas, baik untuk pelayaran, bisnis, pengelolaan sumber daya laut, lingkungan, bahkan penelitian, dengan catatan dilakukan secara damai. Kapal yang berlayar di laut lepas, tanpa ada indikasi kejahatan dan tindakan ilegal, mendapat imunitas penuh, sehingga tidak ada yang bisa menahan atau mengintervensi kapal tanpa dasar internasional yang sah.[1]

Dalam konteks blokade Gaza oleh otoritas Israel, perlu dipahami bahwa tindakan ini sebenarnya dikecam oleh dunia internasional, termasuk oleh Hukum Humaniter Internasional karena membiarkan penduduk di Jalur Gaza mengalami kelaparan massal. Israel telah menjadikan kelaparan massal sebagai metode pendudukannya, sehingga membatasi bantuan kemanusiaan yang masuk melalui darat, udara, juga laut. Konvensi Jenewa Keempat dan Protokol Tambahan I menetapkan bahwa pihak yang berkonflik dan negara-negara yang tidak ikut berkonflik, harus memfasilitasi perlintasan bebas dalam mengirim bantuan (makanan, obat-obatan, pakaian, selimut, dan perlengkapan lain) untuk menyediakan pasokan bagi keberlangsungan hidup penduduk sipil. Pengiriman bantuan ini harus dilindungi dari bahaya yang timbul dan harus diteruskan secepat mungkin.[2]

Berdasarkan dasar-dasar hukum di atas, nampak jelas bahwa kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, mendapat imunitas penuh untuk dilindungi. Otoritas Israel ataupun Palestina tidak diperkenankan mengintervensi kapal tersebut. Namun, sejarah telah menyaksikan yang sebaliknya. Pada 31 Mei 2010, militer Israel menyerbu sebuah kapal penumpang milik Turki, yakni Mavi Marmara yang tengah membawa 10.000 ton bantuan kemanusiaan ke Gaza di laut lepas. Insiden ini menewaskan 9 aktivis dan lebih dari 30 aktivis terluka, juga telah menimbulkan ketegangan hubungan antara Turki dan Israel. Pelanggaran Israel terhadap hak navigasi dan hukum internasional tersebut memicu kecaman internasional.

 

Keberangkatan kapal Mavi Marmara di Anatolia menuju Gaza pada 2010 (Sumber: https://flickr.com/photos/freegaza/4629293801/in/photostream/)

Warga Turki pun memimpin protes, serta menyerukan pertemuan darurat PBB, OKI, dan NATO untuk membahas insiden ini. Namun, Israel mengatakan bahwa para penumpang di kapal Mavi Marmara yang lebih dulu menyerang militer Israel (IDF) dengan persenjataan seperti pisau dan pentungan, sehingga memaksa IDF untuk melakukan perlawanan.[3] Alasan Israel yang terkesan membela diri demi alasan keamanan ini telah sering digunakan berkali-kali untuk melegitimasi pelanggarannya. Tragedi Mavi Marmara bukanlah satu-satunya. Berikut akan dipaparkan peran Freedom Flotilla Coalition dalam meneruskan spirit Mavi Marmara menembus Gaza dalam membawa bantuan kemanusiaan dan solidaritas internasional.

Mengenal Freedom Flotilla Coalition dan Upayanya Menembus Blokade Gaza

Freedom Flotilla Coalition (FFC) atau Koalisi Armada Kebebasan merupakan gerakan yang berfokus pada kampanye mengakhiri blokade Gaza oleh Israel. Selain itu, FFC juga aktif mempublikasikan keterlibatan pemerintah lain serta aktor global yang mendukung blokade Gaza. Kelompok ini dibentuk pada tahun 2010 setelah insiden kapal Mavi Marmara, dengan keanggotaannya terbuka bagi siapapun. Gerakan FFC ini tidak memiliki motif kekerasan atau militer dalam upayanya mendobrak blokade Gaza. FFC bekerja sama dengan berbagai mitra masyarakat sipil, baik itu partai, faksi, atau pemerintah manapun.

Dilansir dari website resmi FFC, beberapa organisasi yang tergabung dalam gerakan ini diantaranya  Canadian Boat to Gaza, Freedom Flotilla Italia, My Care Malaysia, Kia Ora Gaza (New Zealand), Ship to Gaza Norway Palestine Solidarity Alliance (South Africa), Rumbo a Gaza (Spain),  Ship to Gaza SwedenIHH/Mavi Marmara Freedom and Solidarity Association (Turkey), US Boat to GazaInternational Committee for Breaking the Siege of GazaFree Gaza Australia and Gaza Freiheitsflottille. Selain itu, FFC juga memiliki mitra di Gaza bernama Union of Agricultural Work Committees, yang mewakili para nelayan dan petani Palestina.[4]

FFC telah beberapa kali mengirim kapal menuju Gaza untuk membawa bantuan kemanusiaan bagi rakyat yang terjebak dalam blokade. Salah satu upaya signifikan terjadi pada tahun 2011 melalui misi “Freedom Flotilla IIStay Human” yang dimulai pada 5 Juli. Namun, banyak kapal dalam misi tersebut ditahan sebelum meninggalkan pelabuhan. Beberapa kapal dicegah berangkat oleh otoritas Yunani dengan dalih keamanan, sementara dua kapal di Turki dan Yunani diduga disabotase oleh Israel. Hanya ada satu kapal yang berhasil berlayar menuju Gaza, yakni Prancis Dignite al-Karama, tetapi tetap dicegat oleh militer Israel sebelum mencapai tujuan.[5]

Misi serupa kembali dilakukan pada 2015, 2016, 2017, 2018, 2023, dan 2024, tetapi berujung pada sabotase dan penahanan kapal beserta para aktivis di dalamnya, yang kemudian dideportasi. Padahal, dalam hukum internasional, armada kemanusiaan memiliki hak untuk melintas bebas di perairan internasional, terutama untuk tujuan kemanusiaan seperti pengiriman bantuan ke Gaza.

 

Pelayaran Freedom Flotilla Coalition Pada 2025

1. Pelayaran Kapal Conscience (2 Mei 2025)

Kerusakan yang dialami kapal Conscience setelah diserang (Sumber: ABC News)

Kapal ini berangkat dari Malta, Eropa Selatan, menuju Gaza untuk membawa bantuan kemanusiaan. Namun, setelah sekitar 30 KM dari pantai Malta, kapal tersebut dihantam dua kali oleh drone yang menyebabkan kerusakan serius, dan 4 korban luka ringan, sehingga memaksa para aktivis untuk kembali ke Malta. Mereka tidak diberikan bantuan penting, sehingga memaksa kapten kapal untuk mengarahkan kapal kembali ke perairan teritorial Malta. Laporan CNN menyebutkan bahwa sebuah pesawat C-130 Hercules Angkatan Udara Israel terbang menuju Malta beberapa jam sebelum terjadinya serangan terhadap kapal milik FFC ini. Data pelacakan menunjukkan pesawat Israel ini terbang rendah di atas Malta Timur dalam waktu lama sebelum kembali ke Israel, dan militer Israel menolak untuk berkomentar.[6]

2. Pelayaran Kapal Madleen (1 Juni 2025)

Situasi para relawan kapal Madleen ketika dicegat oleh pasukan militer Israel dan sempat kehilangan kontak selama 24 jam (Sumber: Aljazeera)

FFC kembali mengirimkan kapalnya pada awal Juni 2025 bernama Madleen, nama yang diambil dari satu-satunya nelayan wanita di Gaza yang bernama lengkap Madleen Kullab. Kapal ini mengangkut 12 relawan yang membawa bantuan kemanusiaan menu Gaza, termasuk Greta Thunberg, aktivis iklim Swedia terkemuka dan Rima Hassan, anggota parlemen di Eropa. Namun, kapal tersebut dicegat oleh angkatan laut Israel pada 9 juni 2025 yang memaksa para penumpangnya untuk berlabuh di Pelabuhan Ashdod, Israel.[7]

Israel mencegat dan menahan para relawan seolah-olah tindakan mereka ilegal. Militer Israel memerintahkan mereka agar membuang telepon genggamnya ke laut, lalu merekam video yang menunjukkan tentara memberikan roti dan air kepada para penumpang kapal, seolah-olah memperlakukan aktivis secara manusiawi. Dari yang dilaporkan FFC, setiap relawan diberikan dua pilihan, yakni menandatangani dokumen persetujuan untuk dideportasi, atau tetap ditahan dan menghadap pengadilan. Penasihat dan tim hukum terus menuntut Israel agar relawan diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Gaza, tetapi seperti yang diketahui, tidak ada sistem hukum yang adil dalam otoritas Israel.[8]

 

3. Pelayaran Kapal Handala (13 Juli 2025)

Sumber: Website resmi Freedom Flotilla Coalition

Kabar terkini dari FFC melaporkan bahwa mereka telah mengirimkan kembali kapalnya menuju Gaza yang diberi nama Handala. Nama ini terinspirasi dari tokoh kartun Palestina, seorang anak pengungsi yang bertelanjang kaki dan terus menentang ketidakadilan Israel terhadap negaranya. Kapal Handala berlayar dari Siracusa, Italia pada 13 Juli 2025 membawa bantuan kemanusiaan. Seorang jurnalis AFP melaporkan bahwa pelayaran ini membawa sekitar 15 relawan[9], yang terdiri dari aktivis, tenaga medis, pengacara, dan anggota parlemen. Dari video yang dipublikasikan melalui laman instagram FFC, terlihat puluhan orang memegang bendera Palestina dan mengenakan syal keffiyeh untuk menyemangati para relawan yang hendak berangkat menuju Gaza.

Tim memutuskan untuk berlabuh terlebih dahulu di Gallipoli, Italia, sekaligus mempersiapkan hal teknis sebelum melanjutkan keberangkatannya ke Gaza. Pada 20 Juli 2025, FFC pun mengumumkan bahwa Handala akan melanjutkan perjalanan terakhirnya ke Gaza membawa bantuan kemanusiaan yang sudah disiapkan di kapal. Pelayaran Handala (tracking) dapat ditelusuri oleh publik melalui situs resmi FFC, yakni https://freedomflotilla.org/ffc-tracker/.

Kabar terkini yang baru dirilis pada 20 Juli 2025 waktu Eropa (21 Juli waktu Indonesia) melalui seluruh sosial media FFC, menyebutkan adanya dugaan sabotase yang disengaja untuk menghalangi misi ini. Kejadian ini terjadi hanya beberapa jam sebelum Handala melanjutkan perjalanan ke Gaza. Handala menghadapi dua insiden mengerikan, yakni tali melilit baling-baling dengan erat, sesuatu yang dinilai tidak mungkin terjadi karena penggunaan normal maupun kecelakaan semata. Kedua, truk pengangkut yang seharusnya mengirimkan air bersih untuk keperluan mencuci dan memasak selama pelayaran, justru membawa zat berbahaya berupa asam sulfat. Asam sulfat tersebut memercik ke kaki seorang awak kapal, sehingga menyebabkan luka bakar. Awak kapal lainnya yang mencium bau zat tersebut kemudian membuka wadahnya dan mengalami luka bakar pula di tangannya. Tim menyerukan penyelidikan terhadap tindakan tersebut. Namun, FFC menyatakan bahwa sabotase ini tidak membuat mereka mundur dan tetap akan melanjutkan perjalanan menuju Gaza.

Hingga artikel ini ditulis pada 21 Juli 2025, belum ada konfirmasi lebih lanjut mengenai kondisi terkini pelayaran Handala, tetapi dapat dipastikan seluruh tim kapal sedang mengupayakan melanjutkan ke Gaza. Perkembangan terbaru mengenai posisi kapal dan kemungkinan berhasil tidaknya misi ini bisa saja telah terjadi saat artikel ini diterbitkan. Maka, publik dapat memantau langsung melalui situs dan kanal media sosial resmi FFC untuk mengetahui apakah Handala berhasil mencapai Gaza atau kembali menghadapi rintangan lain dalam perjalanannya.

Penulis: Nadea Salsabila Putri

Sumber:

[1] “United Nations Convention on the Law of the Sea of 10 December 1982,” paper presented at United Nations Convention on the Law of the Sea, Jamaika, United Nations, 1973-1982.

[2] Nils Melzer, Hukum Humaniter Internasional Sebuah Pengantar Komprehensif (Jakarta: International Committe of the Red Cross, 2019), 271–74.

[3] Ufuk Ulutaş, “Turkey and Israel in the Aftermath of the Flotilla Crisis,” SETA Foundation for Political, Economic and Social Research, 2010, 3–4.

[4] Freedom Flotilla Coalition, https://freedomflotilla.org/.

[5] Ida Rosdalina, “Mengenal Gaza Freedom Flotilla, Upaya Penuh Risiko Menantang Blokade Israel,” Tempo, June 4, 2025, https://www.tempo.co/internasional/mengenal-gaza-freedom-flotilla-upaya-penuh-risiko-menantang-blokade-israel-1642871.

[6] Freedom Flotilla Coalition; “What Happened to the Madleen and Why Were They Trying to Reach Gaza?,” Amnesty International, June 11, 2025, https://www.amnesty.org/en/latest/campaigns/2025/06/what-happened-to-the-madleen-and-why-were-they-trying-to-reach-gaza/.

[7] Ida Rosdalina, “Fakta-Fakta Tentang Kapal Madleen Yang Dicegat Israel,” Tempo, June 10, 2025, https://www.tempo.co/internasional/fakta-fakta-tentang-kapal-madleen-yang-dicegat-israel-1673856; “Aid Ship Seized by Israel Named after Gaza’s Only Fisherwoman, Madleen Kullab,” France 24, June 10, 2025, https://www.france24.com/en/middle-east/20250610-aid-ship-seized-by-israel-named-after-gaza-s-only-fisherwoman.

[8] Rosdalina, “Fakta-Fakta Tentang Kapal Madleen Yang Dicegat Israel.”

[9] “Activists Set Sail from Italy in Fresh Attempt to Challenge Gaza Blockade,” The Times of Israel, July 13, 2025, https://www.timesofisrael.com/activists-set-sail-from-italy-in-fresh-attempt-to-challenge-gaza-blockade/.

You might also like