Jalur Gaza, NPC – Israel kembali melancarkan serangan udara di Jalur Gaza Dan menewaskan lebih dari 591 warga Palestina dan melukai 1.042 lainnya dalam 72 jam terakhir, menurut laporan Kantor Media Pemerintah di Gaza.
Sejak Selasa dini hari, militer Israel terus menggempur berbagai wilayah di Gaza dengan serangan udara tanpa peringatan, menargetkan rumah-rumah warga sipil. Banyak korban masih terperangkap di bawah reruntuhan, sementara tim penyelamat kesulitan melakukan evakuasi.
Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70% korban serangan Israel adalah anak-anak, perempuan, dan lansia. Hal ini menjadi bukti bahwa Israel sengaja menargetkan warga sipil dalam serangan yang dikategorikan sebagai genosida sistematis.
Dalam pernyataannya, Kantor Media Pemerintah Gaza menegaskan bahwa serangan brutal ini merupakan bagian dari kejahatan perang yang terus berlanjut, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Lebih lanjut, pernyataan itu menegaskan bahwa Israel dan pemerintahan AS harus bertanggung jawab atas pembantaian massal dan pembersihan etnis yang berlangsung di Gaza. Namun, rakyat Palestina berjanji akan terus bertahan dan tidak gentar menghadapi agresi ini.
Sementara itu, kecaman terhadap serangan Israel terus berdatangan dari berbagai negara. Salah satunya dari Irlandia, yang menyebut agresi ini sebagai tindakan brutal Dan tak manusiawi. Irlandia juga mendesak Israel untuk mematuhi gencatan senjata segera demi mengakhiri penderitaan warga sipil Gaza yang terdampak perang.
Israel kembali melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah diberlakukan sejak 15
Januari 2025 dengan melancarkan serangan udara, operasi darat, serta memperketat blokade terhadap Jalur Gaza. Pemerintahan Gaza melaporkan lebih dari 350 pelanggaran yang dilakukan oleh militer Israel, menegaskan bahwa gencatan senjata tidak dihormati dan hanya menjadi kedok untuk melancarkan serangan yang lebih besar.
Menurut pejabat Palestina, Israel telah melakukan sedikitnya 962 pelanggaran, termasuk serangan udara terhadap permukiman penduduk dan kamp pengungsian tanpa peringatan, sementara korban jiwa dan luka-luka terus bertambah di tengah keterbatasan akses terhadap layanan medis.
Blokade yang semakin ketat memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza, dengan pasokan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar yang semakin menipis. Pembatasan akses terhadap bantuan kemanusiaan juga menambah penderitaan terhadap lebih dari dua juta penduduk Gaza yang terdampak oleh konflik berkepanjangan ini.
(T.RS/S:MiddleEastMonitor)