Dalam panggung politik internasional, hubungan antara Presiden Soeharto dan Yasser Arafat mencerminkan solidaritas yang erat antara Indonesia dan Palestina. Pertemuan keduanya tercatat beberapa kali, baik itu pada saat Yasser Arafat melakukan kunjungan ke Indonesia, terhitung hingga tiga kali, maupun saat keduanya bertemu di forum luar negeri. Pertemuan antara kedua pemimpin tersebut dinilai penting lantaran Indonesia terus mendukung dan memantau proses perdamaian di Palestina dan sebaliknya Palestina terus mengharapkan dukungan dan bantuan dari Indonesia. Selain itu pertemuan-pertemuan tersebut, menunjukkan kedekatan hubungan yang terjalin antara kedua pemimpin tersebut.
Pada tanggal 25 Juli 1984 hari Rabu sore pukul 17.00, Yasser Arafat tiba di Indonesia untuk pertama kalinya di Bandara Halim Perdanakusuma dan dijemput oleh Menlu Mochtar Kusumaatmadja disertai beberapa stafnya, Mendagri Supardjo Rustam dengan beberapa stafnya juga, serta Pangdam Jaya Mayjen Try Soetrisno. Pada kunjungannya yang pertama ini Yasser Arafat didampingi oleh anggota Komisi Pemerintahan Jamal Al-Suryani, anggota Komisi Revolusi Zaid Marzaim, Sulaiman Herti dan Nabil Ammer, serta 10 orang staf PLO.[1] Kemudian para rombongan langsung diantar menuju ke Istana Merdeka untuk mengadakan pertemuan dengan Presiden Soeharto. Dalam pertemuan ini membahas seputar dukungan Indonesia terhadap perjuangan Palestina secara politik untuk memperoleh kemerdekaan Palestina sesuai batas kemampuan yang bisa diberikan. Adapun bantuan berupa material, kemudian disampaikan bahwa Indonesia belum mampu untuk memberikannya karena pada saat itu Indonesia sedang dalam tahap pembangunan.[2]

Pertemuan Presiden Soeharto dan Yasser Arafat juga pernah terjadi di forum KTT OKI yang diselenggarakan di Dakar, Senegal pada tahun 1991. Yasser Arafat menemui Presiden Soeharto untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan pangan yang pernah diberikan Indonesia kepada rakyat Palestina. Yasser Arafat juga mengharapkan kembali bantuan pangan tersebut dikarenakan beberapa wilayah di Palestina mengalami kekurangan pangan yang serius. Hal tersebut ditanggapi secara serius dan akan dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh oleh Presiden Soeharto. Arafat memandang Presiden Soeharto sebagai salah satu pemimpin dunia karena berhasil membangun bangsanya.[3]
Pada tahun 1992 Arafat kembali melakukan kunjungan ke Indonesia bertepatan dengan diselenggarakannya KTT Gerakan Non Blok ke-10 di Jakarta. Yasser Arafat pada saat itu hadir sebagai Ketua PLO sekaligus Presiden Palestina untuk menghadiri undangan Konferensi GNB yang diselenggarakan di Jakarta dari tanggal 1-6 September 1992. Yasser Arafat kembali mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 06.00 pagi hari, ia langsung disambut oleh Presiden Soeharto dan kemudian didampingi oleh Menko Kesra Soepardjo Roestam. Kolonel Udday Rusdillie selaku ajudan Yasser Arafat untuk langsung menuju ke Jakarta Convention Centre (JCC) untuk mengikuti pembukaan KTT GNB ke-10.[4] Tidak lupa juga ia hadir dengan ciri khas pakaiannya yaitu menggunakan kaffiyeh kotak-kotak berwarna hitam putih di kepala, baju safari dengan pistol di pinggangnya. Sebelumnya pernah dijelaskan bahwasannya pistol yang selalu dibawanya itu merupakan simbol perjuangan.[5]

Setahun berikutnya, Yasser Arafat kembali melakukan kunjungan ke Jakarta pada tanggal 24 September 1993. Ini merupakan kunjungan Arafat yang terakhir ke Indonesia pada masa pemerintahan Orde Baru. Dalam kunjungannya ini ia didampingi oleh istrinya yaitu Suha Arafat yang sebelumnya merupakan sekretaris pribadinya Yasser Arafat. Setibanya di Jakarta, Yasser Arafat beserta istri dan rombongan langsung disambut oleh Presiden Soeharto dan ibu Tien Soeharto serta Wakil Presiden Try Sutrisno beserta ibu Tuti Try Sutrisno. Pada kunjungannya kali ini Yasser Arafat membahas seputar perjanjian perdamaian dengan Israel yang telah ditandatangani pada 13 September sebelumnya di Washington, Amerika Serikat. Selain itu dalam pertemuan yang diadakan di Wisma Negara ini juga membahas mengenai dana pembangunan yang diperlukan Palestina untuk membangun kembali negara tersebut. Presiden pun merespon akan segera memikirkan bantuan yang dapat diberikan untuk Palestina.[6]

Pada saat jamuan santap malam di Istana Negara, Presiden Soeharto memberikan sambutannya kepada Yasser Arafat dan juga istrinya. Presiden mengatakan,
“Sebagai bangsa yang pernah mengalami pahitnya penjajahan, bangsa Indonesia mempunyai semboyan ‘kami cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan’. Dengan semangat dari semboyan itu kami menyambut baik prakarsa perdamaian yang kini dirintis oleh Yang Mulia (Yasser Arafat). Kami percaya bahwa prakarsa perdamaian tadi dapat akhirnya mengantarkan bangsa Palestina kepada tujuan dan cita-citanya, yaitu kemerdekaan dan kedaulatan di tanah air sendiri.”
Presiden Soeharto juga menyatakan dukungan bahwasannya Indonesia bersedia untuk membantu Palestina dalam batas-batas kemampuan yang dimiliki, terutama dalam pelaksanaan dan persetujuan yang telah ditandatangani. Di akhir pidatonya Presiden menyatakan bahwasannya Indonesia akan terus berdiri di belakang perjuangan rakyat Palestina dalam menempuh masa depannya.[7]
Masih di tahun yang sama pada saat Presiden Soeharto melakukan kunjungan ke Tunisia pada tanggal 16 November 1993, Yasser Arafat kembali menemui Presiden Soeharto yang pada saat itu menginap di Istana Essada La Marsa, Tunisia. Pada pertemuan ini Presiden Soeharto juga sebagai Ketua GNB menjelaskan mengenai pertemuannya dengan PM Israel dan mendengarkan kelanjutan mengenai perjanjian perdamaian yang disampaikan oleh Yasser Arafat. Pada kesempatan ini Presiden Soeharto juga memberikan bantuan sebesar dua juta dolar AS kepada Yasser Arafat. Pemberian tersebut diterimanya dengan rasa haru oleh Yasser Arafat, ia kemudian mengatakan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas dukungannya dalam berbagai hal. “Kita lebih dari hanya sekedar saudara”, katanya.[8]
Serangkaian pertemuan dan interaksi antara Presiden Soeharto dengan Yasser Arafat menunjukkan bentuk kesinambungan dukungan Indonesia terhadap perjuangan Palestina, sekaligus menegaskan kemerdekaan Palestina di forum internasional. Melihat bagaimana kedekatan antara kedua pemimpin negara tersebut tidaklah mengherankan karena Indonesia dan Palestina memiliki akar historis dan hubungan yang erat di masa lampau.
Sebagai presiden dari negara yang berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia, Presiden Soeharto sangat memahami pentingnya menjaga hubungan baik dengan negara-negara Islam, termasuk Yasser Arafat sebagai wakil dari perjuangan rakyat Palestina. Dengan demikian, pertemuan tersebut semakin memperkuat solidaritas Indonesia terhadap Palestina sebagai pelaksanaan dari prinsip anti-kolonialisme yang sejak awal menjadi landasan kebijakan luar negeri Indonesia.
Penulis: Satria Tamami (Alumni Sejarah dan Peradaban Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Sumber:
[1] Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam berita jilid 7 (1983-1984), (Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008), 613.
[2] Nazaruddin Sjamsuddin, ed., Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983-11 Maret 1988, (Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada, 1992), 190.
[3] Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam berita jilid 13 (1991) (Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008), 397–98.
[4] “Arafat Tanam Pohon Matoa,” Bernas, 2 September 1992, 1.
[5] “Indonesia Tetap Dukung Perjuangan Rakyat Palestina,” Kiblat, No.6, 5-20 Agustus 1984, 9.
[6] “Palestina Butuh Dana Pembangunan,” Harian Ekonomi Neraca, 25 September 1993, 1.
[7] “Pidato jamuan santap malam kenegaraan untuk menghormat Yang Mulia Presiden Negara Palestina dan Nyonya Suha Arafat di Istana Negara”, Arsip Sekretariat Negara: Seri Pidato Presiden Soeharto 1966-1998, No.240.
[8] Presiden RI ke II Jenderal Besar H.M. Soeharto dalam berita jilid 15 (1993) (Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008), 318–19.