Dukungan Orde Lama Terhadap Perjuangan Palestina

 Achmad Soebardjo dan Siradjuddin Abbas mengunjungi Bethlehem bersama para peserta Muktamar Islam yang diadakan di Yerusalem (Repro: Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi)
Potret Presiden Soekarno (AFP Photo)

Pada masa Orde Lama di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno, Indonesia dengan tegas menyuarakan dukungannya terhadap perjuangan Palestina dan mengecam keras penjajahan yang dilakukan Israel. Sikap ini sebagai wujud implementasi dari prinsip anti-kolonialisme yang menjadi landasan politik luar negeri Indonesia, serta semangat solidaritas terhadap bangsa-bangsa yang tertindas. Seperti yang diketahui, Palestina merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang telah berkontribusi besar terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu, dukungan-dukungan yang diberikan Indonesia setelahnya merupakan wujud solidaritas sebagai bangsa yang pernah mengalami pahitnya penjajahan.

Bentuk dukungan awal Indonesia untuk Palestina, disiarkan oleh Ikhwanul Muslimin dengan mengulas berita RRI Yogyakarta pada tanggal 10 Oktober 1947. Pada siaran ini Indonesia menyatakan kecamannya terhadap keputusan komisi internasional PBB yang mengusulkan pembagian wilayah Palestina dengan Israel. Keputusan ini dinilai tidak mementingkan rakyat Palestina sebagai penduduk asli dan tidak menghiraukan keadilan bagi rakyat Palestina. Kemerdekaan dan keadilan bagi rakyat Palestina merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian negara-negara Arab dan juga kaum Muslimin di seluruh dunia.[1] Namun keputusan tersebut akhirnya tetap berhasil mendorong David Ben Gurion mendeklarasikan berdirinya negara Israel di atas wilayah Palestina pada tanggal 14 Mei 1948 setelah berakhirnya mandat Inggris.[2]

Satu tahun berikutnya, tepatnya pada Desember 1949, setelah Belanda melakukan penyerahan kedaulatan Indonesia, Israel mencoba melobi Indonesia dengan mengirimkan sejumlah surat kepada Presiden Soekarno, Menteri Luar Negeri dan kepada Mohammad Hatta. Surat ini dikirim oleh Perdana Menteri Israel, David Ben Gurion dan Chaim Weizmann selaku Presiden Israel yang berisi ucapan selamat atas pengakuan kedaulatan Indonesia. Surat ini dikirim dengan harapan Indonesia akan memberikan pengakuan terhadap Negara Israel.

Tidak lama setelahnya, pada Januari 1950, Moshe Sharet selaku Menteri Luar Negeri Israel mengirimkan telegram kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta yang berisi dukungan Israel terhadap kedaulatan kepada Indonesia. Namun alih-alih mendapatkan balasan berupa pengakuan Negara Israel, Hatta hanya merespon telegram itu dengan ucapan terima kasih tanpa ada keterangan lainnya. Merasa tidak puas dengan respon tersebut, Israel kembali mengirimkan surat mengenai rencana Israel untuk memberikan hibah ke Indonesia, namun Bung Hatta dengan tegas menolak dan memberikan balasan supaya kegiatan tersebut tidak dilakukan dan menundanya sampai batas waktu yang belum ditentukan.[3]

 

Achmad Soebardjo dan Siradjuddin Abbas mengunjungi Bethlehem bersama para peserta Muktamar Islam yang diadakan di Yerusalem (Repro: Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi)

Pada tanggal 30 November 1953, Indonesia diundang oleh Panitia Pembela Palestina yang berpusat di Baghdad untuk menghadiri Muktamar Islam yang akan diadakan di Yerussalem pada 3-10 Desember 1953. Ahmad Soebardjo selaku Penasehat Menteri Luar Negeri sekaligus Duta Besar Keliling dan Siradjuddin Abbas sebagai anggota parlemen dari Partai Islam, diutus untuk mewakili pemerintah meninjau serta melaporkan hasil dari Muktamar.[4] Pada tanggal 5 Desember 1953, para rombongan Muktamar mengunjungi kawasan kamp pelarian di perbatasan Palestina-Israel yang kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak dari mereka terlihat kelaparan karena kekurangan stok makanan, dan menderita penyakit akibat kekurangan pakaian tebal selama musim dingin. Dalam kesempatan ini Indonesia turut menyumbang sekitar 60.000 USD yang dikhususkan untuk Palestine Relief Fund.[5]

Presiden Soekarno berpidato dalam Konferensi Asia Afrika (Antara Foto)

Dukungan Indonesia terhadap Palestina juga ditunjukkan dalam forum internasional KAA, dengan menolak kehadiran Israel dalam forum tersebut. Presiden Soekarno selaku inisiator yang memprakarsai berdirinya Konferensi Asia-Afrika (KAA), secara tegas menolak Israel menjadi bagian di dalamnya. Soekarno menjelaskan bahwa jika Israel bergabung dalam konferensi ini, maka akan menyakiti perasaan bangsa Arab, terutama Palestina yang pada saat itu masih berusaha untuk memperoleh kemerdekaannya.[6]

Penolakan terhadap kehadiran Israel sudah diputuskan melalui Konferensi Bogor yang berlangsung setahun sebelumnya, yakni pada tahun 1954. Dalam Konferensi tersebut Israel menjadi negara yang diputuskan untuk tidak diundang ke Konferensi Asia-Afrika 1955 dikarenakan aneksasi wilayah dan penjajahan terhadap Palestina.[7] Melalui Konferensi Asia-Afrika, Indonesia mengajak seluruh bangsa-bangsa yang ada di Asia dan Afrika untuk membentuk suatu gerakan anti kolonialisme dan mempererat solidaritas antar sesama negara di kawasan Asia-Afrika. Konferensi yang diadakan pada tahun 1955 ini bertujuan untuk bekerja sama dalam menjaga perdamaian dunia dan menyelesaikan persoalan internasional.[8]

Selain melalui Konferensi Asia-Afrika, penolakan terhadap Israel pada masa Orde Lama juga terjadi dalam perhelatan olahraga, yakni saat ajang pertandingan kualifikasi Piala Dunia tahun 1957 dan Asian Games ke-IV di tahun 1962. Pada saat kualifikasi Piala Dunia 1957, Israel tergabung dalam zona Asia-Afrika sehingga membuat Timnas Indonesia menolak untuk bertanding melawan Israel yang mulanya akan dijadwalkan tanding pada 31 Juli 1957 di Tel Aviv dan pada 18 Agustus 1957 di Jakarta. Penolakan bertanding melawan Israel ini sendiri juga didasari oleh pernyataan dari negara-negara Arab yang juga menolak bertanding melawan Israel. Pada akhirnya Indonesia dinyatakan FIFA, tidak lolos kualifikasi karena menolak pertandingan tersebut.[9]

Demikian pula saat perhelatan Asian Games ke-IV tahun 1962, Indonesia menolak kehadiran Israel dengan tidak menerbitkan visa untuk Israel karena tidak memiliki hubungan diplomatik. Hal inilah yang menyebabkan International Olympic Committee (IOC) memberikan sanksi kepada Indonesia, berupa larangan bagi para atlet Indonesia untuk bertanding dalam Olimpiade Tokyo pada tahun 1964. Oleh karena itulah Presiden Soekarno menentang sanksi tersebut dengan memerintahkan Komite Nasional Olimpiade Indonesia untuk mengundurkan diri dan keluar dari keanggotaan Olimpiade pada tanggal 14 Februari 1963 dan kemudian mendirikan pembentukan event olahraga baru yang bernama Games of New Emerging Force atau yang biasa disingkat GANEFO.[10]

Penolakan bertanding ataupun penolakan untuk mengundang Israel dalam perhelatan olahraga ini merupakan salah satu wujud gerakan perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme yang digaungkan dalam KAA sebelumnya. Dukungan terhadap perjuangan Palestina selalu konsisten dijalankan pada masa Orde lama. Terdapat salah satu ungkapan dukungan terhadap perjuangan Palestina yang cukup populer dari Presiden Soekarno yaitu “Selama bangsa Palestina belum memperoleh kemerdekaannya, maka Indonesia akan selalu menentang penjajahan yang dilakukan Israel”.[11] Ungkapan inilah yang kemudian menjadi motivasi sekaligus amanat bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, agar terus mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina dan menentang seluruh bentuk penjajahan di muka bumi ini.

Penulis: Satria Tamami (Alumni Sejarah dan Peradaban Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

 

Referensi:

[1]  M. Zein Hassan, Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), 279.

[2] Hanafi Wibowo, “Mandat Liga Bangsa-Bangsa: Kegagalan Palestina Menjadi Negara Merdeka (1920-1948),” Jurnal Al-Turaz 20, no. 2 (Juli 2014): 307.

[3] Greg Barton dan Colin Rubenstein, “Indonesia and Israel: A Relationship in Waiting,” Jewish Political Studies Review 17, no. 1/2 (2005): 160.

[4] Ahmad Soebardjo Djojoadisurjo, Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi (Jakarta: Gunung Agung, 1978), 511.

[5] Djojoadisurjo, Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi, 517.

[6] M.F. Mukhti, “Sukarno dan Palestina,” Historia.id, 12 Juli 2014,

https://historia.id/politik/articles/sukarno-dan-palestina-Dw5OP/page/2.

[7] Roeslan Abdulghani, The Bandung Connection: The Asia-Africa Conference in Bandung in 1955 (Jakarta: PT Gunung Agung, 1981), 38.

[8] Ali Sostroamidjojo, Tonggak-Tonggak Di Perjalananku (Jakarta: PT. Kinta, 1974), 576.

[9] Beggy Rizkiyansyah, “Solidaritas Indonesia-Palestina: Membela Palestina Di Pentas Olahraga (5),” Jejak Islam untuk Bangsa, 17 Maret 2023, https://jejakislam.net/membela-palestina-di-pentas-olahraga/.

[10] Indhar Wahyu Wira Harjo, “Kontestasi Politik Dalam Kompetisi Olahraga GANEFO,” HISTORIA: Jurnal Pendidik dan Peneliti 6, no. 2 (Oktober 2023): 220.

[11] Bachtiar, Razak, dan Zakaria, “Indonesian progressive Muslims and discourse of the Israeli-Palestinian peace: Soekarno’s, Abdurrahman Wahid’s and Ahmad Syafii Maarif’s thoughts,” 4.

You might also like