Cambridge, NPC – Anggota terkaya dari perguruan tinggi Universitas Cambridge, Trinity College Cambridge, sebagaimana dilansir Middle East Eyes (MEE), pada Minggu (12/05/2024), telah memilih untuk melakukan divestasi dari semua perusahaan senjata, termasuk produsen senjata terkemuka Israel.
Tiga sumber informasi yang dekat dengan ikatan mahasiswa Trinity mengungkapkan dewan perguruan tinggi, yang bertanggung jawab atas keputusan keuangan dan keputusan lainnya yang signifikan, memutuskan untuk menarik investasi Trinity dari perusahaan senjata pada awal Maret.
MEE melaporkan pada bulan Februari bahwa Trinity sebelumnya menginvestasikan 78.089 dolar atau sekitar lebih 1,2 milyar rupiah di Elbit Systems, yang memproduksi 85 persen drone dan peralatan darat yang digunakan oleh tentara Israel.
Drone Israel telah digunakan untuk membunuh sejumlah besar penduduk sipil Palestina di Gaza sejak dimulainya perang pada bulan Oktober.
Trinity College tidak mengkonfirmasi atau menyangkal laporan tentang divestasi dari produsen senjata, hanya menyatakan bahwa “Trinity College terus meninjau investasinya secara teratur.”
Sumber yang berbicara dengan MEE mengatakan perguruan tinggi tersebut memutuskan untuk tidak mengumumkan secara terbuka keputusan divestasi tersebut setelah seorang aktivis merusak lukisan Lord Arthur Balfour tahun 1914 di kampus tersebut pada tanggal 8 Maret, yang menimbulkan kontroversi di media Inggris.
Balfour menulis Deklarasi Balfour yang terkenal pada tahun 1917, yang menjadikan pembentukan negara Yahudi dan memfasilitasi imigrasi Yahudi ke Palestina sebagai kebijakan resmi Inggris.
Universitas dan dana pensiun yang memutuskan hubungan dengan perusahaan pendukung militer Israel dan pemukiman ilegal di Tepi Barat seringkali tidak mengakui divestasi tersebut atau mengklaim alasan yang tidak terkait dengan hal tersebut untuk menghindari kritik publik dari kelompok lobi pro-Israel.
Trinity College memiliki jutaan dolar yang diinvestasikan di perusahaan lain yang mendukung dan mengambil keuntungan dari perang Israel di Gaza, akan tetapi perguruan tinggi tersebut belum berkomitmen untuk melakukan divestasi.
MEE mencatat bahwa Trinity memiliki investasi senilai sekitar 3,2 juta dolar atau sekitar lebih 51 milyar rupiah di Caterpillar, sebuah perusahaan alat berat berbasis di Amerika Serikat yang menyediakan buldoser untuk tentara Israel.
Buldoser Caterpillar telah lama digunakan untuk menghancurkan rumah-rumah penduduk sipil Palestina di Tepi Barat yang diduduki. Trinity juga mempunyai investasi di General Electric, Toyota Corporation, Rolls-Royce, Barclays Bank, dan L3Harris Industries, yang juga terlibat dalam perang Israel.
Pengunjuk rasa pro-Palestina terus menuntut agar semua perguruan tinggi anggota Universitas Cambridge melakukan divestasi dari perusahaan-perusahaan yang mendukung perang Israel di Jalur Gaza, yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan secara luas dipandang sebagai genosida.
Sekitar seratus mahasiswa berkumpul di halaman luar King’s College Cambridge pada hari Senin, di mana mereka mendirikan perkemahan protes solidaritas Gaza seperti yang terjadi di seratusan universitas di seluruh dunia.
Penyelenggara perkemahan mengatakan kepada MEE bahwa mereka menuntut Universitas Cambridge untuk mengungkapkan semua hubungannya dengan perusahaan dan institusi yang “terlibat dalam pembersihan etnis yang sedang berlangsung di Palestina”.
Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza. Israel terus menerus melakukan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Selasa (14/05), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 35.173 orang dan 79.061 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan.
Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,7 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: The Cradle, Palinfo)