Meskipun Lebih dari 35.000 Penduduk Gaza Kehilangan Nyawa, Gedung Putih Menganggap Israel Tidak Melakukan Genosida

WashingtonDC, NPC – Penasihat Keamanan Nasional AS, Jake Sullivan, menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak menganggap Israel melakukan genosida di Jalur Gaza.

Dilansir The New York Times, Senin (13/04/2024), bahwa pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu masih belum memberikan cetak biru kepada Gedung Putih terkait rencana merelokasi 1 juta pengungsi Gaza dengan aman keluar dari Rafah sebelum invasi apa pun ke sana.

Sullivan mengatakan bahwa Israel belum memiliki rencana  politik yang jelas pasca operasi militer untuk pemerintahan masa depan wilayah Palestina.

Sullivan menjelaskan tujuan pemerintah AS dalam melakukan intervensi, termasuk mencapai gencatan senjata dan pembebasan sandera namun, Sullivan menunjukkan rasa frustrasi Presiden Biden dalam berurusan dengan Netanyahu setelah serangkaian percakapan sengit antara kedua pemimpin tersebut.

Amerika Serikat masih mengirimkan senjata pertahanan dan sejumlah senjata ofensif yang tidak menimbulkan risiko korban sipil dalam jumlah besar, satu-satunya senjata yang ditahan Biden dari Israel adalah bom seberat 2.000 pon, karena khawatir amunisi tersebut akan digunakan untuk meratakan seluruh blok kota dalam upaya mengusir para pemimpin Hamas.

“Kami masih percaya bahwa melancarkan operasi militer besar-besaran ke jantung kota Rafah adalah suatu kesalahan yang akan membahayakan banyak warga sipil tanpa keuntungan strategis yang jelas.”

“Presiden Biden jelas tidak akan menyediakan senjata ofensif tertentu untuk operasi semacam itu, jika hal itu terjadi,” ujar Sullivan.

Sullivan menolak membahas laporan terakhir yang menyatakan para pejabat intelijen Amerika mencurigai Yahya Sinwar, pejabat paling senior Hamas di Gaza, tidak lagi berada di Rafah. Namun, dia mengakui bahwa jika Sinwar telah memindahkan basis operasinya, serangan terhadap kota di selatan itu akan semakin tidak masuk akal.

Dia juga menyatakan kekecewaannya terhadap Israel yang belum mampu mengembangkan rencana bagaimana Gaza akan dikelola setelah perang usai.

(T.RS/S:TheNewYorkTimes)

 

 

You might also like