Euro-Med Monitor: Komunitas Internasional Harus Segera Bertindak untuk Hentikan Pembantaian di Rumah Sakit Al-Shifa Gaza

Gaza, NPC – Lembaga pemantau HAM internasional, Euro-Med Monitor, pada Rabu (20/03/2024), menyatakan bahwa pembantaian Israel yang sedang terjadi di Rumah Sakit Al-Shifa Kota Gaza dan kawasan sekitarnya telah membunuh sedikitnya 100 penduduk Palestina, di mana banyak di antaranya menjadi korban eksekusi di luar hukum setelah ditangkap. Euro-Med Monitor menuntut komunitas internasional untuk segera turun tangan untuk mengakhiri kekejaman Israel.

Tahanan dan saksi mata yang baru dibebaskan mengatakan kepada Euro-Med Monitor bahwa tentara Israel melakukan pembunuhan di luar hukum dan eksekusi terhadap penduduk sipil Palestina di Rumah Sakit Al-Shifa selama tiga hari berturut-turut.

Korban selamat yang meminta untuk disebut sebagai “M.K.” mengkonfirmasi bahwa tentara Israel berulang kali membawa orang ke kamar mayat rumah sakit, kemudian terdengar suara tembakan dan tentara tersebut pergi tanpa orang-orang tersebut.

“Para tentara menahan dan memborgol saya di halaman rumah sakit. Saya dibiarkan telanjang selama lebih dari sembilan jam. Sekitar empat kali selama waktu tersebut, saya melihat tentara membawa sekelompok orang-orang yang ditahan, antara tiga orang dan tidak sampai lebih dari 10 orang, ke dalam gedung rumah sakit, khususnya gedung kamar mayat tempat jenazah sebelumnya disimpan. Terdengar suara tembakan, dan tentara kemudian meninggalkan daerah itu untuk membawa kelompok lain ke sana,” kisah M.K.

Saksi lain, yang memilih untuk tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, yang baru-baru ini dapat meninggalkan Rumah Sakit Al-Shifa, mengonfirmasi kepada tim Euro-Med Monitor bahwa ia menyaksikan tentara Israel membawa delapan atau 10 penduduk sipil Palestina sekaligus menuju kamar mayat. Ia kemudian mendengar suara tembakan keras dan kemudian melihat pasukan Israel pergi tanpa penduduk sipil yang dibawa sebelumnya.

Korban yang dibawa tentara Israel tersebut kemungkinan besar telah menjadi sasaran pembunuhan dan eksekusi di luar hukum, karena semua informasi yang diperoleh tim lapangan Euro-Med Monitor menunjukkan bahwa sejak Rumah Sakit Al-Shifa dipulihkan pada Minggu/Senin malam, sekitar 100 penduduk Palestina dibunuh oleh tembakan Israel di dalam dan di luar Rumah Sakit tersebut.

Tentara Israel telah mengakui bahwa mereka telah membunuh 90 orang selama operasi militer yang sedang berlangsung di Rumah Sakit Al-Shifa. Sebuah komite internasional harus dibentuk untuk menyelidiki kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan oleh pasukan Israel sebagai bagian dari kejahatan genosida, yang mencakup pembunuhan terencana dan eksekusi terhadap penduduk sipil yang berada di luar proses hukum dan peradilan.

Sementara itu, tentara Israel masih secara sewenang-wenang menahan ratusan penduduk sipil selama tiga hari berturut-turut, termasuk petugas medis dan pasien yang tidak bisa bergerak, di tengah lingkungan intimidasi dan tembakan keras Israel.

Sekitar 320 orang telah ditahan tentara Israel, termasuk jurnalis, petugas medis, dan pengungsi, banyak di antara mereka telah disiksa dan dipaksa untuk tetap telanjang atau mengenakan pakaian putih tipis. Lebih dari separuh orang-orang ini telah diangkut dengan truk dan kendaraan militer ke tempat penahanan Israel.

Peristiwa yang sedang terjadi di Rumah Sakit Al-Shifa dan risiko yang dihadapi penduduk sipil di tempat tersebut, termasuk pasien, petugas kesehatan, dan pengungsi yang mencari perlindungan (yang dilindungi oleh hukum kemanusiaan internasional) sangat memprihatinkan. Euro-Med Monitor menyatakan bahwa rumah sakit dan fasilitas medis harus dilindungi, komunitas internasional bertanggung jawab untuk melindungi semua penduduk Jalur Gaza dan memaksa Israel untuk mengakhiri genosida terhadap penduduk Palestina di Jalur Gaza.

Sementara itu, sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.

Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Selasa (19/03), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi 31.819 orang dan 73.934  lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan.

Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.

(T.FJ/S: Euro-Med Monitor)

 

You might also like