London, NPC – Duta Besar Palestina untuk London, Husam Zomlot, pada Jumat (23/02/2024), mengatakan sistem internasional tidak berfungsi dan bermanfaat, di saat kondisi penduduk Palestina di Jalur Gaza sangat mengerikan dan sedang menghadapi genosida.
Husam Zomlot menekankan bahwa Palestina melihat kegagalan dan kekurangan sistem dunia pasca Perang Dunia II. Ia menyatakan bahwa apa yang terjadi saat ini di Palestina dianggap sebagai ujian terhadap landasan moral tatanan dunia.
“Situasi di Palestina sangat buruk. Kami menghadapi genosida terhadap rakyat kami (Palestina),” kata Husam Zomlot.
Husam Zomlot menjelaskan bahwa Israel sedang melakukan kejahatan yang sama yang pernah dilakukannya 76 tahun lalu, kejahatan Nakba tahun 1948.
“Karena alasan ini, Israel membunuh puluhan ribu orang, membuat 1,7 juta orang mengungsi, menghancurkan infrastruktur Jalur Gaza, dan membuat rakyat kelaparan. Penyakit menular semakin menyebar setiap hari,” kata Husam Zomlot.
Husam Zomlot menekankan bahwa semua kejahatan perang berdasarkan hukum internasional telah dilakukan Israel. Israel terus melakukan genosida meskipun keputusan Mahkamah Internasional telah dikeluarkan.
“Sistem global tidak berfungsi dan tidak ada manfaatnya. Kita tidak dapat lagi berbicara tentang sistem internasional, karena sistem ini adalah sebuah entitas yang hanya dapat digunakan dan dieksploitasi oleh negara-negara paling kuat di dunia dalam kerangka perintah mereka,” kata Husam Zomlot.
Sementera itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Jumat (23/02), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober lalu telah meningkat menjadi 29.514 orang dan 69.616 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan.
Berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,9 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.
(T.FJ/S: Aljazeera)