Jalur Gaza, NPC – Jika kita menyambut hujan dengan suka cita, namun berbeda dengan pengungsi Palestina di Jalur Gaza, mereka menyambut hujan dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi mereka terancam karena tak memiliki pelindung di musim dingin dan hujan, disisi yang lain mereka membutuhkan air untuk minum, karena Israel memutuskan pasokan air ke Gaza.
Berdasarkan laporan Bulan Sabit Merah, sebanyak 1.5 juta jiwa pengungsi Palestina di Gaza hidup dalam kondisi mengenaskan, mereka terpaksa meninggalkan rumah akibat perang sejak 7 Oktober lalu, sebagian besar bahkan menjadi tunawisma dan hidup di jalan.
Ibrahim Al-Za’im, salah satu pengungsi mengaku bahwa pasukan Israel (IDF) memaksanya serta ribuan warga Palestina lain meninggalkan kediaman mereka di Gaza utara dengan alasan keamanan warga sipil.
Setelah menempuh perjalanan mengerikan dan hidup menderita di tenda pengungsian, mereka akhirnya menyadari bahwa alasan Israel tersebut dusta. Hal ini karena sebagian besar pengungsi menghadapi pembantaian di selatan Gaza atau dibunuh dalam perjalanan.
“Kami meninggalkan rumah dan pekerjaan kami. Kami terpaksa mengungsi dengan pakaian kami seadanya karena Israel memberikan kami sedikit waktu. Kami tinggal di sekolah-sekolah UNRWA dalam kondisi mengenaskan. Para pria tidur di lorong atau halaman sekolah, sementara wanita dan anak-anak tidur di dalam ruang sekolah, ‘’ terang Al-Zaim seperti dilansir surat kabar resmi Palestina Wafanews, (22/11/2023).
Dia mengaku bahwa UNRWA telah berusaha mengupayakan kebutuhan logistik. Meskipun tidak cukup, namun hal ini lebih baik dari kondisi pengungsi lain yang bahkan terpaksa menginap di pinggir jalan.
Pengungsi lain bernama Hasan Ghaits dari kamp pengungsi Syathi’ mengatakan: “Kami meninggalkan rumah pasca serangan bom Israel bertubi-tubi yang membunuh kerabat dan tetangga kami. Kami pernah tinggal di sekolah UNRWA, namun Israel menargetkan wilayah sekitar sekolah dengan serangan udara, akibatnya kami terpaksa mengungsi kedua kalinya ke selatan Gaza tepatnya di wilayah Al-Qarara, Khan Younis.
Ghaits mengaku bahwa kebutuhan hidupnya tidak tercukupi, hal ini disebabkan minimnya bantuan yang masuk ke Gaza dan jumlah pengungsi yang semakin besar setiap harinya tanpa kontrol dari pihak berwenang.
Sementara itu, panitia pelaksana penampungan pengungsi Al-Qarara, Raed Abu Hadaf mengatakan bahwa UNRWA telah berusaha memenuhi kebutuhan pengungsi baik berupa makanan, pakaian atau selimut, namun jumlah pengungsi yang bertambah setiap hari membuat mereka kewalahan. UNRWA kesulitan mendata jumlah pengungsi yang terus bertambah setiap hari.
Menurutnya tantangan terbesar mereka adalah kebutuhan air bersih dan panel surya. Hal ini karena pompa air satu-satunya di wilayah Al-Qarara bekerja dengan tenaga surya.
Wilayah selatan menjadi destinasi pengungsi Palestina yang datang dari lokasi lain di Gaza. Berdasarkan instruksi Israel mereka diperintahkan untuk mengungsi ke selatan karena alasan keamanan.
Meskipun demikian Israel dilaporkan akan melebarkan agresi dan serangan mereka ke wilayah selatan.
Agresi Israel sejak 7 Oktober 2023 sampai saat ini telah menambah korban dari pihak Palestina menjadi 14.100 jiwa, 5840 adalah anak-anak. Sementara korban luka-luka mencapai 33.000 jiwa dan 6800 warga dilaporkan hilang, 4500 diantaranya adalah wanita dan anak-anak.
(T.RS/S:Wafanews)