Jakarta, NPC – 72 tahun sejak peristiwa Nakba atau “Catastrophe” dalam sejarah Palestina, di mana terjedi pembersihan etnis di tanah air Palestina oleh milisi Zionis untuk menciptakan negara Israel.
Bagi warga Palestina, berdirinya Israel pada tahun 1948 membuka babak penderitaan kolektif, perang, dan pengungsian. Dibangun sebagai negara untuk orang Yahudi, Israel telah mendiskriminasi orang Palestina dalam banyak aspek kehidupan mereka.
Indonesian Council World Affair (ICWA) beserta Empu Sendok Arts Station (ESAS) menggelar diskusi online via aplikasi Zoom menyoal “The Challenger of The Palestine Solutions,” pada Minggu (15/11/2020) siang.
Dalam penjadwalan berlaku yang memberi sambutan dalam diskusi tersebut di antaranya Duta Besar Negara Palestina H.E. Duta Besar Zuhair al-Shun, Pendiri ESASA, Dewan Direktur Bank Exim Indonesia Ibu Felia Salim, dan Wakil Ketua The Governing ICWA H.E. Duta Besar Prof. Dr. Makarim Wibisono.
Adapun yang menjadi moderator dalam diskusi ini adalah Wakil Ketua The Governing ICWA sekaligus Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab H.E. Duta Besar Ibrahim Yusuf.
Didapuk sebagai pemateri kunci dalam diskusi ini adalah Attourney General (1999-2001) H.E. Marzuki Darusman, Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE., dan Direktur Jenderal Protokol dan Konsulat Kementerian Luar Negeri RI dan Mantan Duta Besar RI untuk Yordania H.E. Duta Besar Andy Rachmianto.
Duta Besar Negara Palestina H.E. Duta Besar Zuhair al-Shun, menyinggung perihal kebebasan, martabat, dan masa depan Palestina yang menjadi entry point atau titik masuk perjuangan bangsa Palestina.
Orang Palestina termasuk orang yang paling tertindas di dunia. Mereka hidup di bawah pendudukan fasis brutal yang ilegal. Setiap hari orang Palestina harus menghadapi penindas. Israel memiliki tank, buldoser, dan senjata. Orang Palestina hanya memiliki batu dan tubuh mereka. Boleh jadi Israel dapat mencuri tanah dan pohon zaitun warga Palestina, serta menghalangi dan memblokade mereka, tetapi Israel tidak dapat mengambil kebebasan dan martabat warga Palestina kecuali jika mereka menyerahkannya. Kenyataannya hingga saat ini warga Palestina tidak pantang menyerah untuk berjuang mendapatkan kembali kemerdekaan mereka.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Protokol dan Konsulat Kementerian Luar Negeri RI dan Mantan Duta Besar RI untuk Yordania H.E. Duta Besar Andy Rachmianto, berbicara dan menegaskan kembali perihal dukungan Indonesia untuk Palestina di saat Israel mengungkapkan rencana terbarunya untuk mencaplok sebagian wilayah Palestina di Tepi Barat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pihaknya akan mencaplok Tepi Barat yang diduduki pada bulan Juli meskipun ada kecaman dari komunitas global dan bahkan sekutunya sendiri.
Sekitar setengah juta orang Yahudi telah menetap di Tepi Barat sejak tahun 1967, tetapi daerah tersebut tidak pernah secara resmi diakui sebagai wilayah Israel sejak komunitas internasional menganggap pemukiman tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
Menurut H.E. Duta Besar Andy Rachmianto, tantangan terbesar bagi Palestina saat ini datang dari perluasan pemukiman oleh Israel yang terus berkelanjutan dan pembangunan pagar pemisah.
Lebih dari dua juta orang Palestina juga masih tinggal di wilayah Tepi Barat.
Pencaplokan Tepi Barat akan membatalkan solusi dua negara yang populer dan akan mengarah pada penghancuran Masjid Al-Aqsa, sebuah situs suci bagi Muslim Palestina.
Langkah yang disebut Netanyahu sebagai kesempatan bersejarah itu disinyalir direncanakan bersama sekutu terbesar Israel, Amerika Serikat. Hal ini terus menunjukkan tanda-tanda dukungan Amerika terhadap ekspansi Israel.
Diketahui Indonesia hingga saat ini terus menyerukan kepada komunitas internasional untuk bekerja sama dalam menegakkan konsensus internasional tentang Palestina, untuk mencapai perdamaian abadi di mana negara demokratis Palestina dan Israel dapat hidup berdampingan secara damai. Indonesia juga menilai bahwa aneksasi tidak hanya mengancam perdamaian dan stabilitas di kawasan, tetapi juga merusak semua upaya untuk mencapai solusi politik yang langgeng atas masalah Palestina.
Indonesian Council World Affair (ICWA) adalah sebuah lembaga yang dibentuk oleh para mantan Duta Besar Indonesia diantaranya Ali Alatas dan mantan Menteri Pariwisata Joop Ave di tahun 1997.
____
Info program bantuan Kemanusiaan, Kantor pusat NPC Jakarta. Call Center: 021-8778 8187. Hp/Wa: 0811 99 444 96(NPC).
Aktivitas Sosial Kemanusiaan: www.blog.npc.id/