Tel Aviv, SPNA – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Israel, Izhar Shay, memperingatkan bahwa rencana Israel untuk mencaplok sebagian wilayah Palestina dapat menjadi ancaman bagi keamanan nasional.
Dikutip dari media lokal Israel, Yedioth Ahronoth, Izhar mengatakan, “Mengambil langkah sebelah pihak saat ini dapat saja mengancam keamanan Israel.”
Seperti diketahui bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu berancana untuk meperluas wilayah aneksasinya. Perluasan wilayah jajahan tersebut meliputi Tepi Barat dan Lembah Jordan,
Meski demikian, tidak semua pihak Israel mendukung rencana pemerintah tersebut. Selain para tokoh, sejumlah unjuk rasa juga berlangsung di ibu kota Israel, Tel Aviv, meminta Netanyahu tidak melakukan rencananya itu.
Dari negara Arab, Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, Kamis (18/06), telah menyampaikan pesan yang dikirim lansung oleh Raja Yordania, Abdullah II. Dalam pesan tersebut Safadi mengatakan bahwa keputusan Israel dapat membatalkan rencana perdamaian yang ada.
“Kami akan terus mendukung saudara-saudara kami (Palestina) dalam memperjuangkan hak-hak mereka.” Ucap Safadi dalam sebuah pertemuan persnya.
Untuk menyelesaikan pertikaian Israel-Palestina negara Arab menawarkan Solusi Dua Negara. Sebuah tawaran perdamaian yang menjamin kemerdekaan bagi negara Palestina.
Tapi Israel enggan terlibat dalam persyaratan tersebut. Mereka lebih cocok dengan bentuk perdamaian yang ditawarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Salah satu poin pentingnya adalah menjadikan Yerusalem sepenuhnya menjadi milik Israel, termasuk Masjid Al-Aqsa.
Dilansir dari Palinfo, berikut delapan fakta penting dari rencana aneksasi Israel terhadap Tepi Barat.:
(T.HN/S: Ramallah)