SPNA, NPC – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Jumat (02/10/2026), memperingatkan kelangkaan obat-obatan dan peralatan medis di Jalur Gaza yang terus berlanjut. WHO menegaskan, tidak satu pun rumah sakit di wilayah tersebut beroperasi secara penuh, meski gencatan senjata masih berlangsung dan bantuan kemanusiaan terus mengalir.
Perwakilan WHO untuk wilayah Palestina, Rinehold van de Weerdt, mengatakan pengiriman pasokan medis yang ditujukan ke Gaza rata-rata harus menunggu 74 hari untuk mendapatkan persetujuan dari pihak Israel. Menurut dia, keterlambatan tersebut semakin memperburuk layanan kesehatan dan membahayakan nyawa pasien.
Ia menambahkan, tingkat persetujuan untuk obat-obatan mencapai hampir 87 persen. Namun, peralatan medis—termasuk perangkat radiologi, alat sterilisasi, serta suku cadang mesin pemindai tomografi komputer (CT scan)—berulang kali ditolak, dan dalam banyak kasus tanpa disertai penjelasan.
Lebih dari 40 persen perangkat diagnostik penting juga masih tertahan di perlintasan perbatasan selama enam bulan terakhir.
WHO menyerukan agar obat-obatan dan peralatan kesehatan dapat masuk secara teratur, dalam jumlah yang memadai, dan “tanpa hambatan” melalui sejumlah perlintasan. Organisasi itu juga meminta prosedur persetujuan disederhanakan.
Menurut WHO, mengukur bantuan hanya berdasarkan jumlah truk atau tonase tidak cukup untuk menggambarkan sejauh mana kebutuhan medis yang paling mendesak benar-benar sampai kepada wilayah dan penduduk yang paling membutuhkan.
Sebelumnya, WHO melaporkan bahwa hanya 19 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih beroperasi secara parsial. Pada saat yang sama, persediaan obat-obatan esensial, perangkat diagnostik, peralatan medis, dan bahan bakar berada dalam kondisi sangat kritis.
Korban Jiwa Terus Bertambah di Tengah Gencatan Senjata
Meskipun gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025, korban jiwa dan luka di Gaza terus bertambah akibat serangan yang dilakukan Israel. Menurut laporan terbaru Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), hingga 23 September 2026 Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 1.402 penduduk Palestina meninggal dunia dan 4.881 lainnya terluka sejak pengumuman gencatan senjata.
Angka dari sumber Palestina yang lebih mutakhir menunjukkan jumlah tersebut kembali meningkat. WAFA, mengutip sumber medis Palestina, melaporkan pada 29 September 2026 bahwa korban jiwa akibat serangan Israel yang terus dilakukan sejak gencatan senjata telah mencapai 1.417 orang, sementara 4.964 orang terluka. Sebanyak 834 jenazah juga telah ditemukan dari bawah reruntuhan dalam periode tersebut. Sumber yang sama menyebut masih terdapat korban yang terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan yang belum dapat dijangkau tim penyelamat.
Kerusakan Materi
Kerusakan fisik Gaza juga berada pada skala yang sangat besar. Rapid Damage and Needs Assessment (RDNA) yang disusun bersama oleh Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa memperkirakan bahwa hingga 9 Oktober 2025, ketika penilaian kerusakan tersebut dihentikan, kejahatan genosida Israel telah menyebabkan sekitar 35,2 miliar dolar atau sekitar 630 triliun rupiah kerusakan langsung terhadap aset fisik Gaza dan 22,7 miliar dolar atau sekitar 406,3 triliun rupiah kerugian ekonomi. Jika digabungkan, dampaknya mencapai sekitar 57,9 miliar dolar atau sekitar 1.036,3 triliun rupiah. Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi diperkirakan mencapai 71,4 miliar dolar atau sekitar 1.277,9 triliun rupiah.
Sektor perumahan mengalami kerusakan terbesar, dengan nilai sekitar 18 miliar dolar atau sekitar 322,2 triliun rupiah, disusul perdagangan dan industri sekitar 6,35 miliar dolar atau setara 113,7 triliun rupiah, transportasi 3,2 miliar dolar atau sekitar 57,3 triliun rupiah, serta air dan sanitasi 1,7 miliar dolar atau 30,4 triliun rupiah. Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa juga memperkirakan biaya penanganan dan pembersihan lebih dari 68 juta ton puing di Gaza mencapai sedikitnya 1,7 miliar dolar atau sekitar 30,4 triliun rupiah.
Kondisi tempat tinggal warga juga masih memprihatinkan. OCHA menyebut sekitar 94 persen penduduk Gaza masih membutuhkan bantuan tempat tinggal dan kebutuhan rumah tangga dasar. Sekitar 65 persen rumah tangga masih bertahan di tenda atau tempat penampungan darurat yang hanya memberikan sedikit perlindungan dari cuaca.
Gencatan senjata belum mengakhiri dampak kemanusiaan dan material perang di Gaza, karena Israel masih terus melakukan serangan. Selain korban jiwa yang terus bertambah, jutaan warga masih menghadapi kehilangan tempat tinggal, kerusakan infrastruktur, keterbatasan layanan kesehatan, serta kebutuhan rekonstruksi yang nilainya mencapai puluhan miliar dolar.
(T.FJ/S: RT Arabic, UN, OCHA, WAFA, World Bank)