Gaza, NPC – Para pejabat PBB yang berbicara dengan New York Times (NYT), pada Kamis (02/01/2025), mengatakan bahwa badan utama PBB yang menyediakan bantuan kemanusiaan bagi Palestina (UNRWA) sedang “mempersiapkan” untuk menghentikan operasinya di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki.
“Ini akan berdampak besar pada situasi yang sudah sangat bencana. Jika itu memang tujuan Israel, untuk menghilangkan kemampuan kami untuk menyelamatkan nyawa, kita harus mempertanyakan apa yang ada dalam pikiran mereka dan apa tujuan akhirnya?” kata Koordinator PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Penduduk, Jamie McGoldrick, dalam wawancara dengan NYT pada 2 Januari.
UNRWA adalah Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina yang menyedikan kebutuhan pokok dan layanan esensial yang krusial, yang sangat diandalkan oleh ribuan orang Palestina untuk bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Sejak dimulainya genosida Israel di Gaza, UNRWA berada di garis depan dalam memberikan bantuan kepada pengungsi Palestina, menyediakan makanan, air, dan obat-obatan, serta mengawasi distribusi bantuan dan mengelola tempat penampungan.
UNRWA juga telah memberikan bahan bakar untuk rumah sakit yang masih beroperasi dan bekerja untuk membersihkan sampah yang menumpuk, yang sangat penting di tengah mewabahnya penyakit seperti kolera.
“Dunia telah meninggalkan kami. Kami hanya memiliki bantuan dari UNRWA untuk bertahan hidup,” kata Sami Abu Darweesh kepada NYT.
Israel telah menuduh UNRWA, dengan klaim bahwa karyawan organisasi ini terlibat dalam Operasi Banjir Al-Aqsa pada 7 Oktober. Sebuah penyelidikan PBB menemukan sembilan karyawan yang terlibat aktif dalam operasi yang dipimpin Hamas tersebut dan mereka kemudian dipecat. Tuduhan lainnya terhadap UNRWA telah ditolak dan dikecam oleh PBB.
Juru bicara UNRWA, Juliette Touma, sebelumnya mengungkapkan bahwa “beberapa staf kami menyampaikan kepada tim UNRWA bahwa mereka dipaksa membuat pengakuan di bawah penyiksaan dan perlakuan buruk”.
Pada Oktober 2024, Knesset mengesahkan dua undang-undang yang melarang UNRWA beroperasi di Israel, yang akan berlaku pada Januari. Meskipun Israel belum memberikan pernyataan langsung apakah undang-undang tersebut mencakup operasi UNRWA di Gaza dan Tepi Barat, undang-undang ini akan memaksa PBB untuk menutup operasinya di kedua wilayah tersebut.
Menurut undang-undang ini, pejabat Israel dilarang berinteraksi dengan UNRWA dan karena distribusi bantuan memerlukan koordinasi dengan tentara Israel, operasional UNRWA akan menjadi tidak mungkin dilanjutkan.
Larangan Israel terhadap Al Jazeera di Israel dan penutupan stasiun berita tersebut di Tepi Barat juga merupakan dampak dari apa yang disebut Israel sebagai keterlibatan dalam peristiwa 7 Oktober. Sementara genosida di Gaza terus berlanjut, serangan oleh tentara Israel semakin sering, dengan yang terbaru pada 2 Januari.
Selama beberapa dekade, Palestina sangat bergantung pada organisasi kemanusiaan internasional dan kelompok non-pemerintah. UNRWA mendukung dan membantu pengungsi Palestina di Gaza, Tepi Barat, Yordania, Lebanon, dan Suriah. UNRWA melakukan berbagai tugas dan fungsi, termasuk mengelola sekolah, rumah sakit dan klinik, pengumpulan sampah, bank makanan, dan pusat pelatihan kerja.
Sebelum Oktober 2023, tidak ada organisasi kemanusiaan lain yang memberikan tingkat bantuan yang sama kepada Palestina. Penutupan operasi UNRWA di Gaza akan memutuskan akses Palestina terhadap bantuan penting yang tak tergantikan.
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat dan sejumlah kawasan di Lebanon. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
(T.FJ/S: The Cradle)