Yerusalem, NPC – Sekelompok pemukim bersenjata Israel, pada Minggu malam (03/11/2024), melancarkan serangkaian serangan terhadap properti-properti Palestina di beberapa wilayah pendudukan Palestina di Tepi Barat. Mereka membakar rumah, kendaraan, dan pohon zaitun, meninggalkan jejak kehancuran yang meluas dan brutal.
Lebih dari 20 kendaraan dihancurkan di kota al-Bireh, yang terletak di bagian tengah Tepi Barat. Video yang beredar menunjukkan penduduk Palestina berusaha memadamkan api yang membakar bangunan dan mobil, sementara jalan-jalan dibiarkan hangus keesokan harinya. Banyak yang menggambarkan serangan ini sebagai “pogrom”, sebuah istilah yang merujuk pada kekerasan massal yang terorganisir.
Berdasarkan laporan dari media lokal Palestina, Wafa, pemukim tersebut menembaki pekerja penyelamat yang berusaha memadamkan api. Setelah itu, mereka membakar sebuah tempat parkir dan menuliskan grafiti ofensif di dinding di kota Deir Dibwan, timur Ramallah, sebelum melarikan diri.
Mohammed Amr, seorang penduduk lokal, menceritakan bahwa pada pukul 3.15 pagi, ia terbangun karena suara-suara aneh di dekat tempat tinggalnya. Saat melihat keluar jendela, ia melihat sekelompok orang menuangkan bahan yang mudah terbakar dan membakar kendaraan.
“Pemukim (Israel) tersebut menyusup dari pemukiman Beit El dan masuk melalui pos militer yang memisahkan Beit El dari kota al-Bireh. Mereka kemudian berjalan melalui tanah pertanian untuk mencapai bangunan di sekitarnya,” katanya.
Amr menambahkan bahwa pemukim itu mencoba menyerbu sebuah rumah, akan tetapi penduduk Palestina berbondong-bondong untuk mencegah mereka, sehingga mereka terpaksa mundur ke Beit El. “Keadaan kami seperti kota-kota Palestina lainnya yang diserang teror pemukim,” ujarnya.
Walikota Al-Bireh: Serangan Ini Menjadi Ancaman Besar
Walikota Al-Bireh, Rubin Al-Khatib, menggambarkan serangan ini sebagai bahaya yang sangat serius. Ia menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya sebanyak ini kendaraan dibakar dalam satu malam.
“Kedatangan pemukim ke gedung-gedung tempat tinggal dan membakar kawasan sekitarnya adalah indikator berbahaya, yang menunjukkan kemungkinan mereka akan mencapai pusat Al-Bireh atau Ramallah dan melancarkan serangan yang lebih besar,” ujar al-Khatib.
Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam serangan ini. Dalam sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter), kementerian menyalahkan “perlindungan dan kekebalan yang diberikan tokoh politik Israel, serta gagalnya komunitas internasional untuk menghentikan genosida” di Gaza, yang menurut mereka berkontribusi pada serangan ini.
Serangan Pemukim Lanjutkan Hingga Pagi Hari
Serangan pemukim terus berlanjut hingga pagi hari pada Senin, dan serangan serupa dilaporkan terjadi di seluruh Tepi Barat. Sebuah video yang beredar menunjukkan bentrokan antara pemukim dan warga Palestina di kota Burqa, sebelah barat laut Nablus. Seorang pemuda dalam video tersebut menjelaskan bagaimana pemukim Israel membakar lahan Palestina, pohon zaitun, dan dua rumah. Ia juga mengatakan ada seorang penduduk Palestina yang diculik oleh para pemukim. Meskipun begitu, klaim tersebut belum dapat dikonfirmasi oleh Middle East Eye.
Mahmoud Motan, penduduk Palestina dari daerah Burqa, menceritakan bahwa serangan besar-besaran oleh pemukim ini dilakukan dari tiga arah. “Mereka membakar puluhan pohon zaitun, yang berusia ratusan tahun, lebih tua dari Israel itu sendiri,” katanya.
Beberapa warga Palestina yang mencoba melawan serangan tersebut dipukuli oleh pemukim dan terluka akibat lemparan batu.
Tentara Israel Terlibat dalam Melindungi Serangan Pemukim
Selain itu, pemukim bersenjata juga menghalangi petugas pemadam kebakaran untuk mengakses tanah pertanian yang terbakar, menyebabkan api semakin meluas. Tak lama setelah itu, tentara Israel menyerbu desa Burqa dan menangkap dua pemuda Palestina dengan tuduhan menghadapi serangan pemukim.
Di Qusra, selatan Nablus, pemukim menginvasi desa dengan perlindungan tentara Israel, memaksa penduduk Palestina untuk meninggalkan rumah mereka dan melarang petani memetik zaitun. Musim panen zaitun di Tepi Barat telah menjadi sasaran serangan berulang yang dilakukan pemukim dan pasukan penjajah Israel. Beberapa wilayah di Hebron juga menyaksikan serangan terhadap pemetik zaitun, dengan satu kasus perampokan mobil yang dilaporkan di Yatta.
Beberapa jam setelah serangan di al-Bireh, tentara Israel menyerbu daerah tersebut dan menggeledah beberapa rumah, termasuk rumah Amr, serta menyita rekaman pengawasan.
“Tentara mencoba menunjukkan bahwa mereka akan menyelidiki, tetapi seperti halnya serangan-serangan terhadap Palestina lainnya, tidak ada yang terjadi. Pemukim tidak akan memasuki wilayah Palestina tanpa perlindungan dari tentara Israel,” ujar Amr.
Genosida Berlanjut
Sejak tanggal 7 Oktober 2023 hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel terus melanjutkan genosida penduduk Palestina di Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Kamis (31/10), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi sekitar 43.204 orang dan 101.641 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Lebih 10.000 orang dinyatakan hilang, di tengah kerusakan besar-besaran pada bidang kesehatan dan infrastruktur, serta krisis kelaparan yang merenggut nyawa puluhan anak-anak.
Sementara itu, kekejaman Israel juga meningkat di Tepi Barat termasuk Yerusalem timur, di mana lebih 766 penduduk Palestina dibunuh Israel, termasuk 146 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023. Lebih 5.600 penduduk Palestina terluka akibat kekerasan dan kejahatan tentara dan pemukim ilegal Israel.
Israel juga melakukan pembantaian di Lebanon, dengan rutin menyerang wilayah selatan Lebanon dan bahkan menyerang Beirut, ibu kota Lebanon. Israel membunuh 2.822 penduduk Lebanon dan lebih dari 12.937 terluka akibat serangan Israel sejak 8 Oktober 2023.
(T.FJ/S: The Cradle)