Ketika membicarakan Zionisme dan misi pendirian tanah air bagi orang Yahudi, pikiran kita hampir selalu tertuju pada pada Palestina. Para pendukung Zionisme mengklaim bahwa tanah Palestina saat ini adalah tanah air yang dijanjikan bagi mereka. Namun, ada satu fakta sejarah yang tak terelakkan, bahwa pada awal abad ke-20, gerakan Zionis pernah melirik wilayah Afrika Timur khususnya Uganda (saat ini mencakup wilayah Kenya) sebagai alternatif tanah air selain Palestina. Lantas, bagaimana akhirnya pendirian negara Yahudi tidak terwujud di Uganda, melainkan akhirnya di Palestina?
Mari kita simak sejarahnya!

Ide membangun tanah air Yahudi telah ada sejak akhir abad ke-19 yang dilatarbelakangi oleh berkembangnya pemikiran negara-bangsa di wilayah Eropa. Begitu pula pengaruh pemikiran ini sampai pada tokoh Zionis, terutama Theodor Herzl. Pada saat yang bersamaan, reaksi anti-Semitisme di Eropa Timur semakin mendorong orang-orang Yahudi untuk mendirikan suatu negara.[1] Tokoh Zionis, Theodor Herzl dari Austria, pernah mengajukan beberapa negara untuk dijadikan tanah air bagi etnis Yahudi di dunia, diantaranya Argentina dan Uganda. Pada 1897, diselenggarakanlah kongres Zionis perdana di Swiss yang melahirkan Program Basel. Dalam kongres ini, Herzl memaparkan rencananya, membentuk Organisasi Zionis Internasional, dan menyatakan tujuan gerakan Zionisme.[2] Sejak saat itu lah ide-ide dan pergerakan zionisme semakin berkembang.
Awal sekali di abad ke-20, tepatnya pada Juni 1902, Herzl meminta bantuan Joseph, Chamberlain, kepala Kantor Kolonial Inggris, untuk menjadikan wilayah Siprus atau El Arish di Mesir sebagai tempat tinggal Yahudi. Namun, kolonisasi wilayah Siprus gagal karena dikhawatirkan memicu konflik dengan penduduk Muslim dan Yunani. Begitu pula Proposal El Arish yang ditolak oleh Konsul Jenderal Inggris di Kairo, sebab khawatir memicu kemarahan Turki Utsmani. Herzl pun merasa putus asa, dan saat itulah Chamberlain mengajukan Uganda sebagai target berikutnya. Ia menuturkan,[3]
“Dalam perjalanan, saya melihat sebuah negara yang cocok untuk Anda, yakni Uganda. Di pesisir pantai panas, tetapi di pedalaman iklimnya sangat cocok untuk orang Eropa….Saya berpikir, itu adalah negara yang tepat untuk Dr. Herzl.”
Meski demikian, Chamberlain tahu bahwa Herzl sangat menginginkan Palestina untuk menjadi tempat migrasi Yahudi. Pada 18 April 1903, pecahlah bencana besar bagi Yahudi. Terjadi Progrom Kishinev atau kerusuhan anti-Yahudi di Rusia yang menyebabkan sekitar 45 Yahudi tewas, 600 orang terluka dan 1.500 rumah dijarah serta dihancurkan. Kebiadaban ini mendorong Herzl mempertimbangkan tawaran Chamberlain untuk menjadikan Uganda sebagai alternatif tempat tinggal Yahudi. Dengan demikian, Herzl menerima tawaran Uganda sebagai rumah bagi Yahudi.[4]
Inggris memiliki kepentingan strategis dan ekonomi di Afrika Timur, salah satunya melalui pendirian Imperial British East Africa Company (IBEAC). Namun, realitanya, IBEAC mengalami kegoncangan disebabkan karena ketidakstabilan keuangan perusahaan. Dana yang mereka miliki tidak mampu mengatasi keterbatasan infrastruktur, sehingga semua perdagangan dilakukan melalui tenaga manusia akibat kurangnya sungai yang dapat dilayari ke pedalaman. Manajemen mereka pun semakin memburuk. Utang juga meningkat, sehingga mendorong IBEAC mengumumkan status protektoriat Afrika Timur pada 15 Juni 1895[5] karena dianggap dapat menjadi solusi atas utang yang meningkat. Termasuk dalam hal ini memberikan protektorat kepada Zionis.
Selain kepentingan ekonomi, alasan Inggris membantu Zionis dalam menemukan tanah air juga dikarenakan tradisi panjang mereka yang menunjukkan kekaguman serta minat terhadap orang-orang Yahudi. Yudaisme dianggap selalu menempati tempat tertentu dalam imajinasi budaya Inggris. Pemerintah Inggris juga menampakkan keprihatinannya terhadap etnis Yahudi di Eropa Timur yang teraniaya terutama ketika Pogrom Kishinev.[6] Kebiadaban ini juga mendorong migrasinya ribuan orang Yahudi Eropa Timur ke Inggris yang justru memicu pula anti-Semitisme di sana. Maka dari itu, mendukung Zionisme juga berarti mengurangi jumlah imigran Yahudi di Inggris.[7]
Herzl sendiri memahami bahwa anggota gerakannya hanya menginginkan tanah Palestina. Namun, dirinya terpaksa menerima Uganda Scheme karena keadaan Yahudi di Eropa Timur yang semakin memburuk. Tujuan Herzl pada Uganda adalah sebagai alternatif migrasi massal Yahudi sebelum sampai ke Palestina. Ada diantara mereka yang setuju terhadap perpindahan sementara ke Uganda karena memang secara waktu, Palestina belum bisa menjadi tujuan yang dapat ditaklukkan dengan cepat. Salah satu Zionis terkemuka yang mendukung adalah Max Nordau yang menyampaikan pada anggota bahwa Uganda dapat menjadi tempat berteduh sementara bagi kaum Yahudi Rusia yang sudah tragis kehidupannya. Alhasil, pengajuan tersebut dipertimbangkan pada Kongres Zionis Keenam tahun 1903.[8]
Namun, banyak pula diantara mereka yang tidak setuju terhadap Skema Uganda ini. Penolakan atas rencana ini muncul pada 30 Juli 1905, tepatnya pada Kongres Zionis Ketujuh. Banyak anggota kongres menolak rencana tersebut karena dianggap mengkhianati Program Basel. Mereka menginginkan bahwa tujuan gerakan Zionis bukanlah demi meringankan penderitaan, tetapi untuk selalu berkonsentrasi pada tujuan akhir. Palestina dipilih karena memiliki signifinaksi historis dan spiritual bagi orang-orang Yahudi. Maka demikian, Skema Uganda untuk menjadi tanah air sementara kaum Yahudi merupakan ekspresi pertama terkait pengakuan internasional dalam proses mendirikan negara Yahudi, dan bukanlah Deklarasi Balfour pada 1917[9] yang menjadi puncak terwujudnya negara Israel.

Sejak 1903 hingga 1905, terjadi perdebatan sengit di internal gerakan Zionis tersebut, bahkan peta wilayah Afrika Timur telah ditampilkan di hadapan anggota kongres. Suara penolakan dominan, bahkan disuarakan oleh orang-orang Yahudi yang sedang ingin diselamatkan dari tempat yang telah menindasnya. Mereka tidak setuju jika Afrika Timur menjadi tempat tinggal selain wilayah Palestina. Hingga akhirnya, rencana Uganda gagal karena resmi ditolak pada Kongres Zionis Ketujuh tahun 1905 di Basel. Meski demikian, ada sekitar 28% anggota yang menolak kesimpulan kongres karena lebih mendukung skema Uganda tersebut. Mereka adalah para “penganut teritorial” yang tidak terlalu terpaku pada tanah Palestina sebagai tujuan utama mereka.
Gerakan teritorial ini dipimpin oleh Israel Zangwill dan Nahum Syrkin yang didukung oleh Lucien Wolf dan saudara Rothschild. Internal Zionis pun terpecah, sebab Zangwill kemudian mendirikan Jewish Territorial Organization (ITO) atau Organisasi Teritorial Yahudi yang bertujuan untuk menemukan tanah otonom bagi kaum Yahudi, yang tidak terpaku pada tanah Palestina seperti anggota Zionis arus utama. Sejak itu, gerakan Zionis menyebabkan kerugian politik akibat perbedaan tersebut.[10]
Usaha-usaha ITO menemukan kegagalan dalam memilih lokasi tinggal mereka. Ditambah ketika dikumandangkannya Deklarasi Balfour tahun 1917, yang menyatakan dukungan Inggris terhadap pendirian negara Yahudi di Palestina, membuat gerakan ITO tidak relevan lagi. Akhirnya, kegiatan ITO dihentikan pada 1925 yang menyebabkan sebagian anggotanya bergabung kembali ke arus utama gerakan Zionis.[11] Bersatunya kembali gerakan Zionis ini menjadi bagian dari jalan panjang menuju berdirinya negara Israel di tanah Palestina hingga hari ini.
Penulis: Nadea Salsabila Putri (Mahasiswi Prodi Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah)
Sumber:
[1] Mohamad Rezky Utama, “Zionisme Dan Identitas Keyahudian: Telaah Ashabiyyah Ibnu Khaldun,” Journal of Integrative International Relations 6, no. 1 (2021): 2.
[2] Fawzy Al-Ghadiry, Sejarah Palestina (Temanggung: Desa Pustaka Indonesia, 2020), 79–80; “Zionist Congress: First Zionist Congress & Basel Program (Agustus 1897),” Jewish Virtual Library, https://www.jewishvirtuallibrary.org/first-zionist-congress-and-basel-program-1897.
[3] Ervin Birnbaum, In The Shadow of The Struggle (Jerusalem: Gefen Pub. House, 1990), 40.
[4] Ibid.
[5] Michael S. Clinansmith, “The Uganda Offer, 1902-1905: A Study of Settlement Concessions in British East Africa,” Ufahamu: A Journal of African Studies 5, no. 1 (1974): 72.
[6] See Bar-Yosef, The Holy Land in English Culture 1799-1917 dalam Netta Cohen, “Shades of White: African Climate and Jewish European Bodies, 1903–1905,” The Journal of Imperial and Commonwealth History 50, no. 2 (2022): 300.
[7] Bar-Yosef dan Valman, The Jew’ in Late-Victorian and Edwardian Culture dalam See Bar-Yosef, The Holy Land in English Culture 1799-1917.
[8] Laura Almagor, “Jewish Territorialism and ‘Other Zions’,” in Routledge Handbook on Zionism (London: Routledge, 2024), 227.
[9] Birnbaum, In The Shadow of The Struggle, 41; Almagor, “Jewish Territorialism and ‘Other Zions’,” 227.
[10] Ari Z. Zivotofsky, “What’s The Truth About … The Uganda Plan?,” Jewish Action, https://jewishaction.com/jewish-world/history/whats_the_truth_about_the_uganda_plan/.
[11] Gur Alroey, “‘Zionism without Zion’? Territorialist Ideology and the Zionist Movement, 1882–1956,” Jewish Social Studies 18, no. 1 (2011): 17.