Gaza, NPC – Sebuah video yang dibagikan secara luas oleh saluran Telegram berbahasa Ibrani, pada Sabtu (08/06/2024), menunjukkan bahwa tentara Israel memanfaatkan dermaga buatan Amerika Serikat yang dipasang di Gaza Tengah sebagai bagian dari operasi penyelamatan berdarah yang mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 274 warga Palestina di kamp pengungsi Nuseirat, di mana 57 perempuan dan 64 anak-anak. Sementara itu, sebanyak tiga sandera lainnya tewas dalam serangan Israel, termasuk salah satunya bekewarganegaraan Amerika Serikat.
Lebih jauh lagi, menurut jurnalis Israel, Barak Ravid, unit khusus militer Amerika Serikat yang khusus menyelamatkan tawanan “mendukung upaya” yang menghancurkan kamp Nuseirat.
Beberapa media Israel melaporkan pada Sabtu sore bahwa unit pasukan khusus menembus jauh ke dalam kamp Nuseirat untuk menyelamatkan empat tawanan yang masih hidup di tengah pemboman besar-besaran oleh pesawat tempur Israel. Mereka kemudian diterbangkan keluar dari Gaza melalui dermaga buatan AS.
Pada hari Sabtu, tentara Israel mengumumkan bahwa mereka telah mulai “mengamankan wilayah pesisir dermaga Joint Logistics Over-the-Shore (JLOTS) militer AS di Gaza.”
Saat mengumumkan proyek tersebut awal tahun ini, Washington menyatakan bahwa dermaga terapung tersebut dibangun sebagai “koridor maritim” untuk menyalurkan bantuan yang sangat dibutuhkan ke Gaza. Meski demikian, kelompok perlawanan Palestina berulang kali memperingatkan bahwa dermaga terapung itu dibangun untuk mengirimkan senjata ke Israel.
“Dermaga ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan atas dukungan Washington terhadap negara penjajah (Israel) dengan senjata. Pembicaraan internasional dan regional tentang pemberian bantuan tidak memiliki dampak nyata terhadap krisis kelaparan di wilayah tersebut,” kata Hamas bulan lalu.
Kolumnis The Cradle, Suat Delgen, baru-baru ini mempertanyakan apakah dermaga yang dibangun AS ini dimaksudkan sebagai “manuver politik” Amerika Serikat.
“Kecurigaannya adalah bahwa proyek tersebut, meskipun seolah-olah ‘memfasilitasi’ pengiriman bantuan, mungkin juga memungkinkan peningkatan kendali atas keseluruhan Gaza dengan kedok bantuan kemanusiaan. Pengendalian ini berpotensi memperlancar operasi militer Israel dan memperkuat posisi strategisnya di Gaza, yang pada akhirnya mempengaruhi dinamika geopolitik konflik yang lebih luas,” kata Suat Delgen.
Sejak tanggal 7 Oktober hingga saat ini, dengan dukungan Amerika dan Eropa, tentara Israel masih terus melanjutkan agresi terhadap Jalur Gaza dan juga melakukan serangan di berbagai kawasan di Tepi Barat. Pesawat tempur Israel mengebom kawasan di sekitar rumah sakit, gedung, apartemen, dan rumah penduduk sipil Palestina. Israel juga mencegah dan memblokade masuknya air, makanan, obat-obatan, dan bahan bakar ke Jalur Gaza.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, pada Jumat (04/06), mengumumkan bahwa jumlah korban jiwa akibat pemboman Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 lalu telah meningkat menjadi 36.731 orang dan 83.530 lainnya mengalami luka-luka, di mana mayoritas korban korban jiwa pemboman Israel adalah anak-anak dan perempuan. Sekitar 11.000 orang hilang, diperkirakan meninggal dunia di bawah reruntuhan rumah yang dibom oleh Israel.
Sementara itu, berdasarkan laporan pihak berwenang Jalur Gaza dan organisasi internasional, lebih dari 85 persen atau sekitar 1,7 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza terpaksa harus mengungsi setelah kehilangan tempat tinggal dan penghidupan akibat pemboman Israel.