Rencana Israel untuk menduduki Gaza dalam waktu empat sampai lima bulan mendapat sorotan tajam dari analis militer dan internasional. Ambisi tersebut dinilai terlalu jauh dari kenyataan, mengingat catatan kegagalan Israel dalam memenuhi tenggat waktu operasi sebelumnya serta kerasnya perlawanan yang menghadang di lapangan.
Dengan kondisi medan pertempuran yang padat penduduk, taktik gerilya yang fleksibel dari kelompok perlawanan Palestina, ancaman hukuman yang terus menghantui para petinggi militer Israel, serta tekanan dunia internasional yang kian masif, menjadikan target pendudukan penuh atas Gaza lebih dipandang sebagai ilusi semata daripada rencana yang benar-benar bisa diwujudkan dalam waktu yang singkat.
Lantas, bagaimana Israel melancarkan rencana ambisiusnya, dan sejauh mana kenyataan di lapangan menentang rencana tersebut? Artikel ini membahas strategi Israel dalam upaya menduduki Gaza sekaligus mengungkap fakta-fakta yang menentang ambisi tersebut.
Rencana pendudukan Gaza yang digagas Israel menargetkan penguasaan penuh dalam 4–5 bulan, dengan fokus pada pendudukan Kota Gaza dan perluasan pusat distribusi bantuan tanpa campur tangan Hamas.[1] Untuk memperkuat langkah ini, dukungan politik menjadi kunci.
Pada Jum’at (8/8/2025), Kabinet Keamanan Israel menyetujui rencana pengambilalihan Kota Gaza, sehari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam wawancara dengan Fox News menyatakan niat Israel untuk menguasai Jalur Gaza secara menyeluruh.[2] Rencana yang disetujui melalui pemungutan suara mayoritas itu berisi lima tujuan utama: melucuti senjata Hamas, memulangkan seluruh sandera, demiliterisasi Jalur Gaza, mengambil alih kendali keamanan, serta membentuk pemerintahan sipil alternatif yang bukan berasal dari Hamas maupun Otoritas Palestina.[3]

Keputusan politik ini segera diikuti dengan langkah militer. Dalam kunjungannya ke Jalur Gaza pada Minggu (17/8/2025), Kepala Staf IDF Letjen Eyal Zamir mengumumkan bahwa militer telah menyetujui ‘rencana tahap perang selanjutnya’ untuk memperluas operasi melawan Hamas dengan menargetkan wilayah Gaza. Zamir menegaskan bahwa pasukan Israel akan mempertahankan dan meningkatkan momentum Operation Gideon’s Chariots yang diluncurkan Mei lalu, sambil memusatkan fokus pada pertempuran di Kota Gaza yang disebut Netanyahu sebagai “benteng terakhir Hamas.”[4]
Rangkaian langkah politik dan militer tersebut menunjukkan bahwa wilayah Gaza kini menjadi sasaran strategis Israel. Namun, di balik ambisi besar itu, tantangan di lapangan menandakan bahwa upaya pendudukan tidak akan berjalan mudah. Justru, rencana ini berpotensi membuka babak baru dalam dinamika perang yang lebih panjang dan kompleks.
Rencana Israel untuk menduduki wilayah Gaza dalam waktu empat hingga lima bulan dinilai tidak realistis dan sulit untuk diwujudkan. Analis militer Lebanon, Brigjen (Purn) Elias Hanna, menilai bahwa operasi berskala panjang seperti ini seringkali disusun sebagai strategi psikologis dan politik dalam konteks perang. Namun pada kenyataannya, rencana semacam itu jarang benar-benar berjalan sesuai jadwal dan sering mengalami hambatan. Brigjen Hanna juga menyoroti catatan kegagalan militer Israel yang sering melewati batas waktu operasi yang ditargetkan, termasuk tenggat pada 27 Oktober dan akhir Desember 2023 yang lalu. Tenggat itu mencakup penyelesaian pertempuran, pembebasan sandera, dan penguasaan seluruh wilayah Gaza.[5]

Ia juga mengutip pernyataan Kepala Staf IDF sebelumnya, Herzi Halevi, pada Desember 2023, yang menyebut bahwa pasukan Israel memerlukan waktu berbulan-bulan menguasai Kota Gaza, dan bahkan bisa sampai satu tahun untuk “membersihkan” seluruh wilayah.[6] Hal ini menunjukkan bahwa target empat hingga lima dinilai terlalu ambisius dan sulit diwujudkan. Apalagi, kondisi saat ini justru semakin tidak menguntungkan bagi militer Israel dan para petingginya yang tengah menghadapi tekanan dari dunia internasional dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terkait dugaan kejahatan perang di Gaza.
Operasi militer yang terus berlanjut semakin menguras kekuatan pasukan Israel, terlebih dengan perlawanan sengit dari kelompok perlawanan Palestina di berbagai titik pertempuran. Taktik yang digunakan kelompok perlawanan Palestina sangat fleksibel dan adaptif. Mereka menyesuaikan strategi sesuai manuver militer Israel dan perubahan situasi di lapangan. Di berbagai titik, perlawanan Palestina masih menunjukkan kekuatan, mulai dari Beit Hanoun dan Shuja’iyya hingga Khan Younis. Bahkan di kawasan perbatasan yang diklaim Israel sudah “aman,” pertempuran masih berlangsung. Lebih jauh, serangan roket masih diluncurkan dari Gaza ke wilayah Israel. Fakta ini menampilkan bahwa narasi Israel tentang penguasaan total hanyalah sebuah ilusi. Pada akhirnya, yang dicapai Israel bukanlah kendali menyeluruh, melainkan hanya pemecahan Gaza menjadi kantong-kantong wilayah tanpa kendali.
Oleh karena itu, rencana Israel untuk menduduki Gaza dalam waktu singkat lebih tampak sebagai ambisi politik dibandingkan strategi militer yang realistis. Hambatan di lapangan, perlawanan yang terus berlanjut, serta tekanan dunia internasional yang semakin masif membuat skenario pendudukan total hampir mustahil tercapai.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres “sangat khawatir” dengan keputusan Israel untuk mengambil alih Kota Gaza. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk dalam sebuah pernyataan juga menyampaikan “Rencana Militer Israel untuk mengambil alih Jalur Gaza sepenuhnya harus segera dihentikan karena bertentangan dengan putusan Mahkamah Internasional.”
Sekretaris Jenderal Amnesty Internasional Agnes Callamard mengatakan rencana Israel untuk mengambil alih Kota Gaza “sangat keterlaluan dan menjijikkan.” Ia menambahkan, “tidak ada yang dapat membenarkan kekejaman massal yang ditimbulkan oleh perluasan operasi militer Kota Gaza. Kami mengira telah menyaksikan babak paling kejam dan menyakitkan dari genosida ini melalui penggunaan kelaparan sebagai senjata dalam peperangan. Tetapi, rencana untuk meningkatkan operasi militer di Kota Gaza menunjukkan bahwa yang terburuk memang belum terjadi,” tambahnya.
Kepresidenan Palestina mengutuk pernyataan Netanyahu yang berencana mengambil alih kendali penuh atas Jalur Gaza. Hamas juga memperingatkan bahwa keputusan pemerintah Israel untuk meningkatkan perang di Gaza, sama saja dengan “mengorbankan” tawanan Israel yang ditahan di Gaza.
Berbagai negara di seluruh dunia dengan tegas mengutuk rencana Israel untuk mengambil alih Gaza. Di Asia, Tiongkok, Iran, Qatar, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Indonesia menyuarakan kecaman mereka. Di Afrika, Mesir juga menegaskan sikap yang sama. Di Eropa, Jerman, Italia, Inggris, Prancis, Belgia, Spanyol, Swedia, Finlandia, Denmark, dan Belanda menyatakan kecaman terhadap langkah militer Israel dan memperingatkan tentang ancaman kerusakan dan konflik yang semakin meluas. Dari Oseania, Australia dan Selandia Baru juga menyampaikan kecaman yang serupa, sementara dari Amerika Utara, Kanada juga menolak dengan tegas rencana ambisius tersebut.
Kecaman global ini menunjukkan bahwa ambisi Israel menghadapi tekanan diplomatik yang besar. Namun, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa “negara-negara di seluruh dunia yang mengutuk dan mengancam sanksi tidak akan melemahkan tekad kami.”[7]
Keputusan kabinet keamanan Israel untuk mengambil alih Kota Gaza memicu reaksi publik yang sangat besar di Tel Aviv. Seorang jurnalis Israel melaporkan kepada BBC bahwa ada “ketidakpuasan besar” di negara itu, yang mendorong masyarakat untuk turun ke jalan di puluhan lokasi pada malam hari untuk memprotes pemerintah.
Berbagai pihak menyuarakan kecaman, termasuk pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, yang menyebut keputusan itu sebagai “bencana”. Ia khawatir langkah ini akan menyebabkan lebih banyak kematian sandera dan tentara, serta “kehancuran politik”.[8]

Kesimpulan
Rencana Israel untuk menduduki Gaza dalam waktu singkat menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari medan pertempuran yang kompleks, katahanan kelompok perlawanan Palestina yang masih membara, hingga tekanan global yang semakin masif. Kenyataan ini menunjukkan bahwa Gaza bukanlah wilayah yang mudah ditundukkan, dan ambisi pendudukan penuh atas Gaza lebih tampak sebagai langkah politik, yang berusaha dibangun Israel untuk mengembalikan citra hegemonic-power di tengah masifnya pembatalan negara-negara dalam dukungan Israel, daripada strategi militer yang realistis.
Di tengah situasi sulit ini, dukungan internasional bagi rakyat Gaza sangat penting untuk memastikan perlindungan, bantuan kemanusiaan, dan hak-hak mereka tetap terjaga, sekaligus menegaskan bahwa warga Gaza berhak hidup aman dan merdeka di tanah mereka sendiri.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
[1] Nava Freiberg, Michael Bachner, dan Emanuel Fabian, “Gaza Takeover Plan Said Set to Last 4–5 Months, Focus on Gaza City, Strip’s Center,” The Times of Israel, August 8, 2025, https://www.timesofisrael.com/gaza-takeover-plan-said-set-to-last-4-5-months-focus-on-gaza-city-strips-center/.
[2] Madison Colombo, “Netanyahu Vows to Take Full Control of Gaza Strip, Liberate People from Hamas,” Fox News, August 7, 2025, https://www.foxnews.com/media/netanyahu-vows-take-full-control-gaza-strip-liberate-people-from-hamas.
[3] BBC Indonesia, “Israel Klaim Akan Kuasai Gaza, Dunia Internasional Mengecam,” BBC Indonesia, August 8, 2025, https://www.bbc.com/indonesia/articles/c2061vrl566o
[4] Emanuel Fabian, “Zamir says IDF approving plans for war’s next stage ahead of Gaza City offensive,” The Times of Israel , August 17, 2025, https://www.timesofisrael.com/zamir-says-idf-approving-plans-for-wars-next-stage-ahead-of-gaza-city-offensive/ .
[5] Pizaro Idrus, “Analis Militer: Rencana Israel Caplok Gaza Sulit Dilakukan,” Gaza Media, 18 Agustus 2025, https://gazamedia.net/analis-militer-rencana-israel-caplok-gaza-sulit-dilakukan/ .
[6] Emanuel Fabian, “IDF chief says Israel expanding ops in Gaza, warns war to last ‘many more months”, “The Times of Israel , Desember 26, 2023, https://www.timesofisrael.com/idf-chief-says-israel-expanding-ops-in-gaza-warns-war-to-last-many-more-months/ .
[7] Al Jazeera, “How the world is reacting to Israel’s plan to take over Gaza City”, Al Jazeera, August 8, 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/8/8/how-the-world-is-reacting-to-israels-plan-to-take-over-gaza-city .
[8] BBC Indonesia, “Israel Klaim Akan Kuasai Gaza, Dunia Internasional Mengecam,” BBC Indonesia, August 8, 2025, https://www.bbc.com/indonesia/articles/c2061vrl566o